Meneladan “Maria Menerima Kabar Sukacita”

Kita tentunya telah mengetahui bahwa peranan Maria yang terutama dalam hidup kita adalah memberi kita Immanuel (“Allah beserta kita”). Namun tulisan ini, dalam rangka merayakan hari “Maria menerima kabar sukacita” (25 Maret), mau mengajak kita untuk merenungkan sejenak pemberiannya yang lain, yaitu: teladannya, khususnya teladan yang diberikannya dalam menerima kabar sukacita. Pembahasan kita berdasarkan Injil Lukas, yaitu Lukas 1:26-38. Maria adalah teladan kita dalam mengikuti Putra-Nya, dalam melaksanakan kehendak Bapa, dalam perjalanan hidup rohani kita menuju kekudusan.

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, ” (ayat 26)

Kita lihat bahwa malaikat Gabriel diutus oleh Tuhan, jadi yang menjadi “titik mula” atau “awal” adalah inisiatif Tuhan (bdk. Gal 4:4). Maria saat itu tidak mengetahui rencana Tuhan secara keseluruhan ataupun seluruh tahap-tahap perjalanan panggilannya. Dia bahkan tidak mengetahui bahwa alasan utama Penjelmaan Kristus adalah apa yang diungkapkan Santo Paulus: “Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” (Gal 4:5). Dia hanya mengetahui apa yang dikatakan malaikat Gabriel kepadanya.

Demikian juga situasi hidup rohani kita. Kita tidak mengetahui rencana Tuhan seluruhnya. Dia membimbing kita langkah demi langkah. Maria mengajar kita untuk mengikuti bimbingan-Nya dalam iman dan membiarkan Dia memilih sendiri cara dan saat-Nya sendiri dalam merealisasikan rencana-Nya. Suatu kepasrahan dalam iman.

Nazaret hanyalah sebuah dusun kecil yang tidak dianggap penting. Maria adalah wanita dusun. Kesederhanaan dan ketersembunyian hidupnya mengajarkan kesederhanaan dan kerendahan hati. Akan tetapi, lebih dari itu dia mengajar kita sikap kontemplatif dalam hidup sehari-hari melalui dan dalam kesederhanaan dan ketersembunyiannya itu.

Tempat, kekayaan, genealogi (asal-usul keturunan), status sosial dari Maria tidak penting bagi Tuhan. Semuanya itu tidak penting untuk mengikuti panggilan-Nya, untuk menjadi kudus.

kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. (ayat 27)

Saat malaikat datang membawa panggilan dan rencana Tuhan untuknya, Maria berada dalam situasi hidupnya, mempunyai rencana hidupnya sendiri (misalnya: akan menikah dengan Yusuf), dan lain-lain. Maria harus memilih, harus memutuskan rencana siapa yang mau diikutinya. Kita masing-masing tentu juga mempunyai rencana kita sendiri, entah besar entah kecil. Maria mengajar kita untuk mempunyai hati dan sikap terbuka terhadap rencana Tuhan dan menempatkannya di atas rencana kita sendiri. Dia mengajar kita untuk memilih rencana Tuhan dan meninggalkan rencana kita yang tidak sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: «Salam, hai engkau yang penuh rahmat[1], Tuhan menyertai engkau. » (ayat 28)

Kedatangan malaikat Gabriel dan panggilan Tuhan seumpama sebuah interupsi dalam hidup dan situasi Maria. Kata-kata “penuh rahmat” menunjukkan bentuk pasif. Keadaan Maria yang penuh rahmat itu bukan merupakan hasil perbuatannya sendiri, melainkan dari Tuhan. Maria tidak mempunyai jasa untuk pemberian gratis ini. Tuhan bebas memberi dan memanggil siapa saja yang dikehendaki-Nya. Ini adalah pilihan bebas dari-Nya. Dia tidak memilih dengan “menutup mata”, dia juga tidak memperhitungkan penampilan manusiawi. Apa yang dilihat-Nya adalah hati kita (bdk. 1Sam 16:7). Di pihak lain, Maria bebas untuk menjawab “ya” ataupun “tidak” terhadap panggilan Tuhan. Jadi, ini merupakan suatu pertemuan antara kebebasan Tuhan dan kebebasan kita. Maria mengajar kita untuk memakai kebebasan kita untuk menggenapi rencana Tuhan.

