Penyangkalan Diri

Pengantar

Dalam abad ke-21 yang lalu dan berlanjut sampai dengan abad ini, kita menyaksikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa. Banyak aspek kehidupan manusia yang semakin dipermudah oleh teknologi. Secara khusus, alat-alat elektronik silih-berganti ditemukan untuk membantu manusia. Sebut saja beberapa: mesin cuci, microwave, mesin penghisap debu, kendaraan bermotor, komputer, dan lain-lain. Banyak lagi yang diciptakan bukan hanya untuk membantu, tetapi juga untuk memberikan hiburan bagi manusia, seperti media-media komunikasi elektronik (televisi, radio, internet, telepon), AC, film, dan sebagainya.

Barang-barang yang disebut di atas dan juga barang-barang duniawi lainnya sebenarnya bersifat netral. Artinya, barang-barang itu dari dirinya sendiri tidak bisa dibilang baik atau buruk. Menjadi buruk kalau berdampak buruk bagi hubungan manusia dengan Allah; menjadi baik kalau membuat manusia semakin dekat dengan Allah. Namun, kenyataan yang sering terjadi dewasa ini adalah yang buruk. Menurut Mother Angelica,seorang suster perintis dan pendiri stasiun televisi EWTN (Eternal Word Television Network) di Amerika Serikat, manusia masa kini seumpama anak-anak yang sedang bermain. Mereka bermain hanya untuk mencari kesenangan. Setelah kesenangan itu lewat, mereka beralih ke permainan lain untuk mencari kesenangan selanjutnya. Program-program cinta-diri dan memanjakan diri begitu umum disebarkan. Bahkan ada penceramah-penceramah yang khusus mewartakan ‘kabar sukacita’ ini, “Cintailah dirimu” atau “Engkau pantas mendapatkannya” menjadi slogan hidup banyak manusia masa kini.

Mungkin Anda bertanya, bukankah Yesus memerintahkan kita untuk mencintai saudara kita seperti diri kita sendiri (bdk. Mat. 22:39; Rm. 13:9)? Benar, tetapi tidak ada satu pun di dalam Kitab Suci tertulis “cintailah dirimu” atau yang senada dengan itu. Sebaliknya, berkali-kali Yesus menegaskan, supaya kita menyangkal diri kita sendiri (lih. Mat. 16:24; Mrk. 8:34; Luk. 9:23). Bahkan di tempat lain Dia mengatakan bahwa barangsiapa tidak membenci nyawa sendiri tidak layak menjadi murid-Nya (lih. Luk. 14:26).

Kalau demikian adanya, apakah maksud Tuhan supaya kita mencintai sesama kita seperti diri sendiri? Yesus bersabda, “…sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” (Luk. 6:31) Inilah jawabannya: apa yang kaupandang baik untuk dirimu sendiri, lakukanlah itu untuk orang lain. Jika kamu ingin dicintai, cintailah. Jika kamu ingin dihormati, hormatilah. Jika kamu ingin ditolong, tolonglah. Apa pun yang kauharapkan dari orang lain, lakukanlah terlebih dahulu kepada orang lain. Tidak kurang daripada itu! Dalam arti ini, mencintai orang lain pun tidak terlepas dari aspek penyangkalan diri dan pengorbanan diri demi kebaikan orang lain.

Perlunya Penyangkalan Diri

Kebanyakan orang mengira bahwa mereka yang telah lama menjalani hidup saleh tidak perlu lagi menyangkal diri, seolah-olah mereka itu telah mampu mengalahkan segala godaan dengan sendirinya. Kenyataannya tidaklah demikian. Santo Paulus dengan hidup rohani dan pelayanan yang sedemikian mengagumkan tetap harus selalu berkata, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Kor. 9:27). Santa Margaret dari Cortona, di masa tuanya dan dalam kesucian yang terpancar nyata, tidak pernah melupakan penyangkalan diri sendiri dengan berkata, “Antara aku dan tubuhku harus ada perjuangan sampai mati…”

Jika kita sungguh-sungguh menyadari siapa saja musuh yang harus kita hadapi, pasti kita tidak akan kehilangan kewaspadaan kita. Musuh-musuh kita yang utama ada tiga, yakni dunia, setan, dan daging (diri sendiri). Menurut Santo Yohanes dari Salib, dari ketiga musuh jiwa tersebut, daging adalah musuh yang paling sulit untuk dikalahkan. Paulus sangat menyadari hal ini, seperti yang kita baca dalam Rm. 7:21-26. Menghadapi kelemahan insaninya, dengan sendirinya manusia tidak berdaya. Namun, harus segera ditambahkan bahwa bagaimana pun kelemahan manusia bisa diatasi. Bagaimana?

