Inilah Kasih Itu

1. Allah, Sumber Segala Kasih

Santo Yohanes Rasul adalah orang yang sejak semula boleh mengalami kasih Yesus secara istimewa. Pada perjamuan malam ia boleh duduk dekat Yesus dan bersandar dekat dengan Dia. Selama hidupnya ia boleh mengalami hubungan yang istimewa dengan Yesus serta merasakan kasih Yesus, sehingga dalam Injil, dia hanya disebut dengan tanda pengenal “murid yang dikasihi Yesus”. Rupanya lebih dari yang lain ia boleh mendalami misteri kasih Allah itu secara khusus. Dalam Injilnya ia mendalami misteri kasih itu secara mengagumkan. Rasul ini pada hari tuanya menyadari dengan pasti bahwa keagungan dan sumber segala kasih itu ialah kasih Allah sendiri. Sebelum kita dapat mengasihi Allah, Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita. “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh 4:10).

Jadi bukan karena kita mengasihi Allah maka Allah balas mengasihi kita. Justru sebaliknyalah yang benar: Kita dijadikan mampu mengasihi, karena Ia lebih dahulu telah mengasihi kita. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dulu mengasihi kita” (1Yoh 4:19). Dan kasih itu sesungguhnya telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh yang telah diberikan kepada kita (Rm 5:5). Dengan demikian kita telah dijadikan mampu untuk membalas kasih Allah.

Kebenaran ini merupakan suatu hiburan besar bagi kita. Kita tidak perlu melakukan prestasi tertentu supaya dapat dikasihi Allah, sebaliknya Dialah yang lebih dahulu mengasihi kita secara cuma-cuma, tanpa jasa sama sekali dari pihak kita. Dia mengasihi kita, karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8.16). Dengan demikian kita dapat menyadari, betapa besar kasih Alah kepada kita. Kasih itu secara istimewa dinyatakan dalam diri Putra-Nya yang tunggal, yang diserahkan untuk kita. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:16-17).

Kasih Allah itu menyelamatkan, sehingga setiap orang yang menanggapi kasih itu, dijadikan utuh kembali, diselamatkan, dijadikan makhluk baru. Karena itu untuk memperoleh kasih itu kita tidak perlu berprestasi lebih dahulu, melainkan cukuplah kita membuka diri dan membiarkan diri dikasihi Allah. Seringkali pengalaman kita dalam hal kasih manusiawi mengaburkan pengertian kita tentang kasih Allah itu. Dalam kehidupan kita sehari-hari orang seringkali mengalami kenyataan ini, apalagi dalam dunia dewasa ini: ada prestasi ada balas prestasi. Dalam banyak keluarga, anak-anak mengalami hal ini:supaya dicintai orang tuanya, ia harus berprestasi, entah dalam sekolah, entah dalam hal lain. Tanpa sadar orang mengenakan sikap itu dalam hubungannya dengan Allah. Untuk dapat dikasihi Allah, orang harus berprestasi lebih dahulu. Karena itu ada orang yang mati-matian melakukan kebajikan-kebajikan tertentu, supaya berkenan kepada Allah dan kalau sudah melakukannya, seolah-olah ia dapat menuntut balas jasa dari Allah, karena ia telah berjasa. Latihan kebajikannya menjadi tegang, karena ia harus berprestasi, sekaligus mudah membawa orang kepada sikap puas diri, karena sudah berprestasi, serta menjadi sombong.

Betapa sikap itu berbeda dengan sikap orang yang sungguh-sungguh menyadari, bahwa ia telah lebih dahulu dikasihi Allah tanpa ada jasa apa-apa dari pihaknya. Karena menyadari, bahwa ia berharga bagi Allah dan dikasihi Allah, hatinya meluap dalam ucapan syukur dan terima kasih. Karena ia dikasihi, maka ia mau balas mengasihi dan segala sesuatu dilakukannya karena kasih kepada dan untuk menyenangkan hati Allah yang telah lebih dahulu mengasihi dia. Semua dilakukannya, karena ia mengasihi Allah, bukan untuk mendapatkan sesuatu, bukan untuk berjasa, melainkan sebagai ucapan syukur dan terima kasih. Semakin ia mengenal Allah, semakin ia menyadari betapa Allah patut dikasihi demi Allah sendiri, bukan supaya mendapat sesuatu dari Allah. Maka dengan senang hati ia melakukan segala yang diperintahkan Allah kepadanya. Mungkin sekali orang ini melakukan sama banyaknya dengan yang pertama itu, bahkan mungkin lebih banyak lagi, karena orang yang mengasihi berusaha menyenangkan yang dikasihinya, namun semuanya bebas dari ketegangan dan usaha mencari jasa.