Kata-kata “Tuhan menyertai engkau” menunjukkan kehadiran Tuhan (Tuhan selalu hadir bersamanya, bukan hanya pada saat kedatangan malaikat Gabriel) dan campur tangan Tuhan (tanpa Tuhan, Maria tidak bisa berbuat apa-apa). Salam seperti ini banyak kita jumpai dalam Perjanjian Lama. Biasanya ini diberikan kepada utusan atau dalam misi-misi yang sukar (misalnya: Kej 15:1; Yos 1:9; Hak 6:12). Begitupun dalam hidup rohani kita. Tuhan selalu menyertai kita dalam hidup rohani kita. Tanpa Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa, seperti kata Santo Paulus bahwa kita membutuhkan Roh Kudus untuk dapat memanggil Tuhan sebagai Bapa (bdk. Rm 8:15). Tuhanlah pemeran utama dalam hidup rohani kita.

Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. (ayat 29)

Menerima salam malaikat, Maria tidak langsung gembira atau bahagia. Akan tetapi, dia juga tidak mengabaikannya. Dia ingin mengerti apa makna salam itu. Dia membutuhkan waktu untuk merefleksikan atau merenungkan semua itu. Kemudian hari, kita bisa lihat dalam Magnificat (Luk 1:48), keterkejutannya berubah menjadi kebahagiaan. Kita perlu merenungkan panggilan yang Tuhan berikan kepada kita. Sehingga, dengan rahmat-Nya, kita bisa berbahagia dan bertumbuh di dalamnya.

Kata malaikat itu kepadanya: «Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. (ayat 30)

Gabriel mengajaknya untuk bergembira (untuk tidak takut) dan memberi penjelasan tentang panggilannya sebagai ibu Tuhan (ayat 31-33). Tuhan mengetahui dan memahami keadaan dan kelemahan manusiawi kita. Banyak kali Dia mengirim “malaikat”-Nya untuk menopang dan menolong kita untuk meninggalkan ketakutan dan kecemasan kita dalam melaksanakan kehendak dan rencana-Nya. Hal ini sering kita jumpai dalam Kitab Suci (antara lain: Luk 1:13; Mat 28:5; Mrk 16:6).

Kata Maria kepada malaikat itu: «Bagaimana hal itu akan terjadi, karena aku belum bersuami?» (ayat 34)

Ada terjemahan Kitab Suci yang menggunakan kata yang lain untuk pertanyaan Maria ini, yaitu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?”. Saya lebih memilih kata “akan” daripada “mungkin”, karena dengan kata “akan” kita bisa melihat dengan jelas bahwa pertanyaan Maria di sini bukanlah suatu ungkapan ketidakpercayaan atas perkataan malaikat Gabriel. Maria tidak meminta tanda dari Tuhan sebagai bukti ataupun jaminan atas pesan-Nya melalui malaikat Gabriel. Sebaliknya, pertanyaan ini menyatakan:

  • Iman Maria. Maria percaya bahwa hal itu akan terjadi.
  • Penerimaan Maria. Maria menerima rencana Tuhan. Dia mengajukan pertanyaan ini karena ingin mengetahui apakah ada sesuatu yang dapat dilakukannya untuk menggenapi rencana Tuhan. Misalnya: Apakah dia harus menikah dengan Yusuf atau seseorang lain untuk memenuhi rencana Tuhan? Dia melihat kondisi “tidak menikah”-nya sebagai suatu hambatan atau sebagai suatu ketidakmampuannya dalam merealisasikan kehendak Tuhan. Dengan jujur dan rendah hati dia membawa kondisi ketidakmampuannya ini kepada Tuhan. Jadi, ini merupakan suatu jawaban “ya” yang aktif dan rendah hati. Maria tidak hanya menerima rencana Tuhan atau panggilan Tuhan secara pasif, tetapi dia mengambil inisiatif untuk bekerja sama dengan membawa seluruh keberadaan dirinya, termasuk kelemahan dan ketidakmampuannya. Dia bertanya kepada Tuhan bagaimana menghadapi hambatan ini. Kita lihat bahwa dia tidak berputus asa, karena dia percaya bahwa pesan itu akan terlaksana. Jadi, iman Maria adalah iman yang aktif, iman yang mencari penjelasan[2]. Dalam hidup rohani kita, kita juga menemui kesukaran-kesukaran dalam melaksanakan kehendak Tuhan. Maria mengajak kita untuk membawa seluruh diri kita, termasuk kelemahan dan ketidakmampuan juga kesukaran-kesukaran kita semua kepada Tuhan dalam iman dan harapan. Dia juga mengajak kita memakai akal budi kita untuk memahami lebih baik apa yang telah kita percayai dalam iman, untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Jawab malaikat itu kepadanya: «Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. (ayat 35)

Malaikat Gabriel mengatakan bahwa Roh Kudus akan turun atasnya dengan kekuatan-Nya. Jadi, di hadapan ketidakmampuannya melaksanakan rencana Tuhan, malaikat Gabriel mengarahkan Maria untuk bersandar pada Roh Kudus yang akan menyertainya dengan kuasa-Nya. Ini juga merupakan suatu undangan bagi kita untuk bersandar dan berharap pada Roh Kudus, untuk terbuka kepada Dia dan kuasa-Nya. Roh Kudus yang dicurahkan Tuhan dalam hati kita, akan menjadikan kita anak-anak Allah. Dia akan membimbing kita dalam menjawab panggilan Tuhan, dalam menggenapi kehendak dan rencana-Nya.

Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.»” (ayat 36–37)

Di sini, melalui malaikat Gabriel, Tuhan memberi Maria suatu tanda atau suatu rahmat untuk memperteguh imannya. Dalam hidup rohani kitapun, banyak hal dan tanda yang Tuhan berikan kepada kita untuk memperkuat iman kita kepadaNya.

Ada yang berpendapat bahwa dalam ayat 34 Maria meminta tanda dari Tuhan. Ini tidak benar. Seperti telah kita lihat di atas bahwa Maria telah percaya bahwa rencana Tuhan akan terjadi. Pertanyaan Maria dalam ayat 34 berbeda dengan pertanyaan Zakaria:”Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya” (Luk 1:18). Zakaria ragu-ragu apakah hal ini akan terjadi atau tidak. Keraguan ini disebabkan bahwa dia lebih mempercayai pertimbangan akal budi manusiawinya (misalnya: “aku sudah tua …”) daripada sabda Tuhan (melalui malaikat). Maria mengajar kita untuk menempatkan iman kita di depan pertimbangan akal budi manusiawi kita, untuk percaya bahwa tak ada yang mustahil bagi Tuhan, karena Tuhan adalah Tuhan, Sang Pencipta. Kalau kita hanya mau percaya sabda Tuhan (kebenaran iman yang disampaikan Gereja) yang bisa kita mengerti (dengan akal budi kita) saja, kita perlu menanya diri: “Sungguhkah saya sudah percaya pada Yesus? Pada pribadi Yesus? Ataukah saya hanya percaya pada diri saya sendiri? Pada pikiran dan kepandaian saya?” Orang tak ber-Tuhan pun bisa percaya jika dia mengerti, karena yang dipercayainya bukan pribadi Tuhan, tetapi dirinya sendiri.

Kata Maria: «Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu». Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (ayat 38)

Maria menempatkan dirinya sebagai hamba Tuhan. Ini juga berarti dia menempatkan diri sebagai hamba umat manusia. Saya tidak berpendapat bahwa saat itu dia sudah benar-benar mengerti penjelasan malaikat Gabriel, namun meskipun akal budinya belum atau tidak dapat memahami kehendak Tuhan, Maria bersedia melaksanakannya dalam iman dan kerendahan hati.

 

Written by Sr. Maria Andrea  

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s