Sakramen Baptis / Permandian, Artikel 3

artikel 3. Baptisan Bayi

Banyak sekali saudara/i kita dari Gereja Protestan yang tidak dapat menerima praktek babtisan bayi. alasan yang sering diajukan antara lain: Babtisan memerlukan pertobatan dan iman (anak kecil dan bayi tidak bisa) juga yang sering juga diajukan adalah tidak adanya dasar alkitab bagi babtisan bayi.
Perlu kita ketahui bahwa babtisan bayi lebih merupakan Tradisi Apostolik, dan kita ketahui bahwa dasar Iman Katolik tidak hanya Alkitab tetapi juga Tradisi Apostolik dan Magisterium (lebih jelasnya lihat artikel Apakah hanya alkitab dasar iman kita?). Jika kita ingin mencari babtisan bayi dalam kita suci hal itu sulit didapat karena dalam Kitab Suci tidak diungkapkan secara eksplisit mengenai babtisan bayi tetapi tidak ada larangan agar anak-anak(bayi) dibabtis. Kita tahu bahwa babtisan itu melahirbarukan dan menghapus dosa asal  (lihat artikel Sakramen Babtis) oleh karena itulah Gereja tidak melarang bayi dibabtis. Lalu bagaimana dengan iman anak?? jawaban yang mudah adalah bahwa perkembangan iman anak adalah tanggung jawab orang tua karena itu janji mereka ketika menikah untuk membesarkan anak-anak dalam iman katolik (tidak mungkin ada orang tua yang mau anaknya berbeda iman dengannya).
Sekarang kita mencoba mereview Kitab Suci. dalam Kis 2:38-39 dikatakan “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ ” disini jelas sekali ungkapan Petrus bahwa kita perlu bertobat dan dibabtis yang akhirnya kita mendapat buah dari babtisan itu yaitu menerima Karunia Roh Kudus (ayat 38) dan janji itu berlaku pula untuk anak-anak (bayi juga termasuk anak-anak) (ayat 39) tentunya juga dengan melakukan hal yang sama yaitu dibabtis. Bila kita melihat dalam Perjanjian Lama dimana kita tahu bahwa bayi harus disunat (padahal mereka tidak tahu apa-apa soal iman) lihat pada Kej 17:12, Im 2:21, Luk 2:21 lalu pada Kolose 2:11-12 “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa,  karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” disin jelas bahwa Paulus mempararelkan antara Sunat (Ayat 11) dengan Babtisan (ayat 11b-12) kita tahu bahwa hukum sunat berlaku juga untuk anak (bayi) berarti babtispun demikian. lalu dalam Kis16:15,33 dikatakan “ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya” (ayat 15) dan “Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.” (ayat 33) dari kedua ayat ini tidak tertutup kemungkinan akan adanya bayi dan ikut dibabtis karena pada ayat itu maupun sebelum atau sesudahnya tidak ada kata “kecuali bayi atau anak-anak”. Pada abad ke II sudah ditemukan Babtisan bayi seperti St. Polikarpus, misalnya, dibunuh sebagai martir pada tahun 155 M. Pada saat penguasa Romawi memaksa Polikarpus untuk menyangkal Yesus Kristus dan untuk menyembah kaisar Roma, ia berseru demikian, “Delapan puluh enam tahun saya menjadi hamba-Nya, dan Ia tidak pernah berbuat yang tidak baik kepadaku, bagaimana mungkin saya dapat menghojat Rajaku yang telah menebusku?” Kesaksian ini berarti bahwa Polikarpus dibaptis sejak ia masih bayi atau kanak-kanak, yakni sekitar tahun 70-an. Hal ini tidak benar hanya jika Polikarpus sudah mencapai usia yang amat tinggi pada tahun 155 M itu, sehingga 86 tahun sebelumnya ia sudah dewasa dan baru dibaptis waktu itu.
Berikut kesaksian para Bapa Gereja tentang Babtisan Bayi:

  • “For He [Jesus] came to save all through means of Himself-all, I say, who through Him are born again to God,-infants, and children, and boys, and youths, and old men” (St. Irenaeus, Against Heresies, 2, 22, 4)
  • “The Church received from the Apostles the tradition [custom] of giving Baptism even to infants. For the Apostles, to whom were committed the secrets of divine mysteries, knew that there is in everyone the innate stains of sin, which must be washed away through water and the Spirit” (Origen, Commentary on Romans 5, 9).
  • “This [infant baptism] the Church always had, always held; this she received from the faith of our ancestors; this she perseveringly guards even to the end” (Augustine, Sermon. 11, De Verb Apost)
  • “Who is so impious as to wish to exclude infants from the kingdom of heaven by forbidding them to be baptized and born again in Christ?” (Augustine, On Original Sin 2, 20).
  • Now they were bringing even infants to him that he might touch them; and when the disciples saw it, they rebuked them. But Jesus called them to him, saying, ‘Let the children come to me, and do not hinder them; for to such belongs the kingdom of God’ (Lk 18:15-16). In the early Church this passage was understood as a command to bring the infants to Christ for Baptism. The very first time this passage shows up in Christian literature (c. 200), it is used in reference to Infant Baptism (Tertullian, De Baptismo 18:5).
Thomas Rudy
Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Katekese

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s