Ajarkan Anak Selesaikan Masalah

“Jangan gunakan kunci pintu keberhasilan lama untuk membuka sebuah pintu kesempatan yang ada di depan”

Kita harus menyadari bagaimanapun baiknya kita sebagai orang tua, maka problem atau masalah pasti akan dialami oleh anak-anak kita. Karena masalah adalah bagian dari hidup yang tidak dapat dipisahkan. Ada yang menganggap masalah itu sebagai hambatan dan yang lainnya menganggap itu sebagai sebuah tantangan. Tetapi cukup sulit bagi kebanyakan orang tua untuk melihat anak-anaknya mengalami masalah. Semua orang tua akan berusaha membuat anak-anak mereka terbebas dari masalah atau problem walaupun sebenarnya itu mustahil.

Apalagi dengan latar belakang orang tua yang pernah hidup susah dan penuh masalah pada waktu kecilnya, maka ketika anaknya bertumbuh dewasa sebisa mungkin mereka akan berusaha keras untuk menyelamatkan anak-anaknya atau minimal menghindarkan mereka dari masalah-masalah atau pengalaman buruk serupa yang pernah mereka alami. Banyak orang tua juga sering menggunakan ‘kunci pintu keberhasilan mereka untuk membuka pintu-pintu kesempatan bagi anak mereka’. Mereka berpikir bahwa pengalaman dan pengetahuan mereka akan mampu menyelamatkan anak-anaknya dari masalah.

Secara alamiah memang setiap orang tua ingin melindungi anak-anaknya dari membuat kesalahan namun pada akhirnya kebanyakan orang tua terjebak menjadi ‘Problem Solver’ bagi anak mereka, padahal mereka sebenarnya harus mengajarkan teknik ‘problem solving’ kepada anak mereka.

Akibat Orang Tua Yang Berperan Sebagai ‘Problem Solver’
Resiko atau akibat yang dapat terjadi bila orang tua terlalu sering memecahkan masalah anak daripada menolongnya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri diantaranya adalah :
1. Anak Menjadi Pasif
Anak akan merasa terbiasa dilayani, merasa nyaman dengan pelayanan yang kadang-kadang ‘overprovided’. Sehingga tidak ada lagi dorongan untuk berusaha sendiri dan ‘survive’ karena semuanya terlayani.
Contohnya, kita sering melihat di pusat-pusat perbelanjaan sebuah keluarga berjalan berbaris, setiap anak didampingi oleh satu orang baby-sitter atau perawatnya. Semua kebutuhan sekecil apapun sang baby-sitter akan segera siap melayaninya, sedangkan kedua orang tuanya sibuk dengan aktifitasnya sendiri-sendiri.
2. Anak Menjadi Penikmat
Selain mengalami ‘overprovided’, anak-anak kita juga sering diperlakukan secara ‘overprotective’. Dijaga sedemikian rupa oleh orang tuanya, sehingga ia hanya menerima yang terbaik, sangat berkecukupan dan jauh dari masalah.
Anak penikmat akan selalu menuntut lingkungannya untuk melayaninya, menjaganya dan melindunginya. Tidak akan ada ‘survival mode’ di dalam jiwa anak tersebut. Hidupnya terasa ‘serba aman’ karena merasa selalu ada orang lain yang siap melindunginya dan mau berkorban untuknya.
Pernahkah kita melihat seorang anak setiap pagi asyik menonton film kartun kesukaan di depan TV layar lebar, sedangkan pada saat yang sama orang tuanya terbungkuk-bungkuk berusaha memasangkan sepatunya untuk bisa segera berangkat ke sekolah supaya tidak terlambat.
3. Anak Menjadi Egois
Ia akan selalu merasa benar dan ingin menang sendiri. Semua hal diperhitungkan demi kepentingannya sendiri. Kita tidak dapat membayangkan seberapa sulitnya ia ketika besar nanti dalam bersosialisasi dan bergaul dengan lingkungannya.

Tiga Langkah Dalam Melatih ‘Problem Solving’ Pada Anak
Untuk memulai langkah-langkah di bawah ini kita harus mengawalinya dengan menghentikan peran orang tua yang ‘segera selesaikan masalah anakmu’. Biarkan anak-anak mulai memikirkan cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalahnya. Maka langkah selanjutnya mulai dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Diskusi
Pemecahan masalah dimulai dengan komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Nyatakan masalah yang dihadapi dengan jelas dan tenang. Bila kita sedang emosi, sebaiknya kita tenangkan diri kita sejenak sebelum membahas masalah tersebut dengan anak. Ingat jangan gunakan kata-kata tuduhan atau mempersalahkan anak ketika kita berdiskusi, sampaikan hanya apa yang menjadi masalah.
Contoh: “Ánakku, saya perhatikan kamu masih meletakkan handuk di tempat tidurmu tadi pagi”, “Waktu kamu memutar televisi dengan suara keras di atas jam 10 tadi malam, saya dan ibumu tidak bisa tidur.”
Mintalah usulan atau daftar pemecahan masalah dari sang anak terlebih dahulu sebelum kita menambahinya. Jangan beri penilaian atas usulan sang anak – catat saja. Kalau dia mulai kesulitan memberi usulan, mungkin kita dapat memancingnya dengan perkataan: “Bagaimana kalau kamu coba yang…” sering kali langkah ini terbukti berhasil.
2. Konsekuensi Logis
Setelah mendaftarkan semua alternatif pemecahan lalu diskusikan satu persatu. Setelah menentukan pemecahan yang paling menjanjikan, buat kesepakatan bisa secara verbal atau tertulis. Gunakan konsekuensi logis sebagai sanksi bila terjadi ketidakpatuhan atas kesepakatan. Disiplin tidak selalu berbentuk hukuman fisik tetapi dapat juga berupa melarang perbuatan yang disukai anak (bersepeda sore hari, membaca komik, menonton televisi ataupun bermain game komputer). Sebaiknya konsekuensi logis berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi.
3. Evaluasi
Setelah selang beberapa waktu, sebaiknya kita mengevaluasi kesepakatan yang telah dilakukan apakah konsisten dilakukan? Evaluasi seberapa jauh keberhasilan pemecahan masalah tersebut.

Mulailah mendidik anak untuk memecahkan masalahnya sendiri dan mulailah hal itu sekarang!

Tinggalkan komentar

25 Oktober 2011 · 15:15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s