Kalau kita sadar bahwa kita berharga bagi Allah dan dikasihi Allah, maka kita pun tidak akan mencari penghargaan dan penghormatan dari manusia. Kita tidak akan berusaha mengejar prestasi supaya mendapat penghargaan orang, tetapi kita akan melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada Allah, semata-mata untuk Allah, tanpa takut apa kata orang. Karena kita merasa dikasihi Allah, kita pun dapat membagikan kasih itu kepada orang lain, tanpa menuntut orang lain harus balas mengasihi kita. Kita mengasihi karena kita lebih dahulu dikasihi. Kita tidak mau menghakimi seorang pun, karena kita sadar bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita serta mengampuni segala dosa kita. Karena kita telah mengalami belas kasih Allah, kita pun dapat menaruh belas kasihan kepada orang lain. Maka di sini terjadi suatu paradoks: karena kita hanya mengasihi secara murni tanpa menuntut balas, tanpa motivasi lain, akhirnya kita malahan mendapat kasih lebih banyak lagi. Di sini terlaksanalah sabda Tuhan Yesus sendiri:“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah, maka kamu akan diampuni. Berilah, dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam haribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk 6:37-38).

Orang yang memiliki kasih Allah sadar bahwa tidak ada apa-apa yang lebih berharga di dunia ini daripada kasih. Karena itu demi kasih ia pun rela meninggalkan segala sesuatu, mengurbankan segala sesuatu. Karena Allah adalah kasih, maka baginya Allah saja sudah cukup, bahkan lebih dari cukup. Seluruh hidupnya akan dibaktikan kepada Allah melulu, untuk melaksanakan kehendak-Nya yang suci. Ia dapat menjadi alat yang peka dan rela di tangan Allah untuk melaksanakan rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia.

Karena ia tahu bahwa Allahlah yang lebih dahulu mengasihi dia dengan kasih yang tak pernah berubah, ia pun bebas dari segala ketakutan. “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yer 31:3).

Semakin ia tumbuh dalam pengenalan Allah, semakin sadar ia bahwa hati Allah itu lebih lembut daripada hati ibu mana pun, dan bahwa kasih Allah lebih kuat dari kasih wanita mana pun terhadap anaknya yang kecil: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukis engkau di telapak tanganKu” (Yes 49:15-16a).

2. Diciptakan menurut Gambar dan Kesamaan Allah

Mungkin kita bertanya: Mengapakah Allah mengasihi kita? Jawaban yang terutama ialah karena Ia adalah kasih. Karena Ia adalah kasih, maka segala sesuatu yang dilakukan-Nya bersumber pada kasih dan dengan kasih. Karena Allah adalah kasih semata-mata, dalam Allah tidak ada kebencian, dan karena itu tak mungkin Ia dapat membenci kita. Namun kitalah yang dapat membenci Allah, bila kita menutup diri serta terus menolak kasih-Nya.

Karena Allah adalah kasih, Ia mau membagikan kebahagiaan-Nya dengan kita. Maka Ia menciptakan kita menurut gambar dan kesamaan-Nya. Di antara segala ciptaan, manusialah yang paling berharga bagi Allah. Hal itu nyata dalam kisah penciptaan sendiri. Ketika Allah menciptakan dunia ini dan alam semesta, semuanya diciptakan dengan kuasa sabda-Nya: Allah bersabda, maka semuanya terjadi. “Jadilah terang, maka terang pun jadilah.” Demikian satu per satu diciptakan alam semesta ini. Tetapi penciptaan manusia lain. Ketika sampai pada giliran mau menciptakan manusia, Allah seolah-olah berhenti sebentar dan berunding: “Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej 1:26). Dalam cerita penciptaan, tiap kali Allah berhenti sebentar untuk mengamati karya-Nya dan tiap kali dikatakan: Allah melihat bahwa semuanya itu baik (bdk. Kej 1:10.12.18.25). Tetapi setelah menyelesaikan penciptaan manusia, “Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik” (Kej 1:31).

