Pesona Kitab Suci: SUAM-SUAM KUKU

(Why. 3:14-20)

” Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak
panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (ayat 15 – 16)

Sangat mengherankan bahwa Ia berkata: “Aku ingin kamu dingin”. Bagaimana mungkin lebih baik menjadi dingin, yaitu kehilangan rahmat dari pada suam-suam kuku? Alasannya yaitu jika kamu dingin maka suara hatimu dapat digerakkan untuk mengadakan perbaikan, sedangkan orang yang suam-suam kuku akan tetap tidur nyenyak meskipun mereka berdosa dan tidak berpikir untuk berubah, sehingga harapan tipis bahwa mereka akan memperbaiki diri. Karena sekali semangat mulai luntur dan berbalik menjadi suam-suam kuku, maka masa depan pun menjadi suram. 

Ada dua jenis “suam-suam kuku”:

1. Yang pertama ini tidak dapat dihindari bahkan oleh para kudus sekalipun selama masih hidup. Misalnya beberapa kesalahan tanpa kita menghendakinya karena kesalahan itu akibat dari kelemahan manusia. Misalnya: pengalihan perhatian waktu doa, obrolan yang tidak berguna, sifat ingin tahu yang tidak berguna, keinginan untuk tampil gemilang, memilih dalam hal makan-minum, rangsangan seksual, dll. Dalam hal ini kita perlu menghindarinya sejauh kita bisa, tetapi karena kodrat kita diperlemah oleh dosa, tidak mudah untuk menghindarinya secara total. Bila kita menyerah pada kesalahan-kesalahan ini, kita harus menyesal karena kurang menyenangkan Allah, tetapi janganlah kita merasa terlalu diganggu olehnya. Santo Fransiskus dari Sales menulis demikian: “Pikiran yang menyebabkan kita gelisah tak dapat datang dari Tuhan Sang Raja Damai, melainkan dari roh jahat cinta diri atau datang dari pendapat yang berlebihan tentang diri kita sendiri.” Lebih lanjut, Santo Fransiskus dari Sales mengatakan, “Kesalahan yang dibuat tidak dengan sengaja dihapus dengan cepat oleh tindakan penyesalan atau sebuah tindakan cinta.” Atau, seperti yang dikatakan oleh Konsili Trente, “Ekaristi sebagai penangkal yang membebaskan kita dari dosa harian.” Walaupun semua itu kesalahan, namun mereka tidak menghalangi kita dari kesempurnaan, karena tidak seorang pun sempurna sebelum mencapai Kerajaan Surga.

2. Jenis “suam-suam kuku” yang kedua yang membuat kita lambat di jalan menuju kesempurnaan adalah jenis dosa ringan yang sebenarnya dapat dihindari, namun dengan sengaja dilakukan. Contoh jenis kesalahan ini adalah berdusta dengan sengaja, mengeluh, mengutuk, saling mengolok, menyombongkan diri atau dendam, membenci, dan bersungut-sungut. Dalam hal ini Santa Teresa Avila menggambarkan kesalahan tersebut sebagai ulat kecil, yang baru kita rekam sesudah mereka meruntuhkan kesucian kita. Ia mengingatkan kita bahwa iblis dapat menggunakan hal yang kecil, yang kurang kita perhatikan untuk membuat celah yang akhirnya dapat menjadi jalan masuk bagi dosa besar. Dia menasihatkan kita supaya berhati-hati mengenai kesalahan yang disengaja itu. Jangan-jangan dengan kesalahan itu Tuhan tidak memberikan cahaya dan pertolongan, dan menarik kembali penghiburan rohani dari kita. Itulah sebabnya banyak orang merasa kewajiban rohani sebagai sesuatu yang menjemukan dan penuh kesulitan, lalu menjadi lalai dalam hal doa, dalam menerima komuni, dalam kunjungan pribadi kepada Sakramen Mahakudus, novena, dan sayang sekali bahkan kadang-kadang menyerah dalam segala hal.

Apa obatnya bagi orang yang suam-suam kuku yang patut disayangkan itu?

Walaupun sulit untuk memulihkan semangat awal kita sekali kita kehilangan semangat itu, Tuhan berfirman bahwa Ia dapat melakukan apa yang tidak mungkin dengan tangan manusia. Barangsiapa berdoa dan bertindak dengan tepat akan sampai pada tujuannya dengan selamat.

