Kelahiran Yesus dalam Kehidupan Kita (Menurut Ajaran Santo Agustinus)

Seorang perempuan tunduk bertelut dalam doa. Matanya terpejam, tangannya terlipat khusyuk, dan sesekali bibirnya bergerak memohon dan mengeluh. Setiap kali usai berdoa, matanya membinarkan cercahan harapan, walau ia masih belum juga melihat doanya mendapat jawaban. Anak laki-laki kesayangannya, semata wayang dalam hidupnya, belum juga menunjukkan tanda-tanda perubahan sebagaimana yang didoakannya setiap hari. Akan tetapi, Monika tidak putus asa. Dengan tekun dan sabar, walau tak jarang tetes air matanya mengalir, ia terus mendoakan anaknya yang hidupnya jauh dari Tuhan.

Waktu demi waktu berlalu, namun Monika tak kunjung henti berdoa selalu. Hingga akhirnya, kanjang doanya pun mencapai pelabuhannya, berbuah indah melebihi yang dapat diharapkannya. Yesus sungguh-sungguh lahir dalam kehidupan anak laki-lakinya. Putera kesayangannya kini mengalami pertobatan yang mendalam, bahkan akhirnya menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Tuhan. Dunia kini mengenalnya sebagai seorang kudus yang besar, Santo Agustinus namanya.

Natal menjadi tak berarti jika Yesus tidak sungguh lahir dalam kehidupan kita. Bagaimanakah caranya agar kita dapat mengalami Yesus sungguh lahir dalam hidup pribadi kita? Marilah sejenak kita menyimak kehidupan Santo Agustinus, yang berangkat dari seorang pemuda yang akrab dengan dosa dan segala keduniawiannya, hingga menjadi seorang pria suci yang memiliki hubungan mesra dengan Allah.

 

 

1. MATA AIR KERAHIMAN ALLAH

“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, karena telah mengangkat jiwaku dari kedalaman kekelaman. Engkau mendengarkan doa ibuku, yang dengan iman telah datang kepadamu dengan tetesan air mata. Engkau telah mendengarkannya, Engkau telah mendengarkannya…,“ bisik Santo Agustinus dalam doa.

Santa Monika menyiramkan kesejukan mata air kerahiman Allah dalam diri Santo Agustinus, lewat deraian air matanya sendiri dalam doa-doanya. Demikianlah Yesus masuk dalam kehidupan kita, karena doa orang-orang yang peduli akan keselamatan kita. Doa orang lain merupakan unsur penting yang tak dapat kita abaikan begitu saja. Lebih-lebih doa seorang ibu, merupakan doa yang kuat menembus pintu surga karena diiringi dengan kasih suci seorang ibu yang menyentuh hati Allah.

Itulah pula sebabnya banyak orang Katolik yang memohon doa kepada Bunda Maria. Hati keibuannya yang penuh dengan belaskasihan senantiasa terarah kepada dunia yang berdosa dan menderita. Sebagaimana dahulu Bunda Maria melahirkan Yesus bagi dunia, demikianlah kini doa-doanya senantiasa menghadirkan Yesus bagi dunia.

 

 

2. MENYADARI BOROK-BOROK DOSA

Siapakah di dunia ini yang tidak berdosa? Namun, pertobatan segera terjadi saat manusia dapat melihat apa akibat dari dosa, yaitu suatu penderitaan dan kesengsaraan yang tak tertanggungkan akibat keterpisahan manusia dari Allah.

Keselamatan hanya akan terjadi jika ada pertobatan. Tanpa pertobatan, orang datang kepada Yesus tanpa menyadari bahwa ia berdosa. Padahal, dengan menyadari kedosaan kita, kita akan sadar bahwa kita tersesat, dan kita akan sadar pula bahwa kita semakin membutuhkan Tuhan untuk menyelamatkan kita. Adven merupakan masa yang indah, masa kita menyadari akan segala dosa dan kesalahan kita, sekaligus masa penantian yang semakin mengingatkan kita betapa kita sangat membutuhkan Allah.

