Kematian Nan Merdu

Dengan wajah yang pucat penuh derita, rona gelisah, dan tatap ketakutan, seorang gadis bergumul dalam sakrat maut di atas ranjang tidurnya. Kecantikannya pudar, sinar matanya tak lagi berbinar, tinggallah raut nanar dengan tubuh kurusnya yang terkapar. Bibit penyakit TBC menggerogoti paru-parunya, menghisap setiap butir darahnya. Kakak-kakaknya berlutut di samping tempat tidur gadis malang itu, berdoa dalam sedih dan bingung. Bagaimana mungkin, adik mereka yang demikian manis dan suci menghadapi kematian bagai seorang penjahat besar? Bukankah kematian merupakan hal yang sangat dinantikan oleh mereka yang suci hatinya, namun sangat ditakutkan oleh mereka yang jahat dalam hidupnya?

Memang benar, para kudus menghadapi kematian dengan penuh kerinduan dan sukacita. Akan tetapi, Dia yang Mahakudus, Yesus Kristus, wafat dengan kesedihan, penderitaan, dan ketakutan yang amat besar, hingga teriaklah Ia, “Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Gadis yang suci murni itu rupanya begitu dicintai Allah, sehingga ia diizinkan Tuhan untuk sedikit mengalami sakrat maut sebagaimana yang telah dialami oleh Yesus, kekasih hatinya. Ia telah bersatu dalam cinta bersama Yesus selama hidupnya, dan kini ia bersatu pula dengan Yesus dalam pergulatan sakrat mautnya, untuk menyeberang ke dunia yang lain, bersatu selamanya dengan Yesus dalam keabadian.

“Aku mencintai-Mu,” seru gadis itu lembut dan akhirnya nafas terakhir pun terhembuslah. Wajahnya kini tampak begitu tenang, damai, dan bersinar dalam kesucian. Mawar jelita ilahi telah menunaikan tugasnya di bumi. Hidupnya yang dililit derita kini mekar laksana bunga, ceria menyambut Sang Surya kerinduannya. Kematiannya menjadi sebuah lagu yang merdu dalam sejarah kehidupan manusia, menjadi sebuah pujian kemuliaan ilahi yang mengangkat banyak hati orang kepada Allah. Dialah Santa Theresia dari Lisieux.

Siapakah orang yang tidak akan mati? Tubuh kita yang fana ada batas umurnya. Laki-laki atau perempuan, miskin atau kelewat kaya, semuanya akan sampai pada hari akhirnya. Kematian adalah akhir dari kehidupan duniawi yang merupakan akibat dari dosa. Dalam kematian inilah jiwa dipisahkan dari tubuhnya.

Banyak orang takut menghadapi kematian. Banyak pula yang sedih luar biasa jika orang yang dikasihinya mengalami kematian. Padahal, kematian merupakan satu-satunya jembatan yang dapat menghantar manusia sampai ke dalam kebahagiaan abadi. Kita tidak akan mungkin dapat bangkit bersama Kristus jika tidak mengalami kematian lebih dahulu bersama Kristus. Walaupun karena dosa manusia mempunyai kodrat untuk mati, namun karena cinta Allah menentukan agar manusia tidak mati. Berkat jasa Yesus Kristus, kematian telah diubah menjadi berkat, yaitu “beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.” Jadi, kematian tidak lain adalah pindah ke kehidupan yang lain, yaitu ke dalam hidup ilahi. Kematian menjadi jembatan yang mempersatukan kita dengan Pribadi yang amat mengasihi kita. “…tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.” (2 Kor 5:8)

Sebelum wafat, Yesus mengatakan bahwa Ia telah menyiapkan tempat bagi kita masing-masing di surga. “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” (Yoh 14:2-3)

Oleh karena besarnya kasih Yesus kepada manusia, Ia tak ingin terpisahkan dari manusia walau barang sekejap. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, dengan segala cara Ia menarik manusia untuk semakin dekat dengan-Nya. Dan tarikan itu demikian kuatnya di puncak kehidupan kita, sehingga jiwapun tercabut dari wadahnya yang fana, terbang menuju keabadian untuk bersatu dengan Yesus selamanya. Di sanalah Ia menghapus setiap titik air mata, mengangkat setiap beban derita, dan menyembuhkan setiap kesakitan manusia. Jiwa dipenuhinya dengan kebahagiaan sempurna, sukacita abadi, dan kedamaian surgawi.

Peristiwa keselamatan pribadi ini diawali dengan pembaptisan kristiani. Sebelum naik ke surga Yesus meminta kepada para murid untuk mewartakan kerajaan Allah kepada segala bangsa dan membaptis mereka. Oleh pembaptisan, umat kristiani yang secara sakramental sudah “mati bersama Kristus” mendapatkan kehidupan yang baru.“Benarlah perkataan ini: Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia.” (2 Tim 2:11)

Inilah anugerah terindah yang dapat diterima oleh jiwa yang percaya. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat menandinginya, karena memang untuk itulah manusia dicipta. “Lebih baiklah bagiku untuk mati karena Kristus, daripada hidup sebagai raja atas segala ujung bumi. Aku mencari Dia, yang wafat untuk kita; aku menghendaki Dia, yang bangkit demi kita. Kelahiran aku nantikan… biarlah aku menerima sinar yang cerah. Setelah tiba di sana, aku akan menjadi manusia,” demikian kata Santo Ignatius dari Antiokhia yang begitu mendambakan kematian.

