Mengatasi Stres Pada Anak

Suatu ketika Moze pulang sekolah dengan mengeluh, “Stres aku,” katanya melempar tas sekolahnya, “Mengapa sih guru selalu menganggap muridnya sama pintarnya dengan dia?”

“Memangnya gurumu ngajari apa?” tanya saya.

“Guruku membaca buku teks cepat sekali, trus dia bilang ‘ayo kita lanjutkan ke bab berikutnya!’ Over expectation, gitu lho!

Moze sering bertanya, terutama mengenai hal-hal yang menyangkut aplikasi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Dia tidak terlalu suka berteori. Kalau saya menemani dia belajar, pertanyaan yang kerap disampaikannya adalah “apa contohnya?” Untuk belajar topik ruang di Math misalnya, Moze suka mengukur sendiri panjang, lebar, dan tinggi suatu benda. Akibatnya dia tidak terlalu suka mendengarkan penjelasan guru soal konsep dan teori.

Jika si bungsu kami stres, dia cenderung jadi ‘malas’, dan lebih suka membaca yang bukan pelajaran sekolah (Moze punya perpustakaan pribadi dengan lebih dari seratus judul buku berbahasa Inggris). Kadang-kadang perasaan kesalnya dilampiaskan dengan makan (dia suka kentang goreng buatan sendiri) atau bergelas-gelas minuman yang manis (susu coklat, teh manis). Kalau saya mengingatkan dia untuk mengerjakan PR, dia menurut tapi cemberut; bisa-bisa tidak ada satu pun PR-nya yang benar. Kondisi ini memang hanya sesekali, dan menarik diamati oleh kami sebagai orangtuanya.

Definisi Stres
Stres adalah ketika kita merasa tidak mampu memenuhi tuntutan atau harapan besar yang dibebankan di atas bahu kita, oleh orang lain, lingkungan ataupun diri kita sendiri. Stres bisa bersumber dari rasa tidak berarti, rasa tidak berdaya dan terpisah atau kehilangan orang yang kita cintai. Hal-hal yang sering membuat anak stres misalnya: kematian, absennya orangtua, atau perceraian. Stres merupakan adalah kondisi yang tidak enak. Akibat adanya suatu rangsangan dari luar dirinya, individu akan segera berusaha mengatasinya untuk mencapai keadaan seimbang. Bila gagal, maka yang bersangkutan mengalami penderitaan.

Di sisi lain dalam kehidupan perlu ada stres, agar individu dapat belajar sejak dini bagaimana supaya dapat bertahan. Sumber stres adalah frustasi (kekecewaan), konflik, tekanan atau krisis. Banyak orangtua tidak menyadari bahwa anak balita bisa stres, yang bila tidak diatasi dengan baik akan berdampak pada perkembangan selanjutnya.

Kita perlu bedakan stres biasa dengan dari stres traumatik. Stres traumatik adalah kejadian mengejutkan yang sangat menyakitkan, dan di luar pengalaman manusia pada umumnya yang akan mendatangkan rasa takut pada siapa saja yang mengalaminya. Misalnya mengalami pelecehan seksual, mengalami kekerasan fisik atau mengalami bencana alam.

Ciri-ciri Stres Pada Anak
Pada anak 0-5 tahun gejala stres antara lain menangis terus-menerus tantrum, rewel, ketakutan, sedih berlebihan, nempel pada orang tertentu, menyerang atau memukul, duduk di sudut tertentu, mimpi buruk, menggigit pakaian, pertumbuhan badan kurang, sulit makan. Pada anak usia 6-10 tahun tampak sering menangis, tidak mau sekolah, bohong, mencuri, terlalu aktif, suka berkelahi, tidur terganggu, ngompol, mau kabur dari rumah, sulit sekali mengalah, banyak mengeluh termasuk merasa sering sakit.

Penanganan Stres Anak
Waktu di kelas 2 SD kami melihat bahwa Moze mengalami gejala stres, yaitu hampir selalu sakit perut setiap akan berangkat sekolah. Akibatnya, saya memaksanya bersiap lebih cepat agar sempat ke toilet sebelum sekolah. Masalah ‘sakit perut’ Moze akhirnya teratasi ketika kami sebagai orangtua berbicara dengan guru kelasnya. Hubungan yang baik dengan guru membuat kami bekerja sama menolong Moze. Ketika itu kami melihat Moze membutuhkan orang yang mau mendengarkan ide dan isi hatinya. Sekolah menolong dengan menghadirkan guru lain sebagai pendamping Moze selama sekitar satu bulan. Kami juga menaruh perpustakaan pribadi di kelas, dengan banyak buku yang bisa dibaca Moze dan teman-temannya. Dia juga main catur di jam istirahat dengan teman-teman yang punya hobi sama. Sejak itu sekolah merupakan kesukaan besar buatnya.

Secara umum ada empat hal yang kami lakukan kepada anak kami mengatasi stres-nya:
Pertama, kami menenangkan anak dengan menjelaskan bahwa tekanan dan tantangan di sekolah dan teman adalah hal yang lazim dialami semua orang, apalagi saat memasuki lingkungan baru. Kemudian, kami memberikan perhatian yang lebih besar, termasuk berbicara dengan guru. Kami juga mencari cara terbaik untuk memberi semangat kepada anak kami saat dia menghadapi kendala tertentu di sekolah. Metode kerjasama dengan guru ini sangat penting dan berhasil.

Selanjutnya, kami berusaha memberikan cara pandang baru kepadanya (reframing), terutama saat dia beranjak ke SMP. Kami menjelaskan bahwa SMP berbeda dari SD. Ini menyangkut metode belajar dan cara sekolah memperlakukan siswa. Moze bisa menerima pandangan ini karena dia suka disebut preteen.

Kami juga memperhatikan hal-hal yang disukai Moze, yang kami perkirakan akan membuat keseimbangan dalam dirinya. Misalnya karena dia suka membaca, kami berusaha minimal dua kali seminggu “meninggalkan dia” di toko buku atau perpustakaan, untuk membaca selama dua atau tiga jam. Kami juga memberikan makanan bergizi dan olahraga yang cukup. Soal ini tidak sulit karena Moze suka makan sayur, susu, dan berenang.

Berikutnya, memelihara hubungan yang baik dengan anak. Jangan menganggap remeh perasaan anak remaja kita. Kita perlu belajar mendengarkan apa pun keluhan anak-anak kita. Umumnya anak akan makin tertekan jika anak merasa diabaikan kalau didiamkan orangtuanya.

Beberapa sikap orangtua yang dapat memulihkan dan menghindarkan stes pada anak antara lain: (1) memberi kasih sayang yang adil pada setiap anak dan menyediakan lingkungan yang aman dan damai, (2) peka dan responsif akan kebutuhan anak, (3) bersikap hangat, tegas dan respek terhadap anak, (4) mampu berempati dan menerima anak apa adanya, (5) memberi kesempatan pada anak untuk mengungkapkan perasaannya, (6) memberi dorongan pada anak untuk melakukan sesuatu, kemudian beri pujian atau penghargaan atas keberhasilannya, (7) sikap ayah dan ibu sejalan atau kompak mengasuh anak.

Penutup
Jika Anda menjumpai beberapa ciri atau gejala di atas pada anak, jangan segan untuk menemui konselor atau psikolog anak. Sebab makin dini ditolong, makin cepat anak dipulihkan. Kita bertanggung jawab untuk kesehatan setiap anak yang Allah titipkan, termasuk kesehatan mental mereka..

By: Julianto & Roswitha


Tinggalkan komentar

31 Oktober 2011 · 21:23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s