Bertumbuh dalam Kerendahan Hati

Bagaimana kita memperoleh kerendahan hati setelah kita melihat bagaimana kesombongan menghancurkan orang dan bagaimana sebetulnya kita tanpa disadari seringkali jatuh ke dalam kesombongan dan akhirnya membawa kepada kebinasaan. Kita telah melihat acedia yang merupakan penyakit yang agak umum, tetapi jika kita sadari kita coba untuk menghindarinya. Bagaimana kita dapat memperoleh kerendahan hati yang merupakan kebajikan yang sangat berkenan di hadapan Allah. Seperti yang dijelaskan pada permulaannya, dalam hidup rohani kerendahan hati adalah dasar sedangkan cintakasih itu adalah mahkotanya maka sebuah bangunan rohani supaya dapat berdiri kokoh kuat dan tidak akan roboh harus diletakkan pada dasar kerendahan hati yang sangat kuat dan sangat dalam.

1. Bagaimana Kita dapat Memperoleh Kerendahan Hati

Salah satu sebab mengapa seringkali kita tidak memperoleh kerendahan hati ialah karena kita kurang menyadari, kurang memeriksa diri kita, kurang menyadari kerapuhan dan kepapaan dalam diri kita sendiri. Misalnya kita membayangkan seorang penjahat di hadapan pengadilan, setelah tertangkap dibuktikan segala kejahatannya, dia berdiri di muka hakim mungkin dengan kepala tertunduk karena dia malu dan sadar bahwa sewaktu-waktu dapat dijatuhkan hukuman yang berat. Lebih-lebih jika dia sadar kejahatannya yang berat maka dia akan berdiri dengan rendah hati di hadapan hakim dengan mengakui kejahatannya. Jika kita di hadapan Allah me-nyadari segala dosa-dosa yang kita lakukan, kecenderungan-kecenderungan jahat yang masih ada dalam diri kita, bahwa sewaktu-waktu kita bisa dibawa kepada dosa-dosa yang mengerikan kalau tidak dijaga oleh Allah.

Karena dosa-dosa itu sebenarnya kita patut mendapat neraka atau kita patut dimasukkan ke neraka. Salah satu pengalaman St. Teresa dari Avila yang membuat ia begitu rendah hati dan itu merupakan pengalaman tidak terlupakan. Suatu ketika ia diberi rahmat oleh Tuhan dalam sebuah visiun dan diajak “melihat” neraka. St. Teresa dibawa oleh Tuhan dalam suatu penga-laman rohani, diperlihatkan neraka oleh Yesus dan ditunjukkan “itulah sebetulnya tempat yang disediakan bagimu jika engkau tidak bertobat”. Lalu St. Teresa kemudian begitu menyadari semua itu dan pengalaman itu membuat dia rendah hati untuk seumur hidupnya karena setiap kali teringat kembali akan pengalaman itu begitu mengerikan. Dia sadar akan patut mendapat hukuman kalau dia tidak bertobat.

Dengan demikian karena ia merasa telah diselamatkan oleh Tuhan dan diampuni dosa-dosanya, ia sadar akan kelemahan dan kerapuhannya menjadikan dia tetap rendah hati. Oleh karena itu dengan demikian kalau kita sadar akan semuanya itu, kecenderungan-kecenderungan yang masih ada dalam diri kita dan kita berjuang terhadap kelemahan-kelemahan itu, yang satu mungkin lebih dari yang lain tetapi kecenderungan itu tetap ada dan kalau kita merenungkannya bahwa untuk itu kita membutuhkan rahmat Tuhan. Seandainya kita tidak diberikan rahmat oleh Tuhan kita pasti sudah jatuh. Karena itu pemazmur juga mengatakan bahwa “Bila orang tidak menjadi rendah hati karena orang kehilangan takut akan Allah” seperti yang dikatakan Mazmur 36:2 “Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu”. Karena itu dia akan melakukan dosa itu dan menjadi sombong.