  1. Oleh rahmat Yesus Kristus dalam kuasa Roh Kudus-Nya (bdk. Rm. 7:25).
  2. Dengan keterbukaan kita terhadap rahmat tersebut. Kita harus mau dengan tegas hidup dalam rahmat Tuhan dan dengan demikian kita dapat menjauhi dosa. Di sinilah letak perlunya penyangkalan diri, sebagai latihan untuk semakin terbuka terhadap bimbingan dan pimpinan Roh Kudus.

Jadi, penyangkalan diri sungguh-sungguh perlu karena sebagai manusia kita memerlukan latihan untuk mengalahkan diri sendiri dan semakin membuka diri kepada rahmat Tuhan. Banyak orang-orang Kristen yang semula sangat saleh menjadi lemah dan akhirnya bahkan kehilangan imannya, sebab melalaikan yang satu ini. Kata Santo Petrus yang mungkin terdengar kasar namun memang tepat pada sasarannya, mereka ini seumpama, “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” (2 Ptr. 2:22). Hendaklah kita sungguh-sungguh memperhatikan hal ini.

Motivasi Penyangkalan Diri

Secara umum, ada tiga motivasi seseorang dalam melakukan penyangkalan diri:

  1. Motivasi-motivasi duniawi. Dengan motivasi-motivasi ini sebenarnya seseorang tidak melakukan penyangkalan diri kristiani. Orang dapat saja melakukan puasa untuk alasan diet atau yang lebih parah, supaya dianggap saleh. Orang-orang seperti ini “telah mendapat upahnya di dunia ini” (lih. Mat 6:1-2).
  2. Untuk memohon sesuatu dari Tuhan. Tindakan penyangkalan diri yang menyertai suatu ujud permohonan, cukup kompleks untuk dijelaskan sebab sangat mengandaikan permohonan apa yang diajukan. Namun, sebenarnya yang perlu diperhatikan di sini hanyalah disposisi batin dari yang memohon. Ada orang-orang, yang secara tidak sadar menganggap tindakan mereka sebagai suatu bentuk ‘sogokan’ kepada Tuhan agar keinginan mereka dipenuhi. Disposisi batin seperti inilah yang keliru. Tuhan tidak bisa dan tidak boleh disogok. Walaupun demikian, orang dapat melakukan penyangkalan diri, seperti puasa, pantang, dan lain-lain, supaya permohonannya dikabulkan Tuhan. Dalam hal ini penyangkalan itu merupakan pernyataan keseriusan dan iman mereka. Biarpun itu bukan yang paling luhur, namun baik juga, sebab kita harus pergi kepada Tuhan secara bertahap. Kalaupun suatu permohonan dikabulkan, hal tersebut tidaklah disebabkan oleh jasa dari kita. Disposisi batin yang tepat adalah disposisi batin seperti Kristus, yang melakukan segala pengorbanan-Nya tanpa memperhatikan kepentingan diri sendiri, melainkan semata demi orang lain. Dan semua dilakukan-Nya dalam kegelapan iman sekaligus kepasrahan yang luar biasa dari seorang anak.
  3. Untuk menyenangkan hati Tuhan. Motivasi terakhir ini berkaitan erat dengan motivasi yang kedua sebab perintah cinta kepada Tuhan sama dengan perintah cinta kepada sesama (lih. Mat. 22:39). Cinta yang terbesar adalah cinta dari seseorang yang mau mengorbankan diri demi sahabat-sahabat-Nya (bdk. Yoh. 15:13) dan cinta semacam ini hanya bisa dilakukan dalam cinta kepada Tuhan, yang menghendaki kebaikan bagi setiap manusia. Penyangkalan diri untuk menyenangkan hati Tuhan merupakan penyangkalan diri yang terluhur, yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri, melainkan hanya kehendak Tuhan semata. “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat. 26:39) Inilah motivasi yang paling luhur, namun biasanya orang tidak dapat sekaligus sampai pada motivasi yang demikian itu, melainkan secara bertahap.

Bentuk-bentuk Penyangkalan Diri

Secara manusiawi kita cenderung untuk mencari yang nikmat-nikmat dan menghindari yang membawa kesakitan atau kesedihan bagi kita. Dari kecenderungan dasar ini, secara sederhana kita dapat merumuskan penyangkalan diri sebagai tindakan memilih kesakitan dan menghindari kenikmatan demi Tuhan dan sesama. Umumnya, orang mengartikan penyangkalan diri sebagai suatu bentuk pantang atau puasa, tidak melakukan sesuatu yang menyenangkan secara lahiriah. Padahal, penyangkalan diri tidak hanya itu.