Dalam kematian Allah memanggil manusia kepada diri-Nya. Apa lagikah yang lebih didambakan oleh jiwa suci selain bersatu dengan Allah? Tuhanlah tujuan hidupnya, pusat dahaganya, kerinduannya yang terutama. Itulah sebabnya banyak orang kudus yang mendambakan kematian karena kerinduannya untuk bersatu dengan Allah. Kerinduan ini begitu mengusik hati para kudus, sehingga Santo Paulus pun berkata, “Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus.” (Flp 1:23) Sementara Santo Ignatius dari Anthiokia yang sudah tak menginginkan apa-apa lagi di dunia ini selain Allah berucap, “Kerinduan duniawiku sudah disalibkan. Di dalam diriku ada Air yang hidup dan berbicara, yang berbisik dan berkata kepadaku: Mari menuju Bapa.” Bahkan ketika masih kanak-kanak, kerinduan yang amat besar ini telah mengoyak hati Santa Teresa Avila untuk nekad pergi ke daerah berbahaya agar dapat mati sebagai martir, “Aku hendak melihat Allah, dan untuk melihat Dia, orang harus mati.” Kematian begitu mempesona, karena sesungguhnya kematian itu tidak pernah ada. Yang ada hanyalah suatu perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik, sebagaimana yang dikatakan oleh Santa Theresia dari Lisieux, “Aku tidak mati; aku masuk dalam kehidupan.”

Memang sesungguhnyalah dalam pandangan kristiani, kematian merupakan hidup yang diubah, bukan dilenyapkan. Akan ada kehidupan baru dalam kemuliaan surgawi bagi setiap jiwa yang menyambut cintakasih Allah. Akan tetapi, tentu saja yang dimaksud di sini adalah kematian yang sesuai dengan waktu dan rencana Allah. Bunuh diri merupakan dosa besar karena itu berarti telah mengambil hak Allah dalam menentukan waktu dan cara mati seseorang.

Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan mengenai kematian, yaitu kematian merupakan titik akhir perjuangan manusia di dunia, sekaligus titik akhir masa rahmat dan belas kasihan Allah. Artinya, setelah kematian hidup rohani kita tidak dapat tumbuh dan berkembang lagi. Kekudusan kita tergantung dari hidup kita di dunia. Semuanya harus kita perjuangkan selama masih hidup di dunia karena segala yang kita capai selama hidup akan menentukan nasib kita di saat akhir. Setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki semuanya di akhirat. Kita juga tidak akan mendapat kesempatan untuk hidup kembali; tidak ada reinkarnasi. Jika dalam hidup di dunia ini kita menolak kasih Allah secara definitif, tempat kita kelak tidak lagi di surga tetapi di tempat yang penuh dengan ratapan dan kertak gigi. Demikian pula jika dalam hidup kita acuh tak acuh dengan kehidupan rohani, tak berjuang mengejar kesucian, jiwa kita tak dapat segera masuk ke dalam surga. Ia akan berlabuh di api penyucian cukup lama. Saat itu penyesalan sudah terlambat, kita hanya bisa mengharapkan kerahiman Allah lewat doa saudara-saudari kita. “…manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dihakimi.” (Ibr 9:27)

Oleh karena itu, Yesus mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga, Gereja mengajak kita untuk selalu siap. “Dalam segala perbuatanmu, dalam segala pikiranmu, hendaklah kamu bertindak seakan-akan hari ini kamu akan mati. Jika kamu mempunyai hati nurani yang bersih, kamu tidak akan terlalu takut mati. Lebih baik menjauhkan diri dari dosa, daripada menghindari kematian. Jika hari ini kamu tidak siap, apakah besok kamu akan siap?” (Thomas A. Kempis, Mengikuti Jejak Kristus)

Oleh kematian jiwa dipisahkan dari tubuh. Akan tetapi, dalam kebangkitan Allah akan memberi kehidupan abadi kepada tubuh yang telah diubah dengan mempersatukannya kembali dengan jiwa kita. Seperti Kristus telah bangkit dan hidup selamanya, demikian juga kita semua akan bangkit pada hari kiamat. Ini semua berkat jasa Yesus Kristus yang sangat mengasihi kita. Oleh kematian-Nya Ia mengalahkan maut dan dengan demikian membuka pintu masuk menuju keselamatan untuk semua manusia.

Pintu itu terbuka menanti kita. Ke sanalah kita harus bergegas melangkah, karena di balik pintu itu telah menunggu Pribadi yang amat merindukan kita dengan tangan-Nya yang terbuka lebar. “Yesus telah kembali ke surga. Oleh karena itu, aku tidak dapat mengikuti Dia selain mengikuti jejak yang telah ditinggalkan-Nya. Betapa cemerlang penuh cahaya jejak-jejak-Nya. Betapa semerbak keharuman yang dipancarkan-Nya. Cukuplah kalau aku membalik-balikkan Injil, maka serentak terpancarlah keharuman hidup-Nya, lalu aku pun tahu ke mana aku harus bergegas…,” tulis Santa Theresia Lisieux menjelang akhir hidupnya. “Aku bergegas menuju Yesusku!” Bunga mungil yang tumbuh dalam naungan pohon kayu salib Kristus, disegarkan oleh embun darah dan airmata Kristus, kini telah mekar sempurna dan dipetik dari kehidupan yang fana. “Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi!” (Kid 1:4a)

Semoga teladan kesucian Santa Theresia dari Lisieux dan para kudus lainnya, membuka mata kita untuk melihat betapa indahnya kematian. Kematian bukanlah peristiwa kelabu, bukan sekedar kembali menjadi debu, melainkan suatu nyanyian yang merdu, yang membangkitkan pujian di surga karena hadirnya sebuah jiwa yang kini telah bersatu, dengan Dia yang selalu dirindu.“Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!” (Kid 8:6)

Written by Sr. Maria Skolastika 

Iklan

Tinggalkan komentar

2 November 2011 · 09:06

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s