2. Takut akan Allah adalah Permulaan Kebijaksanaan

Kalau kita memiliki takut yang suci ini dapat dikatakan juga “Takut akan Allah adalah permulaan kebijaksanaan” (Lih. Ams. 1:7) yang dimaksud takut akan Allah yaitu bukan takut untuk melakukan sesuatu tetapi kita sadar bahwa jangan-jangan kita sewaktu-waktu kita bisa menghina Allah, bisa menyakiti hati Allah. Oleh karena itu takut akan Allah ini harus selalu ada, kalau kita melihat ketujuh karunia Roh Kudus maka salah satu yang paling dasar ialah Takut akan Allah yang puncaknya adalah hikmat atau kebijaksanaan. Tetapi takut akan Allah ini akan selalu ada bahkan dalam orang kudus yang besar, takut akan Allah ini ada. Bukan karena takut akan dihukum atau apapun tetapi ‘takut’ bahwa dia dapat menghina Allah bahwa sewaktu-waktu dia dapat jatuh. Karena memang kesadaran akan kelemahan, kerapuhan kita maka kadang-kadang merenungkan kerapuhan-kerapuhan kita itu penting sekali.

Lebih-lebih apabila kita tergoda untuk menjadi sombong dan sebagainya, kita merenungkan kerapuhan-kerapuhan, dosa-dosa yang telah terjadi bukan untuk jatuh dalam dosa itu tetapi untuk menyadari godaan ke dalam kesombongan, kita mengakui di hadapan Tuhan “Aku ini seo-rang pendosa dan tanpa rahmat-Mu aku bisa menjadi lebih jahat lagi”. Karena itu juga orang-orang kudus justru menganggap diri mereka orang yang berdosa. Kalau St. Paulus menulis dalam suratnya bahwa dia tidak layak disebut rasul, itu bukan hanya basa-basi melainkan keluar dari kesadaran Paulus yang sangat besar bahwa dia tidak layak disebut rasul karena dia telah banyak berdosa karena telah menganiaya umat Allah dan dosa itu selalu membayangi di hadapan matanya, membuat dia rendah hati. Karena dia merasa “Aku tidak layak disebut rasul” karena dia tahu sebetulnya bahwa dia telah berdosa tetapi dari pihak lain kerendahan hati yang sejati tidak membuat putus asa tetapi dia percaya akan Kerahiman Allah yang jauh lebih besar.

3. Kejatuhan Petrus dan Yudas Iskariot

Kita melihat perbedaan kalau kesada-ran akan dosa membuat kita sadar untuk tidak berputus asa sebab berbeda jika kita lihat antara Petrus dan Yudas. Petrus yang telah menyangkal Yesus dengan sangat mengerikan dimana Petrus mengatakan “Aku tidak mengenal orang itu” (Lih. Mat. 26:69-75; Mrk. 14:66-72; Luk. 22:56-62; Yoh. 18:15-18, 25-27) tetapi kemudian Petrus sadar lalu menangis dan masih percaya kepada kasih Allah dan pengam-punan dari Tuhan Yesus. Setelah kebangkitan ketika Petrus ditanyai Yesus “Petrus, apakah engkau mengasihi aku lebih dari mereka itu?” Petrus hanya bisa menjawab “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Lih. Yoh. 21:15-19). Bagaimanapun juga Petrus tidak berani berkata seperti sebelumnya ketika jatuh dan akan menyangkal Yesus “Tuhan, sekalipun me-reka meninggalkan Engkau aku tidak akan meninggalkan Engkau!” (Lih. Mat. 26:30-35; Mrk. 14:26-31; Luk. 22:31-34; Yoh. 13:36-38). Di sini Petrus hanya mengatakan “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” dan Petrus tidak lagi berani mengatakan sesuatu yang lain daripada itu.

Karena kejatuhannya Petrus tidak berani lagi melakukan hal yang serupa karena Yesus mengatakan kepada Petrus “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Luk. 22:32). Karena Petrus masih diberikan rahmat dan menjadi sadar. Karena kemudian jika kita membaca surat Petrus, pada hari tuanya maka kita lihat nada-nada kesombongan Petrus sudah tidak ada lagi. Begitu berbedanya jika dibandingkan ketika Petrus berkata“Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lain pun berkata demikian juga” (Mat. 26:35). Dia begitu yakin akan kekuatannya, karena dia begitu yakin akan kekuatannya Petrus dibiarkan ‘jatuh’ dalam kerapuhannya.