Penyangkalan diri tidak hanya soal tidak melakukan yang menyenangkan saja, melainkan dapat juga berupa usaha-usaha yang sangat positif, seperti memandikan orang yang sakit kusta atau berbuat baik kepada mereka yang menyakiti hati kita. Kita menyangkal diri kita dengan mengalahkan rasa enggan atau jijik demi cinta kepada Tuhan dan sesama. Dengan demikian, kesempatan untuk menyangkal diri menjadi sangat banyak dalam hidup sehari-hari. Seorang gadis yang baru pulang dari sekolah dan melihat ibunya sedang sibuk mencuci baju bisa menyangkal dirinya, mengalahkan rasa enggan dan capeknya, dengan segera membantu ibunya. Seorang anggota KTM (Komunitas Tritunggal Mahakudus, suatu kelompok awam) bisa menyangkal diri dengan mengalahkan keinginannya untuk istirahat dengan menyediakan waktu sebentar untuk berdoa atau membaca Kitab Suci. Seorang pegawai kantor dengan tersenyum kepada teman sekantornya yang telah memfitnahnya, telah melakukan perbuatan mulia menyangkal rasa perseteruan dalam dirinya.

Jadi ada dua bentuk penyangkalan diri:

  1. Penyangkalan diri pasif, dalam arti menolak untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan diri sendiri demi kebaikan yang lebih tinggi. Misalnya, tidak makan daging selama satu minggu demi keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian.
  2. Penyangkalan diri aktif, yakni dengan sadar mau melakukan suatu pengorbanan demi cinta kepada Tuhan dan sesama. Misalnya, lebih memilih untuk menemani kakek yang kesepian daripada nonton bersama teman-teman, mengusahakan hadiah ulang tahun yang terbaik bagi orang yang paling tidak kita sukai, dan sebagainya.

Dan ada dua pula sifat penyangkalan diri:

  1. Bersifat lahiriah, contohnya: pantang daging, membantu pekerjaan orang lain, memberi sedekah kepada orang miskin, dan lain-lain.
  2. Bersifat batiniah, yakni penyangkalan diri yang lebih mendalam daripada sekedar mengorbankan barang-barang atau tenaga fisik kita, tetapi juga mengorbankan kehendak dan keinginan pribadi. Jika penyangkalan yang bersifat lahiriah kadang-kadang masih memberi rasa puas karena telah membantu orang lain, penyangkalan diri batiniah seringkali tidak memberi kepuasan batin bahkan umumnya menyebabkan ketersiksaan dan kegelapan batin. Namun, tidak berarti bahwa orang yang melakukan ini akan kehilangan kebahagiaannya. Menderita tidak berarti harus kehilangan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak harus memberikan perasaan puas. Kebahagiaan sejati terletak dalam pengorbanan demi mereka yang dikasihi. Meskipun sifatnya batiniah, penyangkalan diri batiniah tetap diwujudkan dalam tindakan fisik, contohnya: merelakan barang kesayangan, tersenyum kepada mereka yang tidak disukai, menahan diri untuk tidak marah, bersikap lemah lembut meskipun difitnah dan disakiti, mendoakan musuh, dan sebagainya. Seringkali orang menganggap penyangkalan diri semacam ini adalah semacam sikap munafik. Pandangan ini sama sekali tidak benar, karena motivasi penyangkalan diri ini adalah untuk mengasihi Tuhan, dan bukan yang lain. Suatu tindakan menjadi munafik apabila motivasinya didasarkan atas kepentingan diri sendiri.

Sebagai latihan penyangkalan diri baiklah kita melihat daftar dalam Gal. 5:16-26:

a. Yang harus kita hindari adalah:

◦ percabulan,

◦ kecemaran,

◦ hawa nafsu,

◦ penyembahan berhala,

◦ sihir,

◦ perseteruan,

◦ perselisihan,

◦ iri hati,

◦ amarah,

◦ kepentingan diri sendiri,

◦ percideraan,

◦ roh pemecah,

◦ kedengkian,

◦ kemabukan,

◦ pesta pora,

◦ dan sebagainya (silakan tambah sendiri).

b. Yang harus kita usahakan adalah:

◦ kasih,

◦ sukacita,

◦ damai sejahtera,

◦ kesabaran,

◦ kemurahan,

◦ kebaikan,

◦ kesetiaan,

◦ kelemahlembutan, dan

◦ penguasaan diri.


LATIHAN

1. Apakah engkau memang menganggap daging sebagai musuhmu? Mengapa?

2. Coba engkau terangkan apa itu penyangkalan diri dengan kata-katamu sendiri.

3. Sebutkan 3 (tiga) saja perbuatan daging yang sungguh-sungguh telah engkau hindari selama satu minggu ini:

a. __________________ b. __________________ c. __________________

4. Demikian juga, sebutkan 3 (tiga) perbuatan roh yang telah engkau usahakan dalam minggu terakhir ini:

a. __________________ b. __________________ c. __________________

Ternyata untuk menyebutkan tiga saja perbuatan daging yang telah kita hindari atau perbuatan roh yang telah kita lakukan seringkali masih sangat sukar. Karena itu, jangan pernah berpuas diri dan lalai. Waspada setiap saat dan kejarlah kesempurnaan! “Hendaknya engkau sempurna seperti Bapamu yang di surga sempurna adanya” (Mat. 5:48).

Rm. Georgius Paulus

Tinggalkan komentar

3 November 2011 · 08:55

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s