BUNDA MARIA, SANG PENDOA SEJATI

MARIA SELALU BERSATU DENGAN ALLAH

Maria selalu bersatu dengan Allah dan dia menjadi model para pendoa. Marialah manusia di dunia ini yang paling dekat dengan Yesus. Maria memiliki relasi yang paling istimewa dengan Yesus, yang adalah Allah dan manusia. Maria mengandung, melahirkan, dan membesarkan Yesus sebagai Anak kesayangannya. Maria menyentuh, memandang, dan merasakan kehadiran Allah setiap saat dalam kehidupannya. Seluruh hatinya terarah kepada Allah. Walaupun begitu, banyak hal yang tak dapat dia mengerti, dan ia menyimpan semua itu dalam hati serta merenungkannya. Doa menuntut “suatu peringatan akan Allah, ingatan hati. Kita harus lebih sering mengenangkan Allah…”(Gregorius Nazianze). “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Suatu sikap keterarahan pada Allah. Apa pun yang terjadi, Allah selalu memandang kita dengan penuh kasih. 

Suatu sikap berjaga juga dimiliki oleh Bunda Maria, untuk menemukan sapaan Tuhan dalam segala peristiwa yang dialaminya. Apa yang hendak disampaikan Tuhan dalam segala peristiwa yang dialaminya? Suatu sikap menantikan Allah yang bersabda, “Apa kehendak-Mu, apa rencana-Mu di balik semua hal yang terjadi dalam hidup ini?” Maria menjadi pendengar Allah yang baik. Dengan iman ia mengamini kehendak Allah. Maria seorang wanita kontemplatif yang selalu memandang kepada Allah.

“Kontemplasi ialah memandang Yesus dengan penuh iman. ‘Aku memandang Dia dan Dia memandang aku,’ demikian kata-kata seorang petani dari Ars yang berdoa di depan tabernakel kepada pastornya yang saleh. Pandangan penuh perhatian kepada Yesus ini adalah penyangkalan ‘aku’, karena pandangan Yesus membersihkan hati. Cahaya wajah-Nya menyinari mata hati kita dan membiarkan kita melihat segala-galanya dalam sinar kebenaran dan belas kasihan-Nya terhadap semua orang. Kontemplasi memandang misteri kehidupan Kristus dan dengan demikian memperoleh ‘pengertian batin mengenai Tuhan’, untuk mencintai-Nya lebih sungguh dan mengikuti-Nya dengan lebih baik lagi” (Katekismus Gereja Katolik, no. 2715).

PERLUNYA KEHENINGAN DAN SIKAP DIAM UNTUK MENDENGARKAN ALLAH YANG BERSABDA KEPADA KITA

Dalam doa batin yang tanpa banyak kata, Allah seringkali berbicara tentang kehidupan kita sehari-hari dan mengajak kita untuk melihat segala yang kita alami dalam terang kehidupan Kristus. Dengan demikian, kita memperoleh cahaya dan bimbingan untuk mengikuti teladan-Nya. Dari permenungan hidup Kristus dan hidup kita sendiri, kita diberi rahmat untuk dapat menyesuaikan hidup kita dengan hidup-Nya, kehendak kita dengan kehendak-Nya.

Demikian juga Maria. Dalam hidupnya ia memandang setiap peristiwa dari kacamata Allah. Iman Maria begitu hidup. Dalam keheningan batinnya Maria merasakan kehadiran-Nya. Dalam keheningan batinnya, hati Maria dikobarkan oleh api Roh Kudus untuk dapat mengasihi Allah dan menyenangkan hati-Nya. Dan, dalam keheningan batinnya Maria merasakan kobaran cinta Allah, sehingga ia dengan setia mau mengikuti kehendak dan rencana-Nya. Satu saja kerinduan Maria: mencintai Allah di atas segalanya, dan melakukan kehendak-Nya. Ketika Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, dalam ketaatan iman ia menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).

Alangkah besar kekuatan doa batin yang kita jalankan dengan tekun dan setia. Dalam berdiam diri, terletak kekuatan kita, ada pepatah mengatakan “diam adalah emas”. Berdiam diri menantikan Tuhan. Berdiam diri dalam keheningan adalah suatu sikap yang berharga seperti emas yang berharga. Sebab, dalam keheningan dan berdiam diri itu Allah menyampaikan sabda-Nya. Nabi Elia menemukan Tuhan dalam angin sepoi-sepoi basa. Tidak ada Tuhan dalam gempa dan angin badai, tetapi Tuhan ditemukan dalam keheningan dan ketenangan, dalam angin sepoi-sepoi basa (lih. 1Raj. 19:9-14). Allah akan sulit bersabda kepada kita bila mulut, pikiran, dan hati kita begitu ribut dengan macam-macam hal, sedangkan dalam sikap silentium atau dalam keheningan, Allah dapat berbicara kepada jiwa kita.