Sebaliknya Yudas karena ia tidak setia dan dia tidak sungguh-sungguh mencintai Yesus, akhirnya jatuh begitu dalam, lebih dalam daripada kejatuhan Petrus. Karena Yudas dengan sengaja mengkhianati Tuhan Yesus, ini terjadi karena Yudas menolak rahmat Allah. Sampai akhirnya ketika dia sadar bahwa dia telah mengkhianati Yesus dan tidak memiliki kerendahan hati serta tidak memiliki cinta Allah dan tidak sungguh-sungguh mencintai Yesus maka ia menjadi putus asa. Karena sadar akan dosa-dosanya yang begitu besar, iblis menggodanya untuk terakhir kalinya ‘tidak ada jalan bagimu selain untuk menggantung diri’ dan itu yang dilakukan oleh Yudas.

4. Kerendahan Hati Para Kudus

Kita harus sadar akan hal ini bahwa tanpa rahmat Allah kalau Allah tidak melindungi kita dan tidak menjaga kita, kita mungkin jatuh seperti Yudas. Itu tidak mustahil, jika kita tidak ditolong oleh rahmat Allah. Di surga selalu ada orang-orang kudus yang selalu menyadari dirinya adalah orang yang berdosa. Para kudus mengerti orang yang berdosa, St. Teresa kalau berbicarapun dia menyadari bahwa dia lebih berdosa dari yang lain. Ini bukan suatu kepura-puraan karena dia sadar akan kapasitas atau kecenderungan kemungkinan dia melakukan dosa-dosa seandainya tidak di-ahan oleh Allah.

Kita mengerti pengakuan St. Theresia dari Lisieux, suatu saat dia oleh pembimbing rohaninya dikatakan “Kalau melihat keadaanmu ini hanya dua kemungkinan engkau akan menjadi setan kecil atau malaikat” dan St. Theresia sadar Tuhan mengasihinya sehingga Ia menjauhkan itu. Pada puncak hidupnya St. Theresia sadar bahwa dia bisa lepas dari semua itu karena Kerahiman Allah, seolah-olah semua hambatan disingkirkan. Memang Tuhan memelihara dia dan dia sadar, karena itu Theresia begitu sadar dan mengatakan “Tuhan mengasihi aku melebihi yang lain”, lebih daripada seorang pendosa besar karena dia tahu bahwa sebetulnya dalam dirinya ada kapasitas untuk menjadi jahat sekali seandainya rahmat Allah tidak menopang dia.

Karena itu kita melihat St. Theresia yang mencintai kelemahannya dan kekecilannya karena ia mengalami kerahiman Allah yang mahabesar. Karena itu St. Theresia menjadi begitu rendah hati karena dia sadar, karena tanpa rahmat Allah ia akan menjadi seperti yang dikatakan pembimbingnya itu ‘menjadi setan kecil atau setan besar’. Untuk itu kita merenungkan, melihat segala kerapuhan dalam diri kita, kita tidak berani menengadahkan kepala kita, tetapi kita akan seperti pemungut cukai dan berkata “Kasihanilah aku orang yang berdosa ini” (Lih. Luk. 18:13).

Seperti pohon yang buah-buahnya menjadi lentur dan tidak jatuh karena akarnya kuat, demikianlah juga kita itu bisa bertahan walaupun ada macam-macam beban karena rahmat Tuhan yang memperkuat kita. Bukan karena kemampuan saya, kebajikan saya tetapi semata-mata karena rahmat Allah yang menopang aku. Kita dapat membayangkan kalau kita yang ber-ada di tempat orang-orang tertentu, apakah saya akan menjadi lebih baik dari dia? Itu belum tentu, mungkin bisa menjadi lebih jahat, kalau kita melihat seorang kriminal tertentu tetapi jika kita di tempat dia, kita mungkin bisa atau bahkan jauh lebih jahat dari orang itu.

Kesadaran akan kerapuhan ini harus selalu menyertai kita. Dalam sejarah kita melihat orang yang berkembang baik dalam permulaannya. Kemudian bisa jatuh begitu dalam dan hal ini sering terjadi. Orang begitu bersemangat pada permulaan dan kemudian jatuh lebih dalam, kita lihat misalnya dalam sejarah gereja banyak sekali orang seperti itu. Orang seperti itu kemudian memberontak dan menjadi bidaah dengan kata lain memusuhi Gereja. Orang-orang bidaah itu bukanlah orang yang bodoh, justru bidaah-bidaah itu orang yang memiliki otak yang cemerlang, tetapi karena tidak menyadari kerapuhannya sendiri sehingga menjadi sombong dan menjadi bidaah.

