Apakah Engkau Sungguh Mencintai Aku ?

Dalam keheningan kontemplasi yang aku lakukan, aku mendengar suara Tuhan bertanya padaku : “Apakah kamu mencintaiKu ?”. Aku menjawab “Tentu saja Tuhan !! Engkau adalah Tuhanku dan Juru SelamatKu !!”.

Lalu Dia bertanya “Jika kamu cacat fisik, apakah kamu masih tetap mencintaiKu ?” Aku terpana. Lalu aku melihat tanganku, kakiku, anggota-anggota tubuhku yang lainnya dan berpikir mengenai banyak hal yang tak mungkin kulakukan bila aku cacat fisik. Hal-hal yang kuanggap sesuatu yang sudah sewajarnya dapat aku lakukan.

Lalu aku menjawab “Itu akan menjadi hal yang sulit Tuhan, tetapi aku akan tetap mencintaiMu”.

Kemudian Tuhan bertanya lagi “Jika kamu buta, apakah kamu akan tetap mencintai ciptaan-ciptaanKu ?” Bagaimana mungkin aku mencintai sesuatu tanpa mampu melihatnya ? Lalu aku berpikir mengenai semua orang buta di dunia ini. Dan betapa banyak dari mereka yang masih mencintai Tuhan dan ciptaan-ciptanNya. 

Lalu aku menjawab “Aku sulit membayangkannya Tuhan, tapi aku akan tetap mencintaiMu”

Tuhan bertanya lagi “Jika kamu tuli apakah kamu akan tetap mendengarkan perkataan-perkataanKu ?” Bagaimana mungkin aku mendengarkan sesuatu jika aku tuli ? Kemudian aku mengerti bahwa mendengarkan perkataan-perkataan Tuhan tidak hanya dengan menggunakan telinga kita, tetapi kita menggunakan hati.

Aku menjawab “Itu akan menjadi hal yang sulit Tuhan, tetapi aku akan tetap mendengarkan perkataan-perkataanMu”.

Tuhan bertanya kembali “ Jika kamu bisu, apakah kamu tetap memuji namaKu ?” Bagaimana mungkin aku memuji tanpa suara ? Lalu aku menyadari bahwa Tuhan mau kita memuji dari hati dan jiwa kita. Betapapun indahnya suara kita tidak pernah menjadi masalah. Memuji Tuhan tidak hanya dengan nyanyian, melainkan saat kita mengalami cobaan, kita tetap memuji Tuhan dan berterima kasih atas berkat-berkatNya.

Jadi aku menjawab “Meskipun aku tidak dapat menyanyi, aku akan tetap memuji namaMu”.

Lalu Tuhan bertanya “ Apakah kamu sungguh-sungguh mencintaiKu ?” Dengan penuh keberanian dan keyakinan aku menjawab “Ya Tuhan !! saya mencintaiMu karena Engkau satu-satunya Tuhan yang benar”.

“Lalu mengapa engkau berbuat dosa” Aku menjawab “Karena aku hanyalah seorang manusia, aku tidak sempurna”.

“Lalu mengapa pada saat-saat damai engkau menjauh ?? Mengapa hanya pada saat menghadapi masalah engkau berdoa dengan sungguh-sungguh ?”

Tidak ada jawaban. Hanya ada air mata.

Tuhan lalu melanjutkan “Mengapa hanya bernyanyi pada saat persekutuan dan retret ?? Mengapa mencariKu hanya pada saat penyembahan ?? Mengapa meminta dengan egois ?? Mengapa meminta tanpa didasari Iman ??”

Air mata terus membasahi pipiku.

“Mengapa kamu malu terhadapKu ?? Mengapa kamu tidak menyebarkan Injil ?? Mengapa pada saat mengalami percobaan kamu berpaling pada sesama ketika Aku menawarkan Diriku sebagai tempat berpaling ?? Mengapa membuat alasan-alasan saat Aku memberimu kesempatan untuk melayaniKu ??”

Aku mencoba menjawab, tetapi tidak ada jawaban yang dapat diberikan.

“Kamu telah dianugerahkan hidup. Aku menciptakanmu bukan untuk menyia-nyiakan anugerah itu. Kamu telah dianugerahkan bakat-bakat untuk melayaniKu, tetapi kamu terus berpaling dariKu. Aku telah menyampaikan perkataan-perkataanKu kepadamu, tetapi kamu tidak mendapatkan pengajaran. Aku telah menunjukkan berkat-berkatKu kepadamu, tetapi maatamu tidak tertuju kepadaKu. Aku telah mendengar doa-doamu dan Aku telah menjawab semua doamu.

APAKAH KAMU BENAR-BENAR MENCINTAIKU ??”

Aku tidak dapat menjawab. Bagaimana mungkin aku dapat ? Aku merasa amat malu. Aku tidak mempunyai alasan lagi. Apa yang dapat aku katakan tentang hal ini ?

Ketika hatiku telah selesai menangis, aku berkata “Mohon ampuni saya Tuhan, saya tidak layak untuk menjadi anakMu”.

Tuhan menjawab “Itulah kasih karuniaKu, anakKu”.

Aku bertanya “Lalu mengapa Engkau terus menerus mengampuniku ?”

Jawab Tuhan “Karena engkau adalah ciptaanKu. Kamu adalah anakKu. Aku tidak pernah mengabaikanmu. Saat engkau menangis, Aku ikut sedih dan menangis bersamamu. Saat engkau berteriak dalam kegembiraan, Aku ikut tertawa bersamamu. Saat engkau berputus asa, Aku akan menyemangatimu. Saat engkau lelah, Aku akan menopangmu. Aku akan bersamamu setiap saat dan Aku akan mencintaimu selamanya”.

Belum pernah aku menangis sekeras ini. Bagaimana mungkin aku telah berlaku sebegitu dingin padaNya ? Bagaimana mungkin aku telah menyakiti Tuhan sedemikian rupa ? Aku bertanya kepada Tuhan “Seberapa besar kasihMu padaku Tuhan ?”

Tuhan lalu membentangkan kedua tanganNya. Dan mataku terpaku di kayu salib. Aku berlutut dikaki Tuhan, Juru Selamatku.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar berdoa.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s