“Doa batin ialah berdiam diri. […] Dalam doa batin tidak dibutuhkan kata-kata yang panjang lebar; kata-kata adalah seumpama ranting-ranting kering yang dimakan api cintakasih. Dalam suasana diam yang tidak dapat ditahan manusia “lahiriah”, Bapa menyampaikan kepada kita, Sabda-Nya yang menjadi manusia, yang menderita untuk kita, yang mati dan bangkit lagi; Roh keputeraan memungkinkan kita mengambil bagian dalam doa Yesus” (Katekismus Gereja Katolik, no. 2717).

DOA DALAM KEGELAPAN IMAN

Maria senantiasa berjaga dalam doa batin, dalam malam iman, dan dalam hidup yang diwarnai oleh salib-salib kehidupan. Ia berjaga bersama Puteranya dalam malam yang gelap itu. Malam yang membawa persatuan yang erat dan murni dalam relasi cintakasih dengan Allah. Malam iman yang membutuhkan ketekunan, ketabahan, kesabaran, kepasrahan total kepada kehendak Allah. Dalam keheningan dan dalam sikap pengosongan diri yang total bagi Allah, Maria menantikan Tuhan agar Dia saja yang memenuhi batinnya dengan kehadiran dan cinta-Nya. Sekalipun Allah tersembunyi di balik malam yang pekat itu, sesungguhnya Dia tetap hadir. Ia Mahahadir dengan rencana-Nya yang terbaik, rencana keselamatan, yang seringkali tak terpahami oleh budi manusia yang begitu terbatas. Dalam malam-malam yang gelap itu jiwa Maria selalu mengatakan, “Terjadilah kehendak-Mu!”

MARIA MENGALAMI MALAM GELAP DALAM PERISTIWA-PERISTIWA HIDUPNYA: 

* Ketika Maria menerima kabar dari malaikat bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus (lih. Luk. 1:26-38). Maria mengalami ketidakmengertian dan kegelapan iman, namun Maria tetap percaya kepada Allah.

* Maria harus mengungsi ke Mesir bersama Yosef untuk menyelamatkan kanak-kanak Yesus dari ancaman Raja Herodes yang mau membunuh kanak-kanak Yesus (lih. Mat. 2:13-15). Maria dan Yosef berjalan melintasi padang pasir untuk sampai ke Mesir, hawa panas dan dingin menyertai perjalanan mereka yang panjang dan meletihkan.

* Maria mengalami malam gelap ketika Yesus hilang di Bait Allah. Pada saat itu Yesus memberikan jawaban kepada ibu-Nya yang cemas: ”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa aku harus berada di rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:49) Jawaban ini lebih membingungkan daripada menjelaskan.

* Dalam peristiwa pernikahan di Kana. Sesudah Maria memberitahukan bahwa mereka kehabisan anggur, Yesus menjawab, “Perempuan, mau apakah engkau daripada-Ku?” (Yoh. 2:4)

* Betapa sedih hati seorang ibu yang bertemu dengan anaknya lalu mendengar jawaban ini, “Siapa ibu-Ku?” (Mrk. 3:33)

* Di Golgota, Maria mengalami malam yang gelap gulita, (lih. Yoh. 19:25-27) karena ia kehilangan Anaknya, Yesus, yang memberi arti bagi hidupnya. Maria kehilangan Allah. Malam yang sangat pekat, kesepian yang amat hebat.

Doa membutuhkan perjuangan pada saat-saat yang sulit dan gelap dalam kehidupan kita. Ketika kekeringan melanda doa kita, ketika beban hidup terasa menghimpit kita, ketika Tuhan terasa tak ditemukan dalam doa, ketika doa-doa kita belum atau tidak terjawab, ketika Allah sekan-akan diam dan membisu seribu bahasa terhadap seruan-seruan kita, ketika Allah terasa jauh, tampak nyata bahwa doa membutuhkan perjuangan, ketekunan, kesabaran, dan iman yang besar.

