Seri Kursus Kitab Suci : Pengantar Injil, Bagian 2

Yesus Sebagai Guru

Di antara kelompok-kelompok tersebut tampak bahwa Yesus tampil sebagai pribadi yang unik. Ia dikenal sebagai seorang rabbi atau guru agama Yahudi dan Ia sendiri tidak melihat diri sebagai pendiri agama baru. Namun, Ia bukanlah seorang rab-bi profesional atau seorang ahli kitab yang diangkat secara resmi oleh para pemimpin agama Yahudi.

Seperti para rabbi Yahudi dan para ahli kitab itu, Yesus meng-ajar di sinagoga; tetapi tidak seperti mereka Yesus mengajar pula di tempat-tempat terbuka seperti di bukit, padang, dan pantai. Yesus memang tidak menyampaikan ajaran-Nya hanya kepada kelompok orang tertentu saja, tetapi kepada semua orang, termasuk para perempuan, anak-anak, orang-orang sakit, dan bahkan orang-orang yang dikenal sebagai pendosa oleh orang Yahudi pada umumnya. Di tempat-tempat itu semua orang bisa datang dan mendengarkan pengajaran-Nya.

Sebagaimana para guru agama Yahudi, Yesus sangat terinspirasi oleh sikap hormat terhadap Kitab Suci. Walaupun demikian, Yesus tidak mengajarkan rangkaian hukum yang tertulis dalam Kitab Suci sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para guru agama Yahudi, terutama oleh orang-orang Farisi. Ia memang mengajarkan ketaatan pada Kitab Suci, tetapi Ia menentang penafsiran hukum dan peraturan yang formalistis dan kaku. Yesus justru mengajarkan para pende-ngar-Nya untuk masuk ke dalam jiwa dari seluruh hukum dan peraturan itu dan jangan sampai terjebak pada sikap for-malistis.

 

YESUS MENGAJARKAN KERAJAAN ALLAH

 

Dalam pengajaran-Nya Yesus memusatkan diri pada Kerajaan Allah. Datangnya Kerajaan Allah inilah yang menjadi pokok pengajaran-Nya. Keyakinan akan datangnya Kerajaan Allah ini sebenarnya telah menguasai pemikiran orang Yahudi pada zaman Yesus. Karena itu, tidak mengherankan bahwa Yesus seringkali juga menggunakan frasa ini. “Kerajaan Allah” termasuk kata yang paling banyak muncul dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Yesus tentang kerajaan Allah itu sungguh-sungguh hidup dalam ingatan orang, hidup dalam hati para pengikut-Nya dan terjadi asosiasi tertentu antara Yesus dan Kerajaan Allah.

 

Pandangan Yesus tentang Kerajaan Allah

Yang dimengerti oleh orang-orang Israel yang sezaman dengan Yesus mengenai Kerajaan Allah adalah Allah berkuasa sebagai raja yang memerintah manusia. Pada zaman Yesus ini ada dua pandangan tentang Kerajaan Allah dalam pandangan masyarakat Israel.

1. Pandangan umum orang Yahudi. Kerajaan Allah yang dibi-carakan oleh orang Yahudi ini menunjuk pada kerajaan Daud. Mereka percaya bahwa kerajaan Daud yang sudah hancur akan bangkit kembali. Para nabi berulang kali menegaskan hal ini. Para pejuang kemerdekaan Yahudi juga berkeyakinan bahwa perjuangan mereka diarahkan untuk mendirikan kerajaan Allah dan bahwa yang akan memerintah kerajaan Allah itu adalah seorang raja; raja yang akan memerintah kerajaan ini adalah Anak Daud, utusan Allah yang diurapi atau Mesias. Menurut pandangan para rabbi ada cara lain untuk memper-cepat pewartaan kerajaan Allah yang sudah datang secara tersembunyi. Kedatangan hari Sang Mesias dapat didekatkan dengan tobat, setia, pada hukum, mempelajari Taurat dan karya cinta kasih. Kerajaan Allah atas Israel baru dapat benar-benar menjadi kerajaan atas semua orang dan seluruh dunia bila orang-orang bukan Yahudi juga bertobat, artinya menga-kui dan percaya akan Allah Israel yang Esa dan sanggup me-laksanakan hukum-Nya.[2] Pemahaman orang Yahudi tentang kerajaan Allah ini masih hidup dalam keyakinan para rasul Yesus (Luk. 24:21; Kis. 1:6; Mrk. 11:10) mereka menyerukan pemulihan kemerdekaan dan kerajaan serta wangsa Daud.