Allah telah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah sendiri, supaya manusia sebagai makhluk yang berbudi dapat mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri. Ia tidak menjadikan manusia seperti binatang-binatang lainnya, melainkan manusia diberinya kemampuan untuk “mengambil bagian dalam kodrat Allah sendiri” (2Ptr 1:4), sehingga mampu menjadi anak Allah. Sesungguhnya itu merupakan rahmat Allah yang luar biasa dan bukti kasihNya yang besar sekali. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang, kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh 3:1). Kita menjadi anak Allah karena percaya kepada Yesus Kristus yang telah diutus-Nya ke dunia: “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh 1:12).

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Secara konkrit itu berarti serupa dengan Yesus Kristus, karena Kristus adalah gambar sempurna dari Bapa. “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa” (Yoh 14:9). Karena itu kita harus terus tumbuh menjadi serupa dengan Yesus sendiri. Kita harus bersatu dengan Kristus sedemikian rupa, sehingga Ia menguasai hidup kita. Semakin kita bersatu dengan Yesus, semakin hiduplah Yesus dalam diri kita, sehingga akhirnya bukan lagi “aku yang hidup, melainkan Yesuslah yang hidup dalam diriku” (Gal 2:20).

Persatuan kita dengan Yesus memungkinkan Dia mengalirkan daya hidup ilahi-Nya ke dalam diri kita, sebagaimana ranting anggur yang tinggal pada pokok batang, menerima hidup dari batang tersebut. Sebaliknya kalau ranting itu terlepas dari pokok batang, dengan segera dia akan mengering dan mati. Jangankan menghasilkan buah, hidup saja tidak dapat: “Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:4-5).

Kalau kita begitu tergantung pada Yesus dan bahwa kita hanya dapat berbuah kalau tetap bersatu dengan Dia, sesungguhnya sikap yang paling dasar bagi kita ialah selalu menyatu dengan Dia, tinggal selalu dalam kesatuan dengan Dia. Sebaliknya bila kita selalu bersatu dengan Dia, kita akan menjadi subur, subur bagi diri sendiri, subur bagi orang lain, dan subur bagi seluruh Gereja dan bahkan umat manusia. Tidak ada orang yang lebih subur secara rohaniah daripada orang yang bersatu dengan Kristus. Semakin dalam persatuan kita dengan Yesus, semakin suburlah kita bagi Gereja dan umat manusia. Itulah sebabnya mengapa seorang seperti Santo Yohanes Salib menekankan perlunya persatuan dengan Tuhan, persatuan yang mengubah segala-galanya, persatuan yang menjadikan hidupnya mahasubur secara rohani.

Menurut Santo Yohanes dari Salib, dalam tingkat persatuan yang mendalam sekali, yang disebut dengan istilah persatuan transforman, di mana orang diubah sedemikian rupa oleh Allah, sehingga ia menjadi seluruhnya ilahi, satu faal cinta kasih yang diperbuat orang dalam tingkat transformasi ini masih lebih berharga daripada semua perbuatan yang dibuat orang seumur hidup tanpa mencapai tingkatan itu. Sebab pada tingkatan persatuan itu seluruh aktivitasnya adalah aktivitas Roh Kudus sendiri. Karena itu pula, satu orang dalam tingkatan cintakasih ini lebih berharga bagi Allah, bagi Gereja, dan bagi keselamatan umat manusia, daripada beribu-ribu orang lain yang tidak mencapai tingkatan ini (Yohanes Salib:Nyala Cinta I,2).

3. Diciptakan untuk yang Tidak Terbatas

Sebelum menemukan Tuhan, Santo Agustinus telah berusaha menemukan Tuhan di tempat-tempat lain, di luar dirinya dalam kenikmatan-kenikmatan, dalam kebahagiaan dunia ini, dalam pelbagai macam ilmu dan filsafat, tetapi ia tidak menemukannya. Akhirnya Santo Agustinus menyadari bahwa ia salah mencari Allah di luar dirinya, padahal Allah bersemayam dalam lubuk hatinya yang terdalam. Memang, kita diciptakan untuk Allah, sehingga tidak ada apa-apapun yang dapat memuaskan hati kita kecuali Allah sendiri. Hati kita telah diciptakan sedemikan besarnya, sehingga bahkan seluruh alam semesta ini tidak akan dapat memenuhinya. Sean-dainya pun kita memiliki seluruh dunia, semuanya itu tidak dapat mengisi hati kita, dan hati kita akan tetap kosong saja, tidak dapat terpenuhi. Kita telah diciptakan untuk yang tidak terbatas, sehingga hanya yang tidak terbatas saja yang dapat mengisi hati kita dengan sungguh-sungguh. Inilah yang dialami Santo Agustinus, sehingga ia mengungkapkannya dalam kalimat yang kemudian menjadi terkenal: “Engkau menciptakan kami untukMu, ya Tuhan, dan gelisahlah hati kami sebelum beristirahat di dalam Engkau.”

