Natal

Pengantar

Perayaan Natal adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman Kristiani. Jutaan orang di seluruh dunia menyambut perayaan Natal. Banyak hal dipersiapkan untuk menyambut perayaan ini, mulai dari persiapan yang bersifat rohani – dalam bentuk puasa dan pertobatan – sampai pada persiapan yang bersifat jasmani, seperti membuat kandang natal, pohon natal dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut.

Dalam Gereja Katolik, perayaan ini diberi tempat khusus. Hal ini nyata dalam masa persiapan, yaitu masa Adven yang berlangsung selama empat minggu. Bagi orang Katolik perayaan ini bukan sekedar perayaan biasa sebagaimana dilakukan oleh umat dari agama lain, namun dalam Natal terkandung suatu sejarah keselamatan manusia yang dikerjakan Allah dengan mengutus Putra-Nya yang tunggal, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus. Misteri perutusan inilah yang diperingati dalam Natal.

 

 

Sejarah Natal

Pada awal perkembangan agama Kristen, orang Kristiani sebenarnya tidak pernah merayakan Natal. Perayaan yang mereka rayakan adalah Paska karena berkaitan langsung dengan misteri Kebangkitan Kristus. Dalam perkembangan selanjutnya Natal ditempatkan pada tempat yang istimewa karena misi keselamatan tidak mungkin terlaksana tanpa didahului oleh perutusan. Misteri wafat dan kebangkitan tidak mungkin terjadi tanpa didahului oleh misteri kelahiran.

Tradisi perayaan Natal berasal dari tradisi agama-agama Pagan yang berkembang di seluruh kekaisaran Romawi. Kaisar Aurelianus (270-275) memiliki kultus atau devosi kepada dewa matahari. Karena itu, ia menetapkan pesta “Sol Inuictus” (matahari tak terkalahkan). Pesta ini dirayakan pada tanggal 25 Desember, karena mulai tanggal ini, mulai akil balig matahari. Perhitungan ini berhubungan dnegan musim dingin yang terjadi di Eropa yang dimulai pada tanggal 23 Desember. Malam hari pada tanggal ini adalah malam yang paling panjang sepanjang tahun. Ini berarti siang hanya hanya berlangsung sebentar saja atau matahari hanya kelihatan sebentar saja. Kemudian pada tanggal 25 Desember, malam mulai semakin pendek atau hari mulai semakin panjang. Puncaknya adalah tanggal 21 Juni yang merupakan hari terpanjang atau malam terpendek. Karena itu, Kaisar Aurelianus menetapkan awal seluruh pergeseran hari yang semakin panjang ini yang dimulai tanggal 25 Desember sebagai pesta Sol Inuictus – “matahari tak terkalahkan”.

Tradisi Kristen – yang tidak tahu persis tanggal kelahiran Kristus – “membaptis” pesta Sol Incuitus sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus. Mengapa? Karena Yesus Kristus adalah matahari sejati yang menyinari semua bangsa. Ia adalah matahari keadilan. Yesus adalah Sang Matahari tak terkalahkan oleh berbagai kekelaman dunia. Perayaan Natal baru pertama kali dirayakan di Roma pada awal abad keempat. Pada tahun 336 dicatat pertama kali pada Depositio Martyrum, dengan tanggal kelahiran Kristus yaitu tanggal 25 Desember.

 

 

Teologi Natal

Apakah Natal merupakan perayaan biasa, pesta tanpa makna? Bagi orang Kristen Natal bukan sekedar pesta biasa dengan kemeriahan dekorasi dan kehadiran Santo Nikolaus yang dengan ramah membawa hadiah. Itu semua bukan arti natal yang sesungguhnya. Natal memiliki nilai tak terkirakan bagi orang Kristen. Walaupun Natal dirayakan sebagai pesta lintas agama, ia tetap memberikan kekhasan dalam sejarah keselamatan umat Allah. Sebenarnya perayaan Natal mau menggarisbawahi misteri kedatangan Tuhan Yesus, Putera Allah dalam rupa “manusia” yang secara konkret dilahirkan oleh Santa Perawan Maria di Betlehem.

Paus Leo Agung menyadari bahwa misteri Natal memiliki dasar teologis yang mendalam sehingga ia menggolongkannya dalam tingkat “Solemnitas” (Hari Raya). Ia selalu berbicara mengenai misteri kelahiran Yesus untuk menunjukkan nilai yang menyelamatkan dari peristiwa kelahiran itu. Kalau Natal adalah “misteri keselamatan” maka harus dilihat sebagai titik awal kisah misteri Paska di mana manusia yang hadir di tengah kita akan menjadi kurban sembelihan bagi Allah untuk menghapus dosa seluruh umat manusia. Konsili Kalsedon meletakkan pendasaran teologis misteri inkarnasi “sebagai pernyataan dari Tuhan dalam rupa manusia”. Singkat kata dapat dikatakan: “Allah menjadi manusia supaya manusia menjadi Allah”. Inisiatif pertama datang dari Allah melalui misteri inkarnasi Kristus, “Sang Sabda telah mengambil apa yang menjadi milik kita supaya memberikan kepada kita apa yang menjadi milik-Nya”.

Baik dalam misteri Natal maupun Paska dapat dilihat dasarnya yang satu dan sama yakni perayaan penebusan kita. Natal lebih sebagai perayaan kelahiran karya penebusan dan Paska merupakan perayaan kekuatan penebusan dan merupakan puncak dari karya keselamatan Allah melalui wafat dan kebangkitan Kristus. Karena itu antara Natal dan Paska tidak dapat dipisahkan. Keduanya berada pada puncak karya keselamatan manusia. Dalam keseluruhan pandangan teologis tentang Natal kita dapat melihat bahwa Natal sekaligus merupakan awal mula kehidupan Gereja. Kelahiran Kristus adalah pokok pangkal kehidupan baru umat Kristiani. “Kelahiran kepala adalah awal kelahiran semua anggota tubuh mistik”, demikian ungkapan S. Leo Agung mengenai makna Natal.

 

 

Spiritualitas Natal

Yang dilihat dalam misteri Natal janganlah sekedar aspek kemiskinan dan kerendahan penampilan Allah. Semuanya itu memang patut diteladani. Namun di atas semuanya itu, misteri Natal memberikan kepada kita anugerah untuk menjadi serupa dengan Allah (bukan dalam kodrat). Kehadiran Tuhan mengarahkan kita untuk terlibat dan berperan serta dalam hidup Allah sendiri, yaitu hidup ilahi. Singkat kata, spiritualitas Natal adalah spiritualitas pengangkatan nilai kemanusiaan kita menjadi anak-anak Allah.

Di dalam penghayatan iman, tidaklah tepat memandang Allah sebagai “di luar diri kita”, sebab justru berkat misteri Natal mau dihidupkan kembali Kristus yang selalu berada di dalam diri kita dengan sikap-sikap-Nya yang penuh cinta, setia, sederhana, rendah hati, suci, dan lain-lain. Sikap-sikap Kristus itulah yang patut kita hidupi dalam keseharian kita. Karena sekali lagi Paus Leo Agung mengajar umat beriman pada perayaan Natal untuk menyadari diri lagi akan keluhuran kodrat manusia, sebab dengan turut serta dalam kodrat ilahi, manusia hendaknya semakin menolak cara dan semangat hidup manusia lama.

 

Written by Rm. Elisa Maria CSE

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s