Ada lima obat untuk keadaan suam-suam kuku ini, yaitu:

1. Hasrat akan kesempurnaan
2. Keteguhan hati
3. Meditasi
4. Komuni kudus
5. Doa permohonan

1. Hasrat akan kesempurnaan

Hasrat merupakan sayap, dengan mana kita naik dari bumi. Menurut Santo Laurensius Justianus hasrat suci membantu kekuatan alamiah kita dan membuat kesulitan-kesulitan tampak ringan. Dengan kata lain, hasrat memberi kita kekuatan dan membuat kesulitan-kesulitan menjadi mudah.

Sangat keliru bila kita mengatakan Allah “tidak menginginkan kita menjadi kudus”. Justru Allah sangat menginginkan kita menjadi kudus. Santo Paulus berkata: “Inilah kehendak Allah, pengudusanmu….” (1Tes. 4:3) Allah ingin setiap orang menjadi kudus di dalam status hidup masing-masing: biarawan/ti sebagai biarawan/ti, orang di dunia sebagai orang di dunia, imam sebagai imam, orang yang menikah sebagai orang yang menikah, ataupun dalam keadaan hidup yang lain.

Biarpun kadang-kadang mungkin kita tidak melaksanakannya, namun hasrat itu akan membantu kita untuk berjuang terus dan untuk mencapai tujuan dengan segera. Rasul Paulus menulis bahwa “Segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm. 8:28). Salah satu komentar menambahkan “bahkan dosa”. Dosa-dosa kita dahulu dapat berguna bagi pengudusan kita, karena dengan mengingatnya kita dapat menjadi lebih rendah hati dan lebih berterimakasih atas belaskasih Allah yang begitu besar pada kita meskipun seringkali kita menyakiti-Nya.

Seorang pendosa seharusnya berkata, “Saya tidak dapat berbuat apa-apa, saya pantas dibuang, tetapi saya berhubungan dengan Allah yang kebaikan-Nya tak terbatas, Dia telah berjanji untuk mendengarkan setiap orang yang berdoa. Kini saya tahu, saya dapat menjadi seorang kudus, bukan dengan kekuatan saya sendiri, melainkan karena Ia telah menyelamatkan saya dan memberikan bantuan-Nya kepada saya”, maka “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13).

2. Keteguhan hati

Obat yang lain untuk suam-suam ini adalah melalui jalan keputusan untuk memberikan diri secara total kepada Allah. Hasrat untuk mencapai kesempurnaan tidak cukup kalau tidak disertai kebulatan tekad untuk mencapainya. Banyak orang mempunyai hasrat saja tetapi tidak mengambil langkah pada jalan yang mengantar mereka kepada Allah. Inilah jenis hasrat yang disinggung oleh si Bijaksana, “Si pemalas dibunuh oleh keinginannya…” (Ams. 21:25) Orang malas penuh dengan niat dan hasrat tetapi tidak pernah sampai pada keputusan untuk berbuat. Misalnya ia akan berkata:
* andaikata saya seorang pertapa dan tidak tinggal di rumah ini….
* andaikata saya dapat pergi dan tinggal di biara lain, saya akan melayani Allah dengan sungguh-sungguh…
* andaikata saya menjadi istrinya akan saya bantu dia keluar dari masalahnya…
* andaikata saya menjadi ayahnya akan…
* andaikata saya menjadi anaknya akan…

Sementara itu, karena ia tidak cocok dengan teman-temannya dan tidak sanggup menerima kritik apa pun, ia akan merugikan diri dengan berbagai kekuatiran yang tak berguna, berbuat banyak kesalahan, yaitu rakus, bersikap curiga pada semua orang, sombong, lalu mengeluh:
* andai saya berbuat…
* andai kudapat….

Hasrat yang seperti itu lebih banyak merugikan daripada berguna.

3. Meditasi

Kalau orang meninggalkan doa, maka tidak lama lagi mereka akan berhenti mencintai Yesus. Doa seumpama sebuah tungku yang di dalamnya api cinta ilahi dipelihara dan tetap berkobar. Santa Katarina dari Bologna berkata, “Seorang yang tidak menyediakan waktu untuk berdoa akan lepas dari hubungan dengan Tuhan dan ketika setan menemukan orang yang dingin cintanya kepada Tuhan, ia tidak mempunyai kesulitan untuk membujuknya makan buah beracun.” Lebih lanjut, Santa Teresa Avila mengatakan, “Kita barangkali menganggap diri tak bercacat, tetapi cacat akan tampak dengan jelas sesudah Allah membuka mata kita di dalam doa.”

