Apa yang Sedang Terjadi dalam Gereja Katolik?

Baru-baru ini saya mendengar kabar yang menyedihkan mengenai bubarnya sebuah komunitas kecil Katolik yang sebelumnya merupakan sebuah komunitas yang bersemangat dengan anggota-anggotanya yang terjun secara aktif dalam kegiatan-kegiatan Gereja. Dan yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa sembilan dari dua belas anggotanya akhirnya menyeberang ke denominasi kristen lain. Saya juga masih ingat, sekitar lima tahun yang lalu seorang anggota persekutuan doa lingkungan kami tiba-tiba meninggalkan Gereja Katolik dan bergabung dengan salah satu Gereja Pentakosta.

Memang ada kecenderungan yang meningkat dewasa ini yang sebenarnya sangat penting untuk diperhatikan, yakni penyeberangan orang Katolik ke denominasi kristen yang lain. Fenomena ini sangat menyedihkan dan menyisakan banyak pertanyaan kepada Gereja, namun akhirnya juga memberikan suatu lampu kuning akan suatu problem yang lebih besar, yang menunggu untuk dipecahkan.

Mengapa Terjadi Penyeberangan?

Untuk masuk ke dalam akar permasalahan, kita perlu menilik dua pertanyaan. Pertanyaan pertama diajukan kepada mereka yang telah menyeberang: “Mengapa menyeberang?” Dan yang kedua, untuk adilnya kita juga perlu bertanya kepada diri kita sendiri, anggota-anggota tubuh Gereja: Apakah ada yang salah pada Gereja kita?” Saya cukup terkejut ketika mendapatkan jawaban-jawaban dan suatu sumber yang dapat dipercaya atas pertanyaan yang pertama, yang diajukan kepada mereka yang eks-katolik. Sebagian besar menjawab bahwa alasan mereka meninggalkan Gereja Katolik adalah karena mereka tidak menemukan Kristus yang hidup dalam Gereja. Ironis, bukan? Berarti selama berada dalam Gereja, mereka tidak pemah mengalami kehadiran Kristus dalam hidup mereka. Lalu ada pula yang mengatakan bahwa mereka tidak mengalami kasih persaudaraan dalam Gereja seperti yang mereka alami dengan nyata dalam kelompok doa mereka yang baru. Sebagian lagi mengatakan bahwa mereka menyeberang karena adanya ketidakcocokan dengan pastor paroki atau anggota paroki lain. Hanya sebagian kecil yang mengatakan bahwa mereka menyeberang karena adanya ketidaksesuaian pandangan dengan ajaran Gereja Katolik.

Pernah seorang ibu menyatakan keluhannya kepada saya tentang keponakannya yang menyeberang karena dipengaruhi oleh teman-temannya, orang Protestan. Dan bukan itu saja, sekarang keponakannya dengan semangat yang menggebu-gebu mulai menginjili tantenya. Berulang-ulang keponakannya itu berusaha menjelaskan ‘kesesatan’ orang-orang Katolik dengan tujuan mempertobatkan tantenya. Ketika mendengarkan itu saya menjawab bahwa mungkin itu bukan semata-mata kesalahan keponakannya atau teman-teman dan keponakannya itu. Ibu itu langsung menukas dengan sengit, Eh, koq Anda membela mereka?’ Tidak, saya tidak membela mereka. Sejujurnya, saya seorang Katolik. Saya sungguh percaya akan kepenuhan rahmat Kristus dalam Gereja Katolik. Saya percaya bahwa hanya melalui Gereja Katoliklah, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan (bdk. Unitatis Redintegratio, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Ekumenisme, 3, alinea V). Saya percaya bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya gereja yang satu, kudus, katolik (universal), dan apostolik. Gereja Katolik adalah kudus, dengan Kristus sebagai kepalanya. Saya percaya akan Paus sebagai wakil Kristus di dunia. Saya percaya kepada infalibilitas Paus dalam ajaran iman dan moral. Saya percaya Gereja Katoliklah yang akan disertai oleh Kristus sampai akhir zaman, bahwa tidak ada sesuatu pun yang akan bisa merobohkannya. Saya percaya akan segala ajaran Magisterium dan bapa-bapa gereja. Saya percaya bahwa hanya kepada Dewan para Rasul yang diketuai oleh Petruslah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh Kristus di dunia (bdk. UR, 3, alinea V). Saya seorang Katolik, tidak menyesal menjadi seorang Katolik, dan tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Gereja Katolik. Gereja Katolik adalah ibuku.

Namun di pihak lain, saya juga mengenal orang-orang dari denominasi kristen lain yang sungguh-sungguh saleh dan mencintai Kristus. Bahkan saya harus mengakui bahwa mereka lebih saleh serta lebih mengenal dan mengasihi Kristus daripada sebagian besar orang Katolik yang saya kenal. Mereka sungguh-sungguh beriman dan hidup mereka juga sungguh-sungguh diberkati oleh Tuhan. Dan beberapa dari mereka justru berasal dan kelompok yang selama ini dianggap paling bersemangat ‘mempertobatkan’ orang Katolik.