“Doa adalah anugerah rahmat dan satu jawaban tegas dari pihak kita. Ia selalu menuntut satu usaha. Pendoa-pendoa dari Perjanjian Lama sebelum Kristus, demikian juga Bunda Allah dan para kudus serta Yesus sendiri mengajarkan kita bahwa doa berarti berjuang. Melawan siapa? Melawan kita sendiri dan melawan tipu muslihat penggoda yang melakukan segala-galanya untuk mencegah manusia dari doa, dari persatuan dengan Allah. Kita berdoa sebagaimana kita hidup, karena kita hidup sebagaimana kita berdoa. Siapa yang tidak selalu mau bertindak dalam semangat Kristus, ia juga tidak bisa terbiasa untuk berdoa dalam nama-Nya. ’Perjuangan rohani’ dari kehidupan baru seorang kristen tidak bisa dipisahkan dari perjuangan doa” (Katekismus Gereja Katolik, no. 2725).

BERDOA BERARTI MENGANDALKAN TUHAN

Seorang yang berdoa adalah seorang yang memiliki semangat “miskin dalam roh” dan sikap mengandalkan Tuhan dalam setiap saat kehidupannya. Seperti perumpamaan pokok anggur yang benar dalam Injil Yohanes, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15: 4-5). Setiap orang yang berdoa dan mengandalkan Tuhan, ia seperti pohon yang ditanam dekat aliran air hidup yang daunnya tetap hijau dan tidak berhenti menghasilkan buah. Seperti dikatakan oleh Nabi Yeremia, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (bdk. Yer. 17:7-8).

DOA ITU SELALU MUNGKIN

Apakah Anda seorang ibu rumah tangga, seorang pengusaha, seorang pedagang, atau seorang religius, siapa pun Anda, berdoa itu selalu mungkin, terlebih dengan doa batin yang disebut dengan “doa nama” atau “doa Yesus”. Dalam kesibukan kita sehari hari, melalui penyeruan nama Yesus yang diulang-ulang dalam hati sesuai ritme pernafasan kita, hati dan jiwa kita terangkat kepada-Nya dan tinggal dalam hadirat-Nya,

Jadi, ”Doa itu selalu mungkin. Saat orang kristen adalah saat Kristus yang bangkit yang berkata kepada kita: ’Aku menyertai kamu senantiasa’ (Mat. 28:20), betapapun besarnya angin ribut. Saat kita ada dalam tangan Allah” (Katekismus Gereja Katolik, no 2743).

“Malahan di pasar atau waktu berjalan-jalan dalam kesunyian, kamu dapat sering dan dengan rajin berdoa. Juga apabila kamu duduk di dalam perusahaan, atau waktu menjual dan membeli, malahan juga waktu kamu memasak.” (Yohanes Krisostomus)

DOA ITU MUTLAK PERLU

“Siapa berdoa, pasti diselamatkan; siapa tidak berdoa, pasti mengutuki diri sendiri” (Alfonsus Liguori). Hal senada dikatakan dalam Kisah Para Rasul bahwa barangsiapa berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan (lih. Kis. 2:21). Setiap orang yang berseru kepada Tuhan tidak akan dikecewakan, lebih-lebih saat kita berusaha mengabdi Tuhan dan ditimpa macam-macam pencobaan hidup. Tuhan selalu setia dan Ia menghibur kita dengan sabda-Nya seperti dikatakan Kitab Yesus bin Sirakh,

“Anakku, jikalau engkau bersiap untuk mengabdi kepada Tuhan, maka bersedialah untuk pencobaan. Hendaklah hatimu tabah, dan jadi teguhm, dan jangan gelisah pada waktu yang malang. Berpautlah kepada Tuhan, jangan murtad dari pada-Nya, supaya engkau dijunjung tinggi pada akhir hidupmu. Segala-galanya yang menimpa dirimu terimalah saja, dan hendaklah sabar dalam segala perubahan kehinaanmu. Sebab emas diuji dalam api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan. Percayalah pada Tuhan maka Iapun menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya. Kamu yang takut akan Tuhan nantikanlah belas kasihan-Nya, jangan menyimpang, supaya kamu jangan terjatuh. Kamu yang takut akan Tuhan percayalah kepada-Nya, niscaya kamu tidak akan kehilangan ganjaranmu. Kamu yang takut akan Tuhan, harapkanlah yang baik, sukacita kekal, dan belaskasihan. Pandanglah segala angkatan yang sudah-sudah dan perhatikanlah: Siapa gerangan percaya kepada Tuhan lalu dikecewakan, siapa bertekun dalam ketakutan kepada-Nya telah ditinggalkan-Nya, atau siapa berseru kepada-Nya lalu tidak dihiraukan oleh-Nya? Memang Tuhan adalah penyayang dan pengasih, Ia mengampuni dosa dan menyelamatkan pada saat kemalangan” (Sir. 2:1-11).