2. Pandangan para apokaliptisi.[3] Dalam pandangan mereka kerajaan Allah adalah sebuah realitas eskatologis belaka yang baru di akhir zaman ditegakkan. Dunia (atau: zaman) ini ter-lalu jahat dan jelek. Setelah zaman ini hilang lenyap dibinasa-kan Allah, Kerajaan Allah akan menjadi kenyataan di bumi baru dan langit baru yang dijadikan Allah. Jadi menurut mere-ka Kerajaan Allah hanya dapat didirikan oleh Allah dengan mengakhiri sejarah dan zaman yang sedang berjalan. Selain itu, mereka seringkali membuat spekulasi-spekulasi tentang saat kapan semuanya itu akan terjadi. Itu dimungkinkan karena menurut keyakinan mereka akhir zaman itu didahului dengan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa akhir zaman itu sudah akan datang.

3. Pandangan Yesus. Bila Yesus mewartakan Kerajaan Allah, Yesus pun memikirkannya secara dinamis dan aktif. Kerajaan Allah ialah Allah yang meraja. Hanya jika manusia mengakui kuasa kerajaan itu serta menaklukkan diri padanya, terciptalah suatu keadaan baru baginya. Ketika Allah meraja, terciptalah suatu tata dunia baru tertentu. Tetapi dalam pandangan Yesus tidak ada sebuah negeri atau daerah (keduniaan) seperti yang lazim dalam pandangan Yahudi yang melihat Kerajaan Allah sebagai suatu negeri yang suci.

Dalam pewartaan-Nya mengenai Kerajaan Allah, Yesus ham-pir selalu mengacu pada masa depan. Dalam hal ini pandangan Yesus lebih berdekatan dengan pandangan para apokaliptisi. Seperti para apokaliptisi, dengan berkata tentang Kerajaan Allah pandangan Yesus melayang ke depan dan ke akhir za-man. Dalam pandangan Yesus kerajaan itu memang diartikan sebagai suatu kejadian eskatologis, di akhir zaman dan seluruh karya Yesus tertuju pada saat (datangnya Kerajaan Allah) yang walaupun tidak dapat diperhitungkan manusia, pasti tidak lama lagi akan terwujud. Tetapi di lain pihak, kerajaan itu kini sudah menyatakan diri dalam pewartaan dan pekerjaan (ter-utama mukjizat) Yesus sendiri. Dapat dikatakan bahwa ciri khas pemberitaan Yesus terletak pada: Kerajaan Allah di akhir zaman sudah menyatakan diri justru dalam pemberitaan dan karya Yesus.

 

Bertobatlah! Kerajaan Allah Sudah Dekat

Dalam Mat. 22:11-13 terdapat suatu perumpamaan yang pada intinya adalah: orang yang tidak berpakaian pesta yang mutlak perlu untuk dapat ikut serta dalam perjamuan Allah. Dalam konteks historis pemberitaan Yesus rupanya yang dimaksud-kan adalah tanggapan efektif terhadap pemberitaan Yesus itu.[4] Yesus selalu berseru supaya orang bertobat. Bertobat itulah satu-satunya syarat untuk dapat menikmati pemerintahan Al-lah kelak. Perlu dikatakan bahwa di samping Kerajaan Allah yang sudah dekat, pertobatan menjadi pokok utama pemberi-taan Yesus. Kedua hal ini saling berkaitan, tetapi sedemikian rupa sehingga Kerajaan Allah mendahului pertobatan. Allah datang untuk menegakkan pemerintahan-Nya. Dan mengingat Kerajaan Allah ini, orang harus bertobat.