5. Kerendahan Hati yang Palsu

Dari pihak lain ada suatu bentuk kerendahan hati palsu, kerendahan hati palsu ini terjadi dan orang membanggakannya bahwa dia itu orang berdosa, kalau ini dinamakan “Farisi Kuadrat”. Sudah jelas-jelas ‘berdosa’ tetap membanggakan diri dan ini terjadi. Dia membanggakan diri dan tidak seperti ‘farisi-farisi itu’. Dia mengadili orang lain padahal dia sendiri melakukan dosa-dosa yang mengerikan dan masih berbangga “Saya memang orang berdosa tidak seperti farisi-farisi itu’ dan ini namanya farisi kuadrat. Orang farisi jika dibandingkan dengan orang ini masih lebih baik, farisi itu sekurangnya melakukan sesuatu yang baik walaupun motivasinya kurang baik. Orang terang-terangan melakukan kejahatan dan berbangga-bangga terhadap kejahatannya itu dan ini disebut perversi, bukan saja melakukan dosa tetapi jauh melampaui itu dan disebut perversi artinya pemutarbalikan nilai-nilai yang mengerikan.

Ini membuat kita harus selalu rendah hati maka kita berdoa kepada Tuhan “Tuhan, berilah aku rahmat untuk tetap setia dan bertekun sampai akhir”, memohon rahmat untuk hari ini dan kalau kita mungkin takut dapat bertahan sampai akhir baiklah kita memohon rahmat untuk hari ini dan dari hari ke hari kita dapat bertekun. Oleh karena itu, kita perlu memohon rahmat dari Tuhan, yaitu rahmat untuk ketekunan itu. Kita juga mohon seperti yang dilakukan St. Agustinus “Tuhan, semoga aku mengenal diriku sendiri supaya aku mengenal Engkau dan mengenal diriku sendiri. Berilah aku rahmat-Mu ya Tuhan untuk mengenal diriku supaya aku tetap rendah hati”. “Kalau saya menyadari kerapuhan, kekecilan dan ketidakberdayaanku sendiri dan kecenderungan-kecenderungan kepada yang jahat maka aku akan dipenuhi rasa takut kepada-Mu, takut jangan-jangan saya menghina Engkau, jangan-jangan saya jatuh dalam dosa”.

6. Betapa Aku Membutuhkan Rahmat-Mu ya Tuhan

Kalau kita mau melihat ke dalam hati kita, kita akan menyadari bahwa dalam diri ini sebenarnya begitu rapuh. Maka kita sadar bahwa dari diri kita sendiri “saya tidak berdaya” berapa kali kita mengambila niat-niat untuk melakukan sesuatu yang baik mungkin juga mengakukan dosa tertentu dan setelah mengakukan masih melakukan dosa tersebut. Betapa seringnya bahwa orang jatuh pada dosa-dosa yang sama, artinya kita sadar sebenarnya bahwa kalau kita diserahkan pada diri sendiri kita dapat melakukan hal-hal yang jahat melebihi orang-orang lain. Kalau hati kita seperti galah atau gelagah yang digoyangkan angin, kalau angin bertiup dari utara ia akan membungkuk ke selatan, jika angin bertiup dari selatan ia akan membungkuk ke utara sehingga ada kesempatan untuk berbuat dosa dan kita mudah sekali jatuh.

Pada saat-saat tertentu seperti yang dikatakan Pemazmur “Pada saat ada semangat yang berkobar-kobar akan berkata untuk selamanya aku tidak akan jatuh” tetapi baru saja rahmat Tuhan ditarik kita sudah tidak berdaya. Kalau kita lihat cerita Nabi Elia yang sangat berharga bagi kita, Elia yang semangatnya berkobar-kobar karena rahmat Tuhan yang dicurahkan kepadanya dia tidak takut menghadapi 400 nabi Baal. Seorang diri dengan penuh keyakinan dan penuh keberanian tampil menantang mereka “Kalau Baal, allah mereka sembah Baal, tetapi kalau Yahwe adalah Allah mereka sembahlah Dia”. Untuk membuktikan siapa yang Allah sebenarnya, mari kita mengadakan semacam pertandingan. Nabi-nabi Baal mempersembahkan kurban tetapi tanpa api dan Elia mempersembahkan kurban tanpa api. Allah yang menjawab kurban itu, Dialah Allah yang benar. Elia memberikan kesempatan nabi Baal untuk memulai lebih dahulu persembahan mereka. Dengan penuh keyakinan dan kepercayaan Elia berdoa kepada Allah dan api turun dari surga serta membakar kurban-kurban tersebut. Padahal Elia menghadapi semua nabi Baal tanpa gentar dan takut, suatu keberanian yang luar biasa dan tidak berpikir bahwa dia tidak akan gagal walaupun nabi-nabi Baal telah gagal untuk mendatangkan api dari langit, tetapi kalau Elia gagal maka ia akan dianggap sebagai seorang penipu.