Kita diciptakan untuk yang baka, untuk Allah sendiri, sehingga pengenalan akan Allah saja yang akan dapat memuaskan hati kita. Santo Paulus setelah sebelumnya mengejar kemuliaan duniawi ini, setelah mengenal Kristus menganggap segala sesuatu sebagai kerugian, ya bahkan semuanya yang sebelum itu amat dihargainya, kini dipandangnya sebagai sampah belaka: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus…Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya” (Flp 3:7-8.10).

Sesungguhnya segala sesuatu di dunia ini akan lenyap. Kita sendiri mengalami, betapa goyahnya hidup manusia di dunia ini. Kemarin ia diagung-agungkan dan disanjung orang, tetapi hari ini ia dihujat dan hidupnya pun tidak aman lagi. Kemarin ia adalah orang yang paling dihormati, tetapi hari ini bisa menjadi buron. Seperti yang dikatakan Santo Yohanes, dunia ini dengan segala keinginannya akan lenyap, sebaliknya orang yang mengasihi Allah akan tetap selama-lamanya, karena itu dia menghimbau kita, agar jangan mencintai dunia ini: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1Yoh 2:15-17).

4. Mengenal dan Mengalami Kasih Allah

Sifat dunia yang goyah ini, yang fana, yang cepat berubah dan berlalu, justru mendorong kita untuk mencari yang tidak kena perubahan, yang baka, karena kita diciptakan justru untuk yang baka. Mengenal Allah serta mengasihi Dia di atas segala sesuatu, itulah tujuan hidup kita dan itulah satu-satunya yang dapat mengisi hati kita. Sesungguhnya, mengenal Allah dan mengasihi Dia itulah hidup yang kekal, yang sudah dimulai dalam dunia ini dan akan disempurnakan dalam hidup yang akan datang. “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17:3). Dan mengenal, dalam bahasa Kitab Suci, lebih-lebih menurut Injil Yohanes, berarti memasuki persekutuan hidup yang mengalir dari Bapa kepada Putra di dalam Roh Kudus dan kembali kepada Bapa dalam Roh yang sama.

Oleh karena itu, bagi kita yang terpenting sekarang ini ialah mengenal dan mengalami kasih Allah, hidup kekal yang sudah mulai di dunia ini dan akan disempurnakan kelak. Itulah yang pokok. Segala sesuatu yang lain harus diarahkan kepada yang pokok itu, sebaliknya segala sesuatu akan memberikan arti dan kepuasan yang lebih mendalam bagi kita. Kita mengasihi, karena Dia telah lebih dahulu mengasihi kita. Bila segala sesuatu kita lakukan dalam kasih dan demi kasih, segalanya menjadi indah, juga yang oleh orang lain dianggap sebagai penderitaan. Itulah pula sebabnya, mengapa Santo Paulus berdoa, supaya kita mengenal kasih Allah itu: “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan betapa panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:18-19).

Segala yang lain tidak ada artinya bila dibandingkan dengan yang ini. Juga bila di dunia ini kita masih harus banyak menderita, itu pun tidak ada artinya, sebab “penderitaan zaman sekarang ini tidak ada artinya, bila dibandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Allah bagi kita” (Rm 8:18). Sebab sesungguhnya tidak dapat dibayangkan, apa yang disediakan Allah bagi kita, karena semuanya melampaui pikiran dan pengertian kita:“Tak ada mata yang melihat, tak ada telinga yang mendengar, dan tak pernah masuk dalam hati manusia, apa yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia” (1Kor2:9).

Written by Rm. Yohanes Indrakusuma

 

Tinggalkan komentar

1 November 2011 · 08:08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s