Santo Bernardus menulis bahwa orang yang tidak bermeditasi tidak mempunyai kesadaran akan diri sendiri dan akan keterbatasannya. Doa akan mengatur afeksi dan mengarahkan kegiatan kita. Tanpa doa, afeksi dapat cepat terikat pada hal-hal duniawi dan hasilnya ialah kekacauan.

Santa Teresa Avila mengatakan seseorang yang tekun dalam doa akhirnya akan mencapai pelabuhan keselamatan, biarpun ada rintangan dan setan mencoba memasang jalannya. Sambil berdoa kita memikirkan hal-hal yang baik, kita membangun perasaan saleh dan hasrat yang besar, kita membuat keputusan yang pasti untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dengan sempurna.

4. Komuni kudus

Sakramen yang mahaagung dan mahamulia itu adalah keselamatan jiwa dan badan, dan dapat menyembuhkan segala macam penyakit kerohanian, oleh-Nya segala kejahatan disembuhkan, hawa nafsu dikendalikan, dan godaan dikurangi. Oleh Sakramen ini mengalirlah rahmat yang lebih banyak, ditambah dengan kebajikan yang telah dimulai, dan diperkuatlah kepercayaan serta dinyalakanlah cintakasih kita kepada Tuhan (lih. Yoh. 6:51,57 ; Mat. 26:26 ; 1Kor. 11:24).

5. Doa permohonan

Doa adalah bukti cinta Tuhan bagi kita. Apa sebabnya? Apakah seseorang dapat memberi bukti cinta lebih besar daripada mengatakan pada teman-temannya, “Mintalah sesuatu yang engkau inginkan daripadaku dan saya akan memberikannya kepadamu?” Itulah yang telah dikatakan Tuhan pada kita. “Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk. 11:9)

Doa permohonan dapat memperoleh hadiah apa saja dari Tuhan dan siapa saja yang berdoa akan mendapatkan dari Tuhan apa saja yang dimintanya. Santo Agustinus mengatakan: “Kalau engkau melihat bahwa doa tidak percuma, maka boleh yakin bahwa belaskasih ilahi pun tidak akan mengecewakanmu.” Santo Yohanes Krisostomus juga menambahkan: “Kita selalu memperoleh rahmat, bahkan sementara kita sedang meminta.” Ketika kita berdoa, Tuhan memberi kita rahmat sebelum doa kita selesai.

“Barangsiapa kukasihi. Ia Kutegur dan Kuhajar…” (Why. 3:19) Indah sekali kedengarannya! Ini adalah kutipan dari Ams. 3:12, kata “kasih” dalam terjemahan Yunani (Saptuaginta), “Agapan” menunjuk pada sikap yang baik, yang tidak dapat dikalahkan oleh apa pun, tetapi kalau kasih itu menunjuk pada hubungan keluarga, “philein” berarti mengungkapkan perasaan hati yang paling dalam. Mungkin akan berbunyi demikian: “Kepada orang yang paling kukasihi, Aku memberikan latihan disiplin yang paling keras.”

Kata “menegur” dalam bahasa Yunani yaitu “Eleghein”, artinya jenis teguran yang membuat orang melihat kembali kesalahannya. Contoh Nabi Natan waktu menegur Daud (2Sam. 12:1-14), jadi kita lihat teguran ALLAH lebih merupakan penerangan daripada penghukuman. Kata “Kuhajar” (disiplin) adalah cara khas ajaran Kitab Amsal.

“Siapa yang tidak menggunakan tongkat, membenci anaknya, tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya” (Ams. 13:24).

“Janganlah segan-segan mendidik anakmu, jika engkau memukul dia dengan rotan, ia tak akan mati, malah akan selamat” (Ams. 23 ;13,14).

“Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya. Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (Ams. 29:15,17).

“Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya Tuhan, dan yang Kau ajari dari Taurat-Mu” (Mzm. 94:12).

“Sesungguhnya berbahagialah manusia yang ditegur Allah, sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa” (Ayb. 5:17).

“Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Allah, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia” (1Kor. 11:32).

“Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi jika kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita oleh setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang” (Ibr. 12:6-8).