Dengan penuh keyakinan karena rah-mat Tuhan menyertai dia, menghadapi rakyat dan semua umat Israel yang bermusuhan serta nabi Baal yang banyak jumlahnya ia tidak takut. Setelah kemenangan yang gilang-gemilang itu Tuhan menunjukkan bahwa seluruh keberhasilan Elia berasal dari rahmat Tuhan. Ketika suatu saat ada ancaman dari Izebel“Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu” (1 Raj. 19:2). Elia menjadi takut dan mengeluh kepada Tuhan “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku” (1 Raj. 19:4). Kita melihat sebetulnya bahwa apa yang menyebabkan ia berhasil menaklukkan nabi-nabi Baal semata-mata rahmat Tuhan. Kita dapat berkata kalau Elia saja yang begitu hebat bisa hampir putus asa apalagi kita kalau kita bersandar pada kekuatan sendiri.

Kita melihat contoh yang lain bahwa Salomo yang penuh dengan kebijaksanaan akhirnya bisa jatuh begitu dalam. Maka siapakah kamu anggap dirimu bahwa kamu tidak bisa jatuh? Ini bukan membuat kita menjadi takut, tetapi untuk Takut akan Allah bahwa kitapun bisa jatuh dan menjadikan kita tetap rendah hati. Beberapa ahli hidup rohani mengajarkan kepada kita “Jangan memikirkan perkara-perkara yang sulit”. Dengan sengaja memikirkan “Bagaimana seandainya suatu saat menghadapi penganiayaan? Apakah saya dapat menjadi martir atau tidak?”. Para pengarang rohani mengatakan “Jangan berpikir atau berkhayal seperti itu” dengan memikirkannya dengan sengaja kita telah jatuh. Apabila pikiran itu timbul berbeda jika kita memikirkannya dengan sengaja dan pakailah itu tetap rendah hati di hadapan Tuhan, kita katakan kepada-Nya “Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dari diriku sendiri aku begitu lemah dan rapuh. Bantulah aku ya Tuhan karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi, karena kekuatanku terbatas dan aku tidak mampu menanggungnya jika aku disiksa karena se-sungguhnya aku membutuhkan kekuatan-Mu ya Tuhan”.

Dan membuat kita semakin rendah hati dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. “Tanpa rahmat-Mu ya Tuhan aku akan murtad, tanpa rahmat-Mu aku tidak akan tahan. Akan tetapi, Engkau memberikan rahmat kekuatan sehingga aku bisa bertahan”. Karena diarahkan untuk berharap kepada Allah dan menyadari kelemahan dan kerapuhan kita. Jikalau kita sadar kita ini orang yang lemah maka kita akan berjaga-jaga sehingga tidak takut bahaya dan apabila kita berhati-hati biasanya tidak akan jatuh.

7. Cara Memperoleh Kerendahan Hati

Satu cara yang dipakai seorang kudus untuk memperoleh Kerendahan Hati dimana ia berdoa “Tuhan, aku tidak tahu kerendahan hati itu tetapi saya hanya tahu saya tidak memilikinya dan dari diriku sendiri aku tidak bisa memperolehnya. Kalau aku tidak memiliki kerendahan hati aku tidak akan diselamatkan karena itu bagiku sekarang hanya kemungkinan ini yaitu meminta kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu tetapi berilah aku rahmat-Mu untuk memohon sebagaimana mestinya. Bahkan kita tidak tahu bagaimana harus berdoa karena itu berikanlah kepadaku rahmat-Mu untuk memohon sebagaimana seharusnya. Engkau telah berjanji kepadaku untuk memberikan segala sesuatu yang saya minta kepada-Mu dan yang perlu untuk keselama-tanku yang kekal. Saya tahu kerendahan hati yang paling penting bagi saya dan Iman Katolik mengajarkan kepadaku bahwa Engkau akan memberikan bila aku memohonnya kepada-Mu sebagaimana mestinya. Tetapi justru Tuhan disinilah kesukarannya karena aku tidak tahu bagaimana aku harus berdoa karena itu ajarlah aku memohon secara tepat supaya aku berdoa seperti yang Engkau kehendaki”.

