Relasi itu Perlu

Seperti pesan iklan produk X yang menyatakan bahwa Perubahan Itu Perlu. Di tengah persaingan bisnis yang ketat, spirit ‘perubahan’ mutlak perlu kalau ingin tetap eksis dan berkembang. Demikian pula dalam ber-pasutri, Relasi Itu Perlu, bahkan merupakan kunci utama yang sering dipertentangkan dengan ‘prestasi’. Sejauh mana kiat ini bisa menjamin kelanggengan dan mutu hidup ber-pasutri?

Relasi pada hakikatnya adalah proses menempatkan kembali hubungan antara kedua belah pihak sehingga makin ’klop’ dan ’klik’ secara berkelanjutan.  Sebagaimana halnya mulut botol dan tutupnya, demikian pula dengan hubungan antara suami-isteri yang diharapkan makin hangat dan akrab dari waktu ke waktu. Ada kalanya siklus relasi antara suami-isteri itu pasang-surut dan jatuh-bangun sehingga seyogyanya masing-masing pihak suami dan isteri diharapkan terus mau saling mengubah diri dan memperbaharui diri. Dengan demikian mutu relasi itu dapat terus terjaga dan terjamin.

Sebelum kami mengikuti WeekEnd ME Surabaya angkatan 76 pada tanggal 5-7 Februari 1993, pola hidup kepasutrian kami tergolong ’married single’, terutama saya sebagai suami. Selama lima tahun perkawinan pertama, masa bulan madu (romans) hanya dilalui sebentar saja. Waktu selebihnya saya lebih banyak sibuk dan asyik kegiatan di luar rumah, hampir setiap hari pulang larut malam. Hubungan kami makin tegang dan renggang. Apa gerangan yang membuat situasi ’broken home’ (tidak nyaman di rumah dalam kebersamaan pasutri) di dalam kehidupan kepasutrian kami ini?

Memang pada masa lima tahun pertama perkawinan kami, terutama saya pribadi lebih disibukkan dengan kegiatan berkarir demi prestasi. Kalau begitu, apakah nafsu buta berprestasi dalam berkarir lambat laun dapat menyurutkan kehangatan pasutri dalam membangun relasi kasih? Ya, kemungkinan besar bisa terjadi jika suami-isteri terfokus dan melulu mengejar prestasi, maka relasi suami-isteri dapat makin renggang.

Dalam arti, perilaku mengejar prestasi kurang tepat dan seringkali menyesatkan apabila hanya demi capaian objek saja seperti misal demi materi finansial dan pangkat/jabatan. Tidak berarti mengejar prestasi itu salah dan menyesatkan namun seringkali dapat mengalihkan perhatian dan fokus dari upaya membangun relasi kasih pasutri sebagai yang utama. Prestasi itu juga perlu sejauh demi membangun relasi kasih pasutri, bukan sebaliknya. Minimal paling tidak berimbang dan saling menunjang antara fokus relasi dan prestasi, termasuk bagi dan demi anak.

Kendati demikian manakala upaya capaian prestasi itu justeru mengganggu dan merenggangkan relasi suami-isteri, niatan mengejar prestasi bisa dikurbankan dan ditunda sementara waktu untuk didialogkan terlebih dahulu. Hal ini berarti, membangun relasi kasih seyogyanya harus menjadi prioritas utama daripada sekedar mengejar prestasi. Namun dalam proses memperbaiki dan membangun relasi suami-isteri yang lebih sehat kembali tetap diperlukan peningkatan mutu relasi kasih. Tidak cukup memadai dan lengkap apabila relasi kasih suami-isteri kurang diimbangi dengan upaya capaian prestasi demi kepentingan bersama dalam keluarga.

Untunglah pada saat yang tepat, kami diminta dan didorong serta diajak oleh Pastor Heribert Ballhorn SVD beserta KorMEP Salib Suci (Pasutri Lusi & Budi dan pasutri yang lain) untuk mengikuti WeekEnd ME. Pada awal mulanya kami (terutama saya) memang masih ogah-ogahan dan merasa terpaksa untuk ikut WeekEnd ME karena di tengah kesibukan dan keasyikkan mengejar prestasi dalam berkarir tiba-tiba langkah saya seolah dipaksakan untuk berhenti sekejap. Selain itu alasan keberatan kami untuk mengikuti WeekEnd adalah masa perkawinan kami yang relatif masih muda (lima tahun) dan kami masih merasa miskin pengalaman dalam kehidupan berkeluarga. Namun TUHAN memang bertindak pada saat yang tepat dan indah pada waktunya.

Meskipun masih awal perkawinan, kami justeru diingatkan segera untuk mengubah pola hidup kepasutrian kami yang ’married single’ menjadi ’married couple’. Pada hakikatnya kami harus terus memaknai kembali perkawinan suci di hadapan Allah dan disaksikan oleh para pasutri yang lain untuk diterapkan dalam kehidupan pasutri dan keluarga sehari-hari. Tak terbayangkan andaikata kami tidak ikut WeekEnd ME pada waktu itu, kehidupan kami apa jadinya dan belum tentu hubungan kepasutrian kami seperti yang kami alami sekarang.