Bunda Maria teladan kita dalam berdoa, Maria berdoa dengan penuh iman dan pengharapan. Ketika Maria menerima kabar malaikat Gabriel, dan ia tidak mengerti peristiwa yang akan dialaminya ia berkata: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34) Pertanyaan Maria dijawab oleh malaikat: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (Luk. 1 :35). Dengan keyakinan iman bahwa Roh Kudus sendiri yang akan bekerja dalam dirinya Maria juga percaya kepada kemahakuasaan Allah. Ia percaya akan perkataan Gabriel, “[…] bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).

“Tidak ada suatu apa pun yang lebih bernilai daripada doa; doa membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan yang berat menjadi ringan… Seorang manusia yang berdoa, tidak mungkin berdosa” (Yohanes Krisostomus, Anna 4, 5).

HUBUNGAN ANTARA HIDUP SEHARI-HARI DENGAN DOA

Allah menunggu di pintu hati kita setiap saat. Dia menunggu agar kita membuka hati kita. Ada lukisan yang menggambarkan Yesus sedang mengetuk pintu, tetapi grendel (dan lubang kunci) pintu itu tidak terlihat dari luar. Itu mengandaikan bahwa pintu hati kita harus dibuka dari dalam. Ini berarti bahwa Yesus menantikan jawaban kita untuk menjawab undangan kasih-Nya. Seperti dikatakan Kitab Wahyu, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Why. 3:20).

Kita diberi waktu 24 jam setiap hari. Allah ingin kita selalu tinggal bersama-Nya selama 24 jam dan menjadikan hidup kita suatu doa yang terus-menerus, doa yang tak kunjung putus. Bagaimana itu mungkin? Origenes menerangkan hal ini kepada kita, “Orang yang menghubungkan doanya dengan perbuatan, dan perbuatannya dengan doa, dia berdoa tanpa henti-hentinya. Hanya dengan demikian kita dapat yakin bahwa prinsip untuk berdoa setiap saat, dapat terlaksana.”

Seperti Bunda Maria bersama para rasul dengan tekun berdoa menantikan Roh Kudus, kita pun sebagai anak-anak Maria, berdoa mohon kedatangan Roh Kudus yang akan mengajar kita berdoa, sebab kita tidak tahu bagaimana harus berdoa, namun Roh Kudus membantu kita dalam kelemahan kita untuk berdoa sesuai dengan kehendak Allah. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengatakan, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm. 8:26).

DOA PUJIAN DAN SYUKUR MARIA KEPADA ALLAH

Maria dalam luapan sukacita Roh Kudus menyadari kekecilannya. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba Tuhan, namun Allah yang Mahakuasa dan Mahatinggi itu memerhatikan kerendahan hamba-Nya dan melakukan perbuatan besar dalam dirinya. Dengan hati penuh syukur, Maria melambungkan pujian kepada Allah yang begitu mengasihinya. Dalam sukacita Roh Kudus Maria mengidungkan Magnificat.

“Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memerhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memerlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” (Luk. 1:46-55)

Roh Kudus juga mengajak kita untuk merenungkan kebaikan dan kasih Allah dalam hidup kita, melihat karya keselamatan Allah dalam hidup kita, memuji Allah, dan bersyukur kepada-Nya atas perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya dalam hidup kita. Maka, bersama Maria marilah kita melambungkan kidung Magnificat setiap hari dalam hidup kita.

MARIA BERKATA KEPADA KITA HARI INI: 

“‘Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.’(Luk. 1:38) Dan dengan kata-kata itu, ia mengungkapkan apa yang menjadi sikap fundamental dari hidupnya: imannya! Maria percaya! Ia menaruh kepercayaan kepada janji-janji Allah dan setia kepada kehendak-Nya. Ketika Malaikat Gabriel mewartakan bahwa ia dipilih untuk menjadi Bunda Yang Mahatinggi, ia memberikan “fiat”nya dengan rendah hati dan dengan kebebasan penuh” (Ungkapan hati dari Paus Yohanes Paulus II tentang Maria, Margareth R. Bunson, Obor 2004).

Sharing: 
* Bagaimana kehidupan doa Anda selama ini? Sudahkah doa-doa itu membawa perubahan dalam kehidupan Anda? Bagaimana pula perjuangan Anda dalam usaha mengembangkan kehidupan doa tersebut? Sharingkanlah pengalaman Anda dalam sel.
* Menurut Anda, cara apa yang baik untuk terus dapat mengarahkan hati kita kepada Tuhan? Bagaimana pula jika doa-doa menjadi kering dan tidak bersemangat? Apa yang perlu dilakukan agar hubungan dengan Tuhan tetap terjalin dengan baik? Sharingkanlah pendapat dan pengalaman Anda


Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s