Sebenarnya dalam doa kita sadari yang terpenting bukanlah apa yang kita katakan, tetapi yang terpenting ialah apa yang dikatakan oleh Roh Kudus di dalam diri kita. Dengan demikian akan membuat kita selalu rendah hati. “Tuhan, Engkau memerintahkan saya supaya saya rendah hati dan saya siap untuk taat tetapi berikanlah rahmat-Mu supaya dengan bantuan-Mu aku sungguh-sungguh menjadi seperti yang Engkau kehendaki”. Kalau kita menyadari ini, kita akan mohon kepada Tuhan dan dari pihak kita melakukan apa yang dapat kita lakukan dengan doa-doa kita. Kalau Tuhan melihat bahwa kita sungguh-sungguh serius dalam hal ini maka Tuhan akan datang menolong kita. Dia akan memproses kita sehingga kita menjadi rendah hati melalui bermacam-macam pencobaan, penderitaan, pemurnian-pemurnian, dan inilah yang menjadikan kita rendah hati.

Dalam pemurnian atau malam gelap seperti yang dikatakan St. Yohanes Salib “Proses pemurnian begitu mendalam sehingga kita menyadari secara mendalam ketidakberdayaan kita”. Dari satu pihak misalnya dalam kebajikan-kebajikan lain kita kurang lebih tahu kita telah memilikinya, kita dapat bertanya “Apakah saya taat? Saya tahu jika saya diperintahkan, saya dengan rela dapat mentaatinya maka dapat dikatakan saya memiliki ketaatan. Jika memiliki kebajikan kesabaran saya dapat menanggung pencobaan yang dialami dengan sabar berarti saya memiliki kebajikan ini”. Tetapi mengenai kerendahan hati, kita tidak bisa melakukannya dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif sebab kalau berpikir seseorang itu rendah hati ini merupakan suatu penipuan kemudian tampil seolah-olah rendah hati padahal hanya merupakan kerendahan hati yang palsu supaya dikatakan rendah hati. Ada orang yang merendahkan diri supaya ditinggikan atau dipuji-puji misalnya “saya tidak bisa apa-apa atau saya ini orang jahat atau saya ini lemah ini dan itu” kemudian ada seorang yang menanggapi “Memang kamu tidak bisa apa-apa atau memang kamu jahat atau kamu ini lemah” dan orang tersebut langsung marah-marah dan mengomel dan lain sebagainya sehingga ‘topengnya’ terbuka padahal sebenarnya ia ingin dipuji, ditinggikan atau dikatakan ‘rendah hati’.

Kalau orang berpikir dia itu rendah hati sebenarnya dia itu tidak rendah hati dan menipu dirinya sendiri. Sebaliknya kalau kita sadar masih memiliki kesombongan itulah permulaan kerendahan hati. Orang sungguh rendah hati akan mudah menerima kalaupun dimaki-maki ia akan mengatakan “Saya pantas dan layak menerima itu semua”, kalau dihina ia akan me-ngatakan “Sudah selayaknya saya pantas mendapatkan penghinaan itu karena dosa-dosa saya”. semakin orang mengira dirinya rendah hati semakin sombonglah dia tetapi kalau seseorang merasa tidak berdaya dan lemah kita harus berani menyadarinya. Kerendahan hati suatu rahmat yang besar tetapi kerendahan hati palsu malah menggelikan. Kerendahan hati suatu rahmat dan kebajikan yang sulit didapatkan tetapi amat dibutuhkan, untuk memperoleh ke-rendahan hati kita pertama-tama menyadarinya, lalu jalan yang paling baik untuk memperoleh kerendahan hati, jalan yang paling utama untuk mencapai kerendahan hati ialah sebenarnya adalah cintakasih, karena cintakasih itu rendah hati.