Terlebih kami merasa terdukung dan sangat berterima kasih berkat semangat para pasutri WeekEnd ME Angkatan 76 bersama lurah Siu Lie & Jeffrey dan tim Pasutri  Tien & Agus, Is & Bud dan Paula & Hantoro yang selalu bersemangat menghimpun kami bersama pasutri yang lain dengan acara keakraban bersama dan selalu mengasah kepekaan relasi kepasutrian kami. Bahkan hingga saat kini para pasutri WeekEnd ME Distrik Surabaya angkatan 76 ini masih kompak selalu dan kadang kumpul, serta saling bertegur-sapa dan mengunjungi dengan semangat hubungan persaudaraan sejati.

Ternyata memang sudah teruji dan terbukti keampuhan nilai-nilai dan kiat-kiat WeekEnd ME yang telah ditawarkan dan diajarkan seperti ’catur marga’ yang meliputi: (1) dialog, (2) keakraban, (3) doa berpasangan, dan (4) bersama komunitas ME. Tidak berarti setelah mengikuti WeekEnd ME kami telah menerima sepenuh hati dan konsekuen dalam menjalankan amalan catur marga tersebut. Rintangan dan halangan dalam berelasi masih terjadi dan terus kami alami hingga membuat kami jatuh-bangun dan pasang-surut dalam membangun relasi kasih hingga saat kini.

Teristimewa pengalaman kami berdialog dengan menerapkan cara ’liskardilih’ (menulis surat cinta dengan fokus pada tema tertentu yang sudah disepakati bersama, saling menukar surat cinta tersebut, mendialogkan bersama, kemudian memilih tema dialog berikutnya) memang efektif untuk mengubah diri guna memperbaiki dan meningkatkan relasi kasih kami berdua. Akhir-akhir ini kami sempat bersitegang soal beban kerja yang seolah tidak berimbang antara isteri dan suami sehingga dirasa kurang adil dan sangat melelahkan baik secara fisik dan mental.

Pada awal mula kami merasa ragu dan enggan untuk berdialog. Mengingat hubungan kami makin memanas dan emosi kami mulai kurang terkendali, kami mencoba dan memaksakan diri untuk sama-sama menulis surat cinta tentang ’beban kerja’ tersebut. Segala perasaan kami ungkapkan dalam tulisan sampai dua halaman penuh, kami merasa lega. Selanjutnya kami sepakat untuk mendialogkan pada pagi hari dengan saling menukar dan membaca surat yang sudah kami tulis, lalu  saling menggali perasaan kami masing-masing. Sepuluh menit kami telah selesaikan dialog tersebut. Kami merasa puas dan makin paham mengenai perasaan yang sedang bergejolak satu sama lain. Kami bisa saling menerima dan membangun kesepakatan bersama yang lebih baik. Hubungan kami mulai cair dan hangat kembali.

Memang sudah tepat sekali penamaan majalah komunitas ME Indonesia yakni RELASI sebagai identitas sekaligus spirit pengembangan gerakan kasih komunitas kepasutrian dan keluarga. Patut disyukuri komunitas ME di Indonesia masih terus eksis dan bahkan makin berkembang pesat hingga saat kini, bukan karena masa kiprah dan jumlah pasutri yang sudah mengikuti WeekEnd ME namun terutama adalah tumbuh-kembang relasi kasih khususnya antara suami-isteri yang makin akrab dan kokoh.

Namun itu semua bukan karena jasa manusia tetapi terutama berkat kasih ALLAH yang melimpah kepada para pasutri sekalian. Sebagaimana dalam kidung lagu pujian terukir syair indah ”Ubi Caritas, Deus Ibi Est” (Di mana ada Kasih, Hadirlah TUHAN). Selama pengurbanan kasih para pasutri tulus dan murni, TUHAN pasti berkenan hadir di dalam lubuk hati kita semua.

Dengan demikian amanat injil Yesus ”As I Have Loved You” benar-benar terwujud, bukan hanya berhenti pada ucapan saja namun diharapkan tercermin pada perbuatan kasih sejati antara suami-isteri. Relasi kasih suami-isteri sejati yang terus tumbuh berkembang bersemi dalam keluarga senantiasa akan diteladani oleh anak-cucu sebagai warisan abadi. Selain itu relasi kasih kepasutrian dan keluarga yang tumbuh sehat diharapkan dapat makin mengakrabkan komunitas pasutri ME di lingkungan ME Paroki, Distrik, National/Regional.

Tidak berlebih apabila komunitas ME di manapun berada para pasutri cukup memegang teguh dan menerapkan panji RELASIdalam perbuatan kasih antara suami-isteri dan keluarga lebih dari pada segalanya. Sebagaimana TUHAN bersabda”Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Kor 13:13). Dalam pepatah bahasa Latin juga dikemukakan ’In Omnibus Caritas’ (Dalam segala hal dasarnya adalah Cinta-Kasih).

Hidup RELASI! Selamat membangun cinta selamanya! Amin.

Salam kasih,

Juli  Anggoro

Sidoarjo, 23 Agustus 2009

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s