Dosa merupakan pemisah yang menceraikan kita dengan Allah. Borok-borok dosa melukai jiwa, dan menjatuhkan manusia ke dalam jurang kehampaan yang dingin. Sesungguhnya, dosa besar yang menjerumuskan kita semakin cepat ke dalam jurang itu tidak lain adalah ketidaksadaran kita bahwa kita berdosa, atau tidak menaruh perhatian serius terhadap dosa-dosa kita. Hal ini membuat kita merasa tidak membutuhkan Tuhan, atau setidaknya, tak terlalu membutuhkan-Nya. Kita merasa terlalu pandai (bdk. Rm. 12:16c), sehingga merasa tidak perlu mencari hikmat Allah. (bdk. Yak. 1:5) Semakin kita merasa tidak berdosa, semakin kita merasa tidak membutuhkan Tuhan. Dengan demikian tanpa sadar kita pun menuruni jurang dosa itu semakin lama semakin dalam. Jarak antara kita dengan Tuhan semakin jauh, sehingga Natal dalam arti yang sesungguhnya tak pernah kita alami sepanjang tahun, karena Yesus tak pernah lahir dalam kehidupan kita.

Ada sebuah legenda yang menceritakan tentang kisah perjalanan empat orang perantau yang mengarungi gurun pasir nan luas. Akhirnya, suatu hari mereka pun menemukan sebuah oasis. Semuanya tiba di sana dalam keadaan hampir mati karena kehausan, dan seluruh persediaan air mereka sudah habis terminum sepanjang perjalanan mereka yang melelahkan.

Akan tetapi, ternyata oasis itu dijaga oleh seorang pria yang mengidap penyakit kusta. Dengan tangannya yang penuh dengan luka kusta, ia mencedok air segar dari oasis itu dan memberikannya kepada empat orang perantau yang hampir mati kehausan. Perantau yang pertama adalah seorang yang optimis. Dengan segera ia menolak tawaran air segar itu. „Haus itu tidak terlalu buruk, kok,“ katanya. Perantau yang kedua adalah seorang psikolog yang yakin jika ia memikirkan kesegaran, rasa hausnya dapat teratasi.Oleh karena itu, ia pun menolak tawaran air dari si kusta. Sementara perantau yang ketiga juga menolak tawaran itu, dengan pikiran bahwa masih banyak orang lain yang lebih menderita daripada dia. Dengan berbagai alasan tersebut, akhirnya ketiga perantau pertama ini meninggalkan oasis, masih dalam keadaan kehausan. Sungguh sayang sekali, akhirnya mereka bertiga mati di tengah panasnya gurun pasir yang terik menyengat. Akan tetapi, perantau yang keempat adalah seorang yang sederhana hatinya. Ia berpikir, “Lebih baik minum dari tangan seorang yang sakit kusta daripada mati kehausan di gurun pasir.” Ketika selesai minum, tanpa sengaja ia melihat tangannya sendiri, dan terkejut sekali karena tangannya terluka pula oleh penyakit kusta sebagaimana tangan orang yang memberikannya minum. “Sebetulnya, semua orang yang memasuki gurun pasir ini akan terkena penyakit kusta, karena gurun ini sudah dipenuhi oleh penyakit tersebut. Mereka yang datang ke oasis ini dan minum, akan tetap hidup. Akan tetapi, mereka yang menolak minum, mereka akan mati, bukan karena kehausan tetapi lebih-lebih karena penyakit kusta. Jika engkau menemukan jenazah ketiga temanmu, engkau dapat membuktikannya bahwa mereka mati karena kusta, bukan karena kehausan,” kata lelaki kusta yang memberikan air menjelaskan. Tiga perantau yang malang, mereka jijik melihat orang lain sakit kusta tanpa menyadari bahwa mereka sendiri pun sudah terjangkit penyakit kusta.

Demikianlah jiwa kita pun dipenuhi dengan kusta dosa. Akan tetapi, seringkali kita tidak sadar dan bahkan dengan dahi berkernyit memandang rendah orang lain yang berdosa. Sebaliknya, Santo Agustinus mengajarkan untuk lebih melihat dosa-dosa sendiri dan membawa semuanya itu ke hadapan Allah.

“Ya Allahku, palingkanlah mukaku ke arah diriku sendiri, angkatlah aku yang berdiri di belakang punggungku sendiri, karena tak mau mengenali diri sendiri. Buatlah aku memandang wajahku, agar aku dapat melihat betapa cemarnya aku selama ini. Penuh dengan borok dosa dan kotor. Kini aku ingin melihat dan memandang diriku dengan tabah, bukan lari dan tak menemukan apa-apa. Bukalah mataku, ya Allah, sehingga dengan jelas dapat kulihat segala cacat dosaku dan membencinya. Jangan biarkan aku seperti dulu lagi, yang mengetahui diri berdosa, namun hanya mengerjap sebentar ke arahnya dan segera melupakannya seolah tak pernah melihatnya.” (Santo Agustinus)

Segala dosa itu memang mengerikan dan bahkan menjijikkan. Akan tetapi, semua itu dibersihkan oleh darah Kristus yang tertumpah di atas kayu salib. Itulah sebabnya, semakin kita menyadari dosa kita, semakin kita merasakan kebutuhan akan kehadiran Kristus yang menyelamatkan. Masa Adven menjadi masa yang indah, karena merupakan masa penantian penuh rindu akan Kristus yang lahir.