Tuhan adalah “maha pembangun”, Ia akan membentuk dan memoles dengan memukulkan pahat dan palu berkali-kali kepada batu yang pada akhirnya akan ditempelkan pada dinding Yerusalem surgawi. Begitupun minuman anggur yang baik diperoleh dari buah anggur yang dihancurkan, bukan dari buah yang tidak disentuh. Dengan demikian, kalau kita menerima disiplin dari Allah tidak ada cara lain selain bersyukur dengan sepenuh hati, bukan ditanggapi dengan sakit hati.

“Lihat Aku berdiri di muka pintu dan mengetok…” (Why. 3:20). Inilah ungkapan dari sang kekasih manusia… Kita akan lihat Kidung Agung, saat sang kekasih berdiri di muka pintu kekasihnya dan memohonnya untuk membukakan pintu. “Dengarlah, kekasihku mengetok. Bukalah pintu dinda manisku, merpatiku, idam-idamanku…” (Kid. 5:2-6). Kristus Sang Kekasih mengetok pintu hati manusia.

Kita melihat permohonan Kristus. Ia berdiri di ambang pintu hati manusia dan mengetuk. Inilah fakta dalam agama kita, bahwa Allah adalah pencari manusia. Tidak ada agama lain yang mempunyai visi mengenai Allah yang mencari manusia. Bahwa Allah yang pergi keluar mencari manusia berdosa yang tidak mencari diri-Nya tetapi menjauhi diri-Nya. Bahwa manusia tidak mencari Allah tetapi Allah yang mengambil inisiatif mencari manusia.

Santo Bernardus (abad ke-12) sering mengatakan kepada para biarawannya, “Sepagi apa pun kalian bangun dan menaikkan doa di kapel, pada pagi hari yang dingin di pertengahan musim dingin, atau bahkan di tengah malam buta, kalian akan selalu menjumpai Allah sudah bangun sebelum kalian, Ia menantikan kalian, ya Dialah yang telah membangunkan kalian untuk mencari wajah-Nya.” Inilah gambaran Kristus yang mencari orang berdosa yang tidak menginginkan diri-Nya.

Penawaran Kristus…. “Aku akan masuk dan mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Why. 3:20). “Makan” dalam bahasa Yunani yaitu “deipnein”, kata bendanya adalah “deipnon”. Orang Yunani makan tiga kali sehari: pagi (akratisma), roti kering dicelupkan ke dalam minuman anggur; lalu ada makan siang (ariston), makan siang tidak pulang ke rumah, cukup makan makanan ringan di pinggir jalan; dan ada makan malam (deipnon), makan dengan tidak tergesa-gesa pada malam hari, semua orang boleh menikmati hidangan di sekeliling meja. Inilah yang dilakukan Kristus bagi mereka yang membukakan pintu dan mengundang Dia masuk untuk makan bersama dengan-Nya.

Kita melihat tanggungjawab manusia; Kristus mengetuk dan manusia menjawab atau menolak ketukan itu. Kristus tidak memaksa untuk masuk, Ia harus diundang masuk. Contohnya seperti dua murid di Emaus yang mengajak untuk bermalam, masuk, dan makan bersama (lih. Luk. 24:28).

Holman Hunt, terkenal karena lukisannya The Light of the World, ia melukis hati manusia (pintu), tanpa gagang pintu di bagian luar, sehingga pintu hanya dapat dibuka dari dalam. Setiap orang adalah tuan rumah atas hatinya sendiri; ia adalah bentengnya, ia sendiri yang harus membuka pintu gerbangnya, dan ia memiliki hak prerogatif dan hak istimewa untuk menolak membukanya, suatu hak yang menyedihkan. Orang yang menolak untuk membuka pintu hatinya adalah orang yang sama sekali buta terhadap keadaannya yang penuh berkat, ia adalah penakluk yang menyedihkan. Kristus memohon dan menawarkan, namun sama sekali tidak berguna, jika orang tidak mau membukakan pintunya.

Sharing:

* Bagaimana perjalanan hidup rohani Anda selama ini? Pernahkah Anda mengalami kekeringan dan kejenuhan yang akhirnya membuat Anda menjadi suam-suam kuku? Seringkah hal itu terjadi? Apa yang Anda lakukan pada saat-saat seperti itu?

* Dari kelima langkah atau obat yang dapat mengatasi keadaan suam-suam kuku itu, mana saja yang selama ini telah Anda jalankan? Cara-cara atau usaha apa saja yang selama ini Anda lakukan untuk mencegah terjadinya keadaan suam-suam kuku dalam kehidupan rohani Anda?


Iklan

Tinggalkan komentar

22 Oktober 2011 · 23:03

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s