Suatu saat St. Fransiskus dari Sales bersama dengan seorang biarawati dan suster itu berkata kepada St. Fransiskus dari Sales “Saya ingin memiliki kerendahan hati supaya dapat memperoleh cintakasih” dan St. Fransiskus mengatakan kepadanya “Saya ingin mengejar cintakasih agar memperoleh kerendahan hati”. Apa yang dikatakan St. Paulus “Cintakasih tidak membanggakan diri” (Lih. 1 Kor. 13:1-13). Jalan kerendahan hati yang utama akhirnya kem-bali kepada Cintakasih. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1 Kor. 13:4), orang yang memiliki kasih itu dengan sendirinya tidak akan sombong. St. Theresia Lisieux sebetulnya ‘Jalan Kecilnya’ adalah jalan cintakasih, dalam segala sesuatu melakukan demi kasihnya kepada Allah karena ia melakukannya dengan setia, ia diberikan karunia kerendahan hati yang sangat besar. Jalan yang paling aman untuk mencapai kerendahan hati akhirnya kembali kepada Jalan Cinta Kasih.

Hanya Cintakasihlah jalan satu-satunya, jalan yang rajawi cintakasih kepada Allah dan cintakasih kepada sesama. Karna cintakasih kepada Tuhan tidak bisa dilepaskan daripada kasih kepada sesama, jika kita berkembang dalam cintakasih kita akan berkembang dalam kerendahan hati. St. Teresa Avila itu menekankan untuk sungguh-sungguh merenungkan keadaan kita untuk mencapai kerendahan hati. St. Teresa Avila menggambarkan kerendahan hati seperti lauk yang harus menyertai makanan walaupun lauk pauk kadang-kadang harus diganti. Kerendahan hati bagaimana kita berusaha kita tidak akan mencapainya dengan sempurna tetapi jika Tuhan sungguh melihat kita sungguh-sungguh ingin mencapainya maka Allah menolong kita dengan memproses atau memurnikan kita sehingga kita benar-benar menjadi rendah hati.

Untuk itulah kita mohon kepada Allah seperti St. Agustinus “Tuhan, ajarlah aku mengenal Engkau dan mengenal diriku sendiri” jika kita sungguh mengenal diri sendiri kita akan sungguh menjadi rendah hati dan kerendahan hati yang sejati adalah buah dari cintakasih. Maka St. Paulus mengatakan “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1 Kor. 13:4), pada saat-saat tertentu perlu menyadari kelemahan-kelemahan kita, dosa-dosa kita supaya kita sadar tetapi pada waktu selanjutnya kita harus berfokus dan hidup di hadirat Allah. Walaupun sering kita kembali kepada diri kita, menyadari kerapuhan dan kelemahan kita tetapi jangan terus menerus dan berputar-putar pada kelemahan tersebut karena akan berpusat pada diri sendiri.

Perhatian kita yang paling utama selalu dan dalam kerendahan hati, yaitu: berfokus kepada Tuhan seperti yang dikatakan St. Teresa Avila “Kerendahan hati yang sejati diperoleh melalui pengalaman kasih Allah” karena jikalau Tuhan memberikan kasih-Nya, Dia sekaligus menyinari dengan Terang yang besar keadaan kita dengan rahmat-Nya. St. Yohanes Salib menerangkan jika Allah menerangi kita dengan Terang-Nya seperti ruangan tanpa lampu yang menyala tetap dalam keadaan gelap dan mengira ruangan tersebut ‘bersih’ tetapi setelah lampu dinyalakan maka kelihatan seluruh keadaan ruangan dengan kotoran-kotorannya, debu-debu dan seba-gainya. Jika Allah mencurahkan rahmat-Nya ke dalam hati kita melalui pengalaman kasih Allah itu sekaligus menunjukkan kedosaan kita, itulah sebabnya pengalaman Allah dalam Pencurahan Roh Kudus mem-bawa orang kepada pertobatan. Dari satu pihak melalui pengalaman kasih itu disa-darkan akan dosa-dosanya yang besar dan banyak sehingga bertobat dan mengalami kasih Allah yang melampaui segala penger-tiannya.

Kita harus menyadari mengenai kerendahan hati, dan akhirnya kita harus berfokus dan sungguh-sungguh hidup dalam hadirat Allah. Jika kita sungguh hidup di hadirat-Nya, kita akan memperoleh kerendahan hati, kecuali jika kita tidak hidup di hadirat Allah kita tidak memperoleh kerendahan hati. Dalam spiritualitas karmel kita harus hidup di hadirat Allah dan menyadari kelemahan kita tetapi kembali lagi hidup melulu bagi Allah yang maharahim dan dalam kesadaran bahwa saya masih tetap bertahan hingga saat ini berkat rahmat dan belaskasihan Allah.

Written by Rm. Yohanes Indrakusuma   

Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s