 

 

3. MERINDUKAN ALLAH

Kebutuhan jiwa akan Allah semakin hari semakin berkembang menjadi kerinduan akan Allah. Lapar akan Allah, haus akan Allah. Demikianlah yang sering digaungkan oleh Santo Agustinus, “Oh, semoga aku dapat beristirahat di dalam Engkau, ya Allah. Masuklah ke dalam hatiku, buatlah hatiku mabuk karena Engkau. Kemabukan yang membuatku lupa akan hal-hal lain, selain indahnya pelukan ilahi-Mu.”

Hubungan kita dengan Kristus, walau pada usia berapa pun kita baru menemukannya, merupakan sesuatu yang indah yang melibatkan pula emosi dan perasaan kita. Hal ini dikemukakan pula oleh Santo Ignatius dari Loyola yang berseru, “Darah Kristus, sungguh memabukkan aku.” Kristus membawa setiap orang yang datang kepada-Nya ke dalam suatu pengalaman ilahi yang memabukkan dan sekaligus memperbaharui.

Bagaimanakah caranya kita dapat sampai kepada kemabukan ilahi ini? Tidak lain dengan datang kepada Yesus. Lalu bagaimanakah caranya kita datang kepada Yesus? Kaki kita memang tidak dapat melangkah ke surga tempat Yesus bertahta, karena kita memang belum tahu surga itu di mana. Akan tetapi, kita bisa datang kepada Yesus dengan merindukan Dia. Haus akan Allah, lapar akan Allah, akan menghantar jiwa kita sampai kepada Allah. Kita akan mengalami Dia yang hadir, Dia yang sungguh hidup, Dia yang menyentuh langsung kedalaman hati kita, hingga akhirnya kita pun mabuk karena cinta.

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Mat.5:6)

 

 

4. MENYADARI BELAS KASIHAN ALLAH

Tiada penderitaan yang lebih besar daripada mengetahui berapa mahal harga yang harus dibayar Yesus untuk menebus kita. Santo Agustinus mengajak kita untuk menyadari akan hal ini, agar kita pun mengerti betapa besarnya belas kasihan Allah kepada manusia. Betapa besarnya cintakasih Allah dan betapa besarnya pula kerinduan Allah akan pertobatan umat manusia.

Menyadari betapa besarnya dosa kita adalah hal baik, tetapi nyaris tak berguna jika pada saat yang sama kita tidak sekaligus menyadari pula betapa Allah sangat mengasihi kita. Kasih-Nya jauh lebih besar dari dosa-dosa kita. Jika kita terus menerus berputar-putar dengan dosa kita tanpa melihat betapa besarnya belas kasihan Allah kepada kita yang menderita karena dosa, kita dapat jatuh dalam keputusasaan. Keputusasaan membunuh iman, membunuh harapan, dan membunuh cinta. Orang yang hidup dalam keputusasaan hanya melihat hari yang kelabu. Tidak ada lagi merah hijau Natal dalam dunianya; tidak ada lagi dentang-denting lonceng Natal di telinganya.

Masa Adven merupakan masa yang penuh harapan. Inilah masa kita menyadari dosa-dosa kita, yang menyadarkan kita membutuhkan Kristus. Lebih dari itu, masa ini mengajak kita untuk menyadari pula betapa besarnya belas kasihan Allah. Ia tak akan pernah dapat tahan untuk tidak menghampiri jiwa yang bertobat dan membutuhkan-Nya. Oleh karena itu, penantian dalam masa Adven merupakan penantian yang penuh harapan. Kepercayaan akan belas kasihan Allah membuat kita percaya bahwa penantian ini bukanlah penantian yang sia-sia. Yesus yang pernah lahir di dunia ini, akan lahir pula dalam kehidupan kita masing-masing.

 

 

5. MENGENAL ALLAH

“Semoga aku dapat mengenal-Mu, Kau yang mengenalku, semoga aku dapat mengenal-Mu seperti aku sendiri dikenal,” demikian doa Santo Agustinus.

Dalam proses pencariannya untuk menemukan Allah, Santo Agustinus berkata, “Bagaimana menemukan Allah? Aku telah menanyai bumi, jawabnya, “Bukan aku.” Juga segala sesuatu yang terdapat di dalamnya mengaku hal yang sama. Aku telah menanyai laut, jurang-jurang, makhluk hidup yang melata. Jawabnya, “Kami bukan Allahmu, carilah di atas kami.” Aku telah menanyai angin yang berhembus. Seluruh ruang angkasa berkata bersama seluruh isinya, namun mereka berkata, “Keliru, aku bukan Allah.” Aku telah menanyai langit, matahari, bulan, bintang. “Kami pun bukan Allah yang kaucari.” Aku telah berkata kepada makhluk-makhluk yang mengelilingi pintu-pintu tubuhku, “Katakan kepadaku mengenai Allahku, kalau memang kalian bukan Allahku, katakan kepadaku sesuatu mengenai Dia.” Mereka lalu berseru dengan suara perkasa, “Dialah yang telah menjadikan kami.” Pertanyaan-pertanyaanku terkandung dalam pengamatanku yang cermat dan jawaban mereka terkandung dalam rupa mereka yang indah.

Segala harta di dunia ini, semakin ia ditangisi semakin tidak pantas ditangisi. Akan tetapi, sesungguhnya ada sebuah harta terpendam di kedalaman lubuk hati manusia, mutiara berharga yang lebih bernilai dari apa pun di dunia. Mutiara berharga itu tidak lain adalah Allah sendiri yang bersemayam di lubuk jiwa manusia. Ia hadir menyatakan Diri-Nya dan cinta-Nya. Sayangnya, seringkali kehadiran-Nya ini tidak dikenali oleh manusia.

Sesungguhnya sudah sejak semula Allah hadir di lubuk jiwa setiap orang. Kalau begitu, apa artinya Yesus lahir di hati kita? Bukankah Ia sejak semula sudah bersemayam di sana? Memang benar Yesus tak pernah meninggalkan kita barang sedetik pun. Ia hadir di lubuk hati kita yang terdalam. Akan tetapi, kehadiran-Nya seringkali tidak disadari manusia. Oleh karena itu, Yesus lahir dalam kehidupan kita artinya adalah mengenali Ia yang sudah sejak semula bersemayam di dalam diri kita.

Bukankah ini sesuatu yang sangat menakjubkan? Kebahagiaan kita, kerinduan kita, kepuasan jiwa kita, berada begitu dekat, yaitu di dalam diri kita sendiri. Kenalilah kehadiran-Nya, sadarilah keberadaan-Nya, masuklah ke dalam hadirat-Nya, dan saat itulah kita sungguh mengalami makna Natal yang sebenarnya.

 

 

KESIMPULAN

Jadi, bagaimanakah caranya kita dapat sungguh-sungguh mengalami Natal? Pertama, doa-doa orang lain yang peduli akan keselamatan kita menjadi unsur yang penting. Namun, kita sendiri pun harus menyadari dosa-dosa kita, agar kita dapat semakin merasakan kebutuhan kita akan Allah yang menebus dan menyelamatkan. Perasaan membutuhkan Allah ini akan berkembang menjadi kerinduan akan Allah. Kerinduan inilah yang sebetulnya akan mendorong kaki-kaki lemah kita untuk terus melangkah mencari Dia. Langkah kaki kita dalam menggapai Allah ini perlu diiringi dengan kesadaran akan besarnya kerahiman Allah. Tanpa kesadaran ini, langkah kita menjadi usaha yang melelahkan tiada berpengharapan. Lalu, ke manakah kita harus melangkah? Ternyata, begitu dekat, yaitu masuk ke kedalaman lubuk hati kita sendiri. Di sanalah Allah bersemayam dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya. Jadi, Yesus lahir dalam kehidupan kita berarti menyadari Dia yang telah bersemayam di dalam diri kita dengan setia. Selamat Natal!

 

 

 

Tidak dengan bimbang

tetapi dengan penuh keyakinan

hati nuraniku mencintai-Mu, ya Tuhan.

Telah Kauketuk hatiku dengan firman-Mu

dan mulailah aku mencintai-Mu.

Tetapi lihatlah, baik langit maupun bumi

serta segala yang ada di dalamnya,

dari segala penjuru berkata kepadaku,

supaya aku mencintai-Mu.

Tak henti-hentinya mereka mengatakan kepada semua orang

supaya mereka tidak dapat berdalih.

(Santo Agustinus)

Written by Sr. Maria Skolastika  

Sr_Skolastika

Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s