Makna pertobatan yang dimaksudkan oleh Yesus dapat menja-di lebih jelas bila dibandingkan dengan pertobatan yang dise-rukan oleh Yohanes, yaitu pertobatan yang dikaitkan dengan pengampunan dosa (Mrk. 1:4; Luk. 3:3). Yohanes mengajak supaya orang bertobat karena Kerajaan Allah yang berupa pengadilan sudah dekat (bdk. Mat. 3:2.8-10). Yohanes menga-jak orang bertobat dalam kaitannya dengan pengampunan dosa (Mrk. 1:4), sehingga bertobat berarti berpaling, membela-kangi dosa-dosa yang sudah dilakukan, artinya menyesal dan melepaskan dosa (bdk. Luk. 3:12-14). Unsur ini pun termasuk dalam pertobatan yang diserukan oleh Yesus. Hal ini tampak dalam perumpamaan tentang anak yang hilang: ia menjadi sadar akan dosanya dan mau berbalik (Luk. 15:17-18). Hal yang sama juga tampak dalam diri pemungut cukai (Luk. 18:13); tentu Yesus meminta supaya pemungut cukai itu berhenti memeras (Luk. 19:8) dan mengembalikan semua yang telah dirampas dari orang lain (Luk. 19:8). Secara mutlak, bukan setengah-setengah, orang harus melepaskan yang jahat. Hal ini diungkapkan dalam perumpamaan tentang roh-roh jahat yang keluar dari rumah (manusia) yang didiaminya (Mat. 12:43-45). Dalam perumpamaan ini diungkapkan bahwa sete-lah orang meninggalkan yang jahat (roh yang keluar), tetapi tidak dengan sebulat hati (rumah dibiarkan kosong dan ham-pa; yang jahat tidak diganti dengan yang baik) roh jahat berlipat ganda akan kembali dan orang ini akan kembali kepada yang (lebih) jahat. Jadi pertobatan haruslah radikal dan menyeluruh: yang jahat harus dilepaskan seluruhnya dan orang harus membiarkan dirinya dibebaskan seluruhnya oleh yang baik (kehendak Allah).[5]

Walaupun demikian, tetap terdapat perbedaan antara perto-batan yang diserukan oleh Yesus dan yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis. Motif utama pertobatan dalam pandang-an Yesus bukan ketakutan akan pengadilan Allah yang sudah mendekat, melainkan kebaikan hati Allah yang sudah menya-takan diri serta mendekati manusia. Karena itu, orang bertobat karena kegembiraan dan rasa syukur. Bertobat terutama kem-bali kepada Bapa yang baik hati dan penuh belas kasihan seperti tampak dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk. 15:22-24.32). Kebaikan Allah mendahului pertobatan yang berupa tanggapan terhadap tindakan penyelamatan Allah. Dengan kata lain, pertobatan bukan prasyarat (seperti yang dimengerti oleh Yohanes Pembaptis) bagi pemerintahan Al-lah, melainkan hasil dari pemerintahan Allah yang sudah mulai membayangi manusia melalui pemberitaan dan tindakan Yesus sendiri. Hal ini paling jelas tampak dalam cerita tentang Zakheus (Luk. 19:1-10). Tindakan Yesus (datang ke rumah-nya) yang mencerminkan sikap Allah ditanggapi dengan perto-batan dari pihak Zakheus yang bersuka cita. Demikianlah per-tobatan yang dituntut oleh Yesus berupa tanggapan terhadap pemerintahan Allah yang sudah mulai dialami manusia. Mere-ka yang percaya kepada Injil bertobat bukan karena takut akan Hakim, tetapi karena sudah mulai merasakan kebaikan Bapa dalam diri Yesus.