Pengalaman saya bergaul dengan saudara-saudara dari Protestan setidak-tidaknya memberikan suatu keyakinan dan persetujuan di dalam din saya akan ajaran Gereja Katolik sendiri bahwa Roh Kudus juga berkarya di dalam mereka (bdk. UR3, alinea IV). Lalu ada juga satu hal yang saya pelajari dan mereka, yaitu bahwa motivasi mereka menginjili orang Katolik sebenarnya sangat baik, yaitu supaya orang-orang yang mereka injili itu juga mengalami apa yang telah mereka alami dan pada akhirnya diselamatkan.

Mungkin kelihatannya saya agak menyimpang dan pokok permasalahan, namun saya hanya ingin memperjelas apa yang sebenarnya terungkap dari jawaban atas pertanyaan pertama di atas: kita tidak begitu saja mengambing-hitamkan saudara-saudara kita dan kalangan baptis yang lain untuk eksodus besar-besaran umat Katolik ke denominasi Kristen yang lain. Ini adalah taktik si iblis untuk mengaburkan masalah dan memperdalam luka perpecahan dalam Gereja. Kita juga tidak bisa begitu saja menghakimi — apalagi mengutuk— mereka yang meninggalkan Gereja Katolik. Dengan berbuat demikian sebenarnya kita sudah memberikan ganjalan dan hambatan besar bagi mereka untuk kembali kepada pangkuan Gereja. Ketidakacuhan beberapa orang Katolik yang sering berkata, “Ah, biar saja mereka pergi. Toh tiap tahun jumlah umat kita selalu bertambah. Gereja tidak akan kehilangan mereka”, membuat jurang pemisah yang begitu dalam dan luka-luka baru yang sulit sekali disembuhkan. Dan di atas semua itu, kesombongan ini bertentangan dengan semangat Gembala yang baik, yang meninggalkan ke 99 dombanya untuk mencari satu yang hilang. Kesombongan semacam ini tidak boleh ada dalam Gereja.

Lampu Kuning bagi Gereja

Baiklah, sudah saatnya kita menginjak pertanyaan kedua:

Apakah ada yang salah dengan Gereja? Apakah sungguh-sungguh ada yang salah pada Gereja? Sesungguhnya Gereja sebagai Tubuh Kristus adalah kudus, tidak bernoda. Kristus sebagai kepala adalah kudus maka tubuhNya secara sendirinya juga kudus. Namun Gereja juga sekaligus merupakan kumpulan orang-orang, murid-murid Kristus. Dan antara kumpulan itu terdapat orang-orang berdosa, yakni kita yang masth hidup dan saudara-saudara kita yang masih berada dalam api penyucian. Kesalahan’ Gereja di dunia ini ada pada kita yang berdosa. Oleh karena itu Gereja — dalam arti ini — perlu selalu dicuci, disucikan, dan diperbaharui (bdk. Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, 8, alinea III). Ecclesia semper reformanda. Gereja selalu perlu diperbaharui, termasuk pada saat ini.

Apa yang salah pada Gereja dewasa ini? Ada baiknya kita dengarkan kritikan tajam dan kalangan baptis tertentu kepada kita sebab mungkin saja mereka bisa melihat lebih jelas. Akhir-akhir ini ada beberapa kalangan yang sering menyamakan Gereja Katolik dengan jemaat di Laodikia di dalam Kitab Wahyu 3:14 dan seterusnya. Kita simak sebentar sebagian kata-kata tulisan Rasul Yohanes ini: “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan dinku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta, dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau membeli dari padaKu emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.” Kedengaran tidak asing? Ayat-ayat sebelumnya sebenarnya lebih mengejutkan: “Inilah firman dan Amin, Saksi yang Setia dan benar, permulaan dan ciptaan Allah: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dan mulutku.

Terus terang ketika saya pertama kali membaca ayat-ayat ini berdasarkan kritikan mereka, saya sempat tergoncang, tetapi tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa ayat-ayat mi ditujukan kepada sebagian anggota dan Gereja, bukanGereja sebagai satu tubuh dalam konteks jemaat Gereja awali maupun jemaat Gereja dewasa ini.

Ya, saya mengakui dan mengalami sendiri adanya kesuaman dalam Gereja. Sebagai seorang anggota Gereja, saya juga menyaksikan banyak penyelewengan dan kebobrokan dalam diri anggota-anggotanya, termasuk saya sendiri, yang juga terlibat di dalamnya. Boleh dikatakan bahwa abad yang lalu dan permulaan abad ini merupakan masa-masa yang paling menyakitkan dan menyedihkan bagi Gereja. Tidak ada masa dalam sejarah manusia yang dapat menandingi kesesatan dan penyelewengan yang terjadi — termasuk dalam Gereja Katolik sendiri — dalam abad ini, namun itu pun tidak berarti bahwa tidak ada lagi anggota-anggota yang setia.

Seorang pendeta Protestan pernah mengakui bahwa ada dua kekayaan besar Gereja Katolik yang memberikan kekuatan yang besar baginya (Gereja Katolik) untuk tetap bertahan melawan zaman: Pertama, Ekaristi dan yang kedua, para kudus. Mengapa para kudus? Para kudus mendapatkan tempat yang istimewa dalam Gereja Katolik karena beberapa hal. Pertama, mereka merupakan saksi hidup dan zaman ke zaman bahwa kristianitas bukan omong kosong, melainkan sesuatu yang hidup dan terus tumbuh. Kedua, mereka memberikan teladan yang praktis dan nyata untuk hidup sebagai seorang pengikut Kristus yang sejati. Ketiga, dengan iman, harapan, dan cintakasih yang besar mereka telah ikut serta dalam karya penyelamatan Allah, baik melalui doa-doa maupun silih-silih yang mereka lakukan.

Gereja Katolik tidak pernah melewati satu masa pun tanpa kesaksian para kudus. Dalam situasi apa pun, Tuhan selalu membangkitkan beberapa hambaNya yang sungguh setia utuk membangun dan, bila perlu, memperbaharui Gereja. Dengan kata lain Gereja Katolik yang kudus terpancar nyata dalam diri para kudus. Ini membuktikan bahwa Gereja sungguh-sungguh kudus. Hakekat  ini tidak akan berubah sekalipun terdapat anggota-anggota yang berdosa dalam Gereja.

Namun jika kembali kepada masalah penyeberangan, mau tidak mau kita harus mengakui adanya ketidakberesan dalam Gereja dan mengatakan bahwa penyeberangan yang terjadi hanyalah sebuah imbas dan gelombang yang lebih besar, yaitu perpecahan dalam Gereja, dan perpecahan dalam Gereja juga bukanlah gelombang pertama, namun merupakan imbas dan gelombang yang jauh lebih besar pula, yakni dosa-dosa anggota-anggota Gereja yang telah melampaui takarannya. Masalah penyeberangan tidak akan terselesaikan sebelum seluruh denominasi Kristen bersatu kembali dalam satu Gereja. Dan ekumenisme hanya dapat tercapai jika baik anggota-anggota dalam Gereja Katolik maupun dan kalangan Kristen lainnya mau bertobat, mengesampingkan segala kepahitan, meninggalkan kecongkakan, merelakan hati, saling memaafkan, serta saling menghargai dalam azas cintakasih dan kerendahan hati. Inilah problem besar yang belum terpecahkan itu.

Penghiburan di Tepian Kesesakan

Saat Tuhan mendengar isak tangis dan jeritan hati penuh pertobatan penduduk Kota Niniweh, Ia menyendengkan telingaNya dan mencurahkan belaskasihan kepada mereka. Tatkala Tobit dan Sara pada waktu yang bersamaan menyuarakan penderitaannya, memohon pertolongan dan Tuhan, Ia tidak berlambat mengulurkan tangan pertolonganNya dan mengutus salah seorang dan malaikat-malaikatNya yang paling agung untuk membebaskan mereka berdua dan kesengsaraan mereka. Pada abad ini, selain menyaksikan kebiadaban dan kebengisan yang luar biasa dan jutaan orang yang hatinya dikuasai si jahat, kita juga menyaksikan kebangkitan baru laskar-laskar Kristus yang sejati yang begitu menakjubkan. Doa-doa begitu banyak orang kudus dan martir abad ini dalam segala kesesakan mereka mustahil tidak diindahkan Tuhan.

Santo Paulus dalam Rm 5:20 berkata, “Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” Betapa benarnya kata-kata ini. Kebangkitan rohani mulai tampak di mana-mana dan oleh Paus kita, Bapa Suci Yohanes Paulus II, dalam suatu nada profetis mengatakan bahwa suatu musim semi baru bagi Gereja telah tiba. Allah kita sekali lagi membuktikan kehadiranNya di tengah-tengah umatNya. Elohim jireh. Allah menyediakan apa yang kita perlukan. Ia hidup dan Ia berkarya. Kristus telah menang dan Ia ingin menjadikan kita semua pemenang bersama-Nya. Berjaga-jagalah dengan pelita yang tetap bernyala dan siapkanlah juga Cadangan minyak untuk pelitamu secukupnya bersama semua saudara dalam tubuhNya yang kudus. Yesus, bersegeralah menolong kami!

Written by Rm. Georgius Paulus

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s