“Bukalah Mata Saya, Supaya Saya Dapat Melihat Allah . . .”

Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah (Mat. 5:8). Jika untuk memiliki hati yang suci, sehat dan merdeka ada kaitannya dengan melihat Allah, apa artinya melakukan hal ini? Di mana saya dapat melihat-Nya? Kitab Suci menawarkan beberapa jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut.

1. Dalam suatu penglihatan (2 Raj 6:17; Kis. 7: 55-56).

2. Dalam ciptaan-Nya (Rm. 1:20)

3. Dalam pertumbuhan rohani (1 Kor. 1:30)

4. Dalam segala keadaan (Ef. 1:11.17-18; Rm. 8:28; Luk. 24: 13-35)

DALAM SUATU PENGLIHATAN

Marilah kita lihat 2 Raj. 6:17. Nabi Elisa suatu pagi dibangunkan oleh pelayannya dengan berita yang menakutkan: “Suatu tentara dengan kuda dan kereta telah mengepung kita pada waktu malam. Musuh tahu di mana kita berada dan pasti kita tidak dapat melepaskan diri. Celaka! Apa yang akan kita perbuat?”.

Betapa hebatnya ketakutan kita bila mengalami suatu hari dengan suatu ancaman bahaya. Saudara tahu bahwa hal itu membuat kita dapat bertanya dimanakah Allah? Bagaimana sang nabi menanggapi hal itu? Elisa kemudian berdoa untuk pelayannya itu,“Ya Tuhan, bukalah kiranya matanya supaya ia melihat”. Maka Tuhan membuka mata bujang itu sehingga ia dapat melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta api sekeliling Elisa. Dalam sekejab pandangan bujang itu berubah. Ketakutan menjadi iman, keraguan menjadi gairah, mengapa? Karena ia melihat Allah.

Stefanus adalah murid yang dapat saja marah kepada Tuhan. Stefanus telah menyerahkan hidup-Nya bagi Kristus dan demi pelayanan tubuh-Nya. Apa imbalan yang ia terima? Penghukuman, rajaman. Dapat saja dengan memandang malapetaka yang menimpa dirinya, ia kemudian marah kepada Allah. Dapat juga ia menyerah kepada keraguan dan keputusasaan. Tetapi apa yang terjadi? Sebaliknya Stefanus memelihara hatinya tetap suci dan “penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah” (Kis. 7: 55-56). Tuhan mengasihi Stefanus dan sedang menantikan kedatangannya dalam kemuliaan.

Bila kita ingin menjadi umat yang melihat Allah, salah satu yang harus kita lakukan adalah melihat dengan mata iman, untuk melihat Allah dan kuasa-Nya dalam hidup kita, dalam segala keadaan.

DALAM CIPTAAN

Kita dapat melihat Allah dalam ciptaan-Nya dengan jelas di dunia ini: “Sebab apa yang tidak tampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak pada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm. 1:20).

Tidak semua orang dapat melihat Allah dalam alam yang diciptakan-Nya. Orang dapat melihat curah hujan dan menggerutu: “Saya ingin matahari bersinar pada hari ini, saya benci hujan, mengapa ini harus terjadi? Orang yang lain lagi menganggap sinar matahari terlalu panas, bebannya tambah berat, hatinya menjadi marah. Tetapi orang yang melihat Allah dalam segala ciptaan menerima segala keadaan dengan penuh kekaguman dan syukur atas perbuatan tangan-Nya , yaitu lewat ciptaan-Nya.

DALAM PERTUMBUHAN ROHANI

Kita cenderung berpikir bahwa kita dapat bertanggung jawab atas pertumbuhan rohani kita, tetapi Allah berkata bahwa oleh Dia kamu berada di dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita (bdk. 1 Kor. 1:30). Pertumbuhan rohani melibatkan peningkatan kebenaran dalam hidup kita sehari-hari, yaitu pengudusan yang lebih besar dan menjauhkan diri dari dosa. Kita dapat mencoba dengan kekuatan sendiri, tetapi itu hanyalah pekerjaan yang sia-sia, jika terlepas dari Kristus.

Pertumbuhan rohani yang sejati adalah pertumbuhan dalam Kristus yang terjadi di dalam diri kita. Kita bertumbuh dalam kebenaran bila kita mengizinkan Dia berkarya dalam diri kita. Jadi kita dapat melihat Allah yang bekerja dalam diri kita dan menguduskan kita.

DALAM SEGALA KEADAAN

Ketika segalanya berlangsung baik, mudah sekali untuk melihat tangan-Nya yang bekerja dalam hidup kita. Tetapi bila kehidupan saudara hancur, melihat ketidakadilan di mana-mana, kejahatan merajalela, dosa yang membuat anda menderita, melihat tragedi-tragedi hidup, apakah saudara masih dapat percaya bahwa Allah masih memegang kendali? Apakah Ia masih tetap baik? Apakah saudara masih dapat melihat-Nya? Apakah tangan-Nya masih ada di atas hidup saudara? Rasul Paulus mengatakan: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia?” (Rm. 8:28). Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, rasul agung ini mengatakan: “Di dalam segala sesuatu Ia bekerja menurut kehendak-Nya” (Ef. 1:11).

Bagaimana saya dapat melihat Allah dalam segala keadaan kalau hati sedang hancur, kekuatan lenyap, bagaimana saya dapat melihat Allah? Hanya melalui wahyu, hanya oleh kasih karunia Allah kita dapat melihat adanya pengendalian Allah di tengah-tengah kekacauan, kasih di tengah-tengah keputusasaan, sukacita di tengah-tengah penderitaan. Kita harus datang kepada-Nya, menyerahkan seluruh diri kita dan berdoa supaya mata hati kita menjadi terang, sehingga kita dapat mengerti rencana Tuhan dalam kehidupan kita (bdk. Ef. 1:17-18).

Ketika dua murid berjalan ke Emaus (lh. Luk. 24: 13-35), hidup bagi mereka adalah kehilangan arti dan tujuannya. Tragedi telah menyerang, Yesus telah disalibkan, kejahatan telah menang, kasih yang menyembuhkan telah berhenti mengalir, kehidupan menjadi tanpa tujuan. Mereka tidak dapat lagi melihat Allah. Mereka hidup tanpa Kristus . . . tanpa pengharapan, dan tanpa Allah di dunia ini. Ketika mereka menyusuri jalan pulang yang panjang, mereka membicarakan malapetaka yang menimpa mereka. Mungkin mereka membicarakan keputusasaan dan kekecewaaan mereka. Bagaimanapun juga mereka selama ini berpikir bahwa Mesias telah datang untuk membebaskan mereka dari penindasan. Mereka telah meninggalkan rumah dan keluarga untuk mengikuti Dia. Pikir mereka, hal itu pasti sudah luar biasa, tetapi sebaliknya yang terjadi begitu mengerikan: Tidak ada Mesias! Hanya tahun-tahun kosong terbuang dengan sia-sia mengikuti suatu mimpi belaka.

Tiba-tiba Yesus sendiri mendekati mereka dan mulai berjalan bersama mereka. Tetapi mata mereka tidak dapat melihat atau mengenali Dia. Kita pun sering demikian. Yesus ada di samping kita, rindu untuk menghibur kita, untuk menyembuhkan kita. Tetapi kita telah dibutakan oleh kekecewaan, kehancuran, keraguan dalam diri kita. Dan Yesus berkata kepada kedua murid itu: “Apakah yang kamu percakapkan?”. Tentu saja Yesus mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Ia mengetahui segalanya. Lalu mengapa ia bertanya? Ia bertanya karena ingin memancing mereka untuk mengeluarkan pikiran-pikiran dalam hati mereka. Seringkali Yesus melakukan hal yang sama ketika berdialog dengan kita. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mungkin kita menanggapi dengan berkata: “Tetapi Engkau tahu jawabannya, mengapa Engkau masih menanyakannya kepada saya?”. Awal kesembuhan datang bila kita mencurahkan hati kita kepada Allah. Jangan takut atau malu untuk mengeluarkan pertanyaan dan kemarahan, keraguan dan ketakutan. Kita tidak akan mengejutkan atau menyinggung Dia. Ia ingin kita membawa segala sesuatu yang negatif di dalam hati kita kepada-Nya sehingga Ia dapat menjamah kita dan mengubahnya menjadi hal-hal yang positif dan indah.

Demikianlah kedua murid itu mencurahkan isi hati mereka kepada Yesus, yang kemudian menanggapi mereka dengan memberi penjelasan bahwa penderitaan akan membuka jalan kepada kemuliaan, dan menunjukkan melalui terang firman Tuhan bahwa tujuan Allah sedang digenapi, bahkan di tengah-tengah apa yang terlihat sebagai tragedi. Betapa Yesus rindu melakukan hal yang sama bagi kita semua. Ia rindu membuka mata kita sehingga kita dapat mengenali Dia di saat-saat yang gelap dalam kehidupan kita. Ia ingin menerangi hati kita, menggantikan ketakutan, rasa bersalah, kemarahan kita dengan iman, pengharapan dan kasih-Nya yang mulia.

Hanya Tuhan yang dapat mengubah hati kita. Hanya dengan datang kepada-Nya, kita akan sembuh. Pada waktu keadaan buruk dan kita bertanya apakah semuanya di luar kendali, Ia berkata: “Tenanglah, Aku duduk di atas tahta-Ku”. Apa yang kelihatannya sebagai malapetaka bagi kita, tidaklah demikian bagi-Nya. Kalvari bukanlah suatu kemenangan orang-orang jahat, sekalipun tampaknya demikian oleh mata jasmani, tetapi bukanlah demikian di mata Allah. Ia yang begitu ajaib, Ia dapat menjadikan suatu yang buruk menjadi suatu kebaikan bagi semua yang mengasihi-Nya, bagi kita semua.

Written by Sr. Maria Yoanita

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under Seri Kitab Suci

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s