 

YESUS MENGAJAR DENGAN PERUMPAMAAN

 

Salah satu hal yang menonjol dalam pengajaran Yesus sebagai seorang guru adalah dipergunakannya perumpamaan. Dari seluruh pengajaran Yesus yang tercatat dalam Injil, sepertiga di antaranya berupa perumpamaan. Perumpamaan-perumpama-an yang disampaikan oleh Yesus biasanya cukup sederhana, ceritanya mudah diingat, seringkali mempergunakan gambar-an-gambaran yang biasa ditemukan dalam hidup sehari-hari. Ia membawa para pendengar pada dunia yang akrab yang begitu sederhana dan jelas sehingga baik orang tua maupun anak anak, orang terpelajar maupun tidak terpelajar dapat mengerti. Misalnya, Yesus membandingkan Kerajaan Allah dengan ragi (padahal ragi seringkali dipakai untuk menggambarkan keru-sakan) atau dengan biji sesawi.

 

Pengertian Perumpamaan

Kata Yunani untuk “perumpamaan” adalah parabole, dari kata kerja para ballo, yang berarti meletakkan berdampingan/ menempatkan sejajar. Dalam suatu perumpamaan dalam Injil ada dua hal yang diletakkan berdampingan: yang satu diambil dari kehidupan sehari-hari dan yang kedua dari ajaran iman yang merupakan pokok ajaran yang hendak disampaikan. Biasanya hal perumpamaan itu sendiri yang disampaikan pada para pendengar sedangkan ajaran yang diumpamakan itu dibiarkan tetap tinggal tersembunyi.

Perumpamaan-perumpamaan Yesus seringkali mengejutkan dan paradoksal. Perumpamaan berangkat dari sesuatu yang sederhana, akrab, dan dapat dimengerti lalu bergerak menuju aspek perbandingan yang seringkali menyentak para pende-ngar dan menantangnya untuk merenungkannya. Misalnya, da-lam perumpamaan orang Samaria yang baik hati: yang tampil sebagai sesama bagi orang yang dirampok itu justru orang Samaria dan bukan imam atau orang Lewi yang lewat di tem-pat kejadian. Mengapa gembala itu berani mengambil resiko untuk mencari satu ekor domba yang terpisah dari kawanan-nya, padahal ia masih memiliki 99 ekor domba lain? Perhatian gembala itu dan kerelaannya untuk mempertaruhkan hidupnya mengajarkan perhatian dan kasih Allah pada anak-anak-Nya.

 

Tujuan Penggunaan Perumpamaan

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa tidak semua orang dapat memahami perumpamaan-perumpamaan yang di-sampaikan-Nya. “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun meman-dang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti” (Luk. 8:10). Apakah Yesus bermaksud untuk mengatakan bahwa Ia memang ingin membuat para pende-ngar bingung? Tentu saja tidak. Yesus berbicara dari pengala-man-Nya memperhatikan para pendengar. Ia sadar bahwa beberapa orang yang mendengarkan perumpamaan-Nya me-nolak untuk memahaminya, bukan karena mereka secara inte-lektual tidak mampu, tetapi karena hati mereka ditutup dan menolak untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Yesus. Mereka telah menutup pikiran mereka untuk tidak percaya. Mereka tidak mengerti karena memang tidak mau mengerti. “Orang-orang lain” itu menunjuk pada orang-orang Yahudi yang tidak mau menerima Yesus. Mereka dibedakan dari para murid yang diharapkan dapat mengerti karena telah menerima Yesus.

Allah hanya dapat menyatakan rahasia kerajaan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati dan menaruh kepercayaan pada Allah dan kebenaran yang disampaikan-Nya. Perumpamaan Yesus akan menerangi orang hanya bila ia memiliki hati dan pikiran yang terbuka dan siap untuk membiarkan perumpama-an itu berbicara kepadanya. Bila orang membacanya dengan keyakinan bahwa ia telah mengetahui jawabannya, orang itu akan melihat tetapi tidak tahu apa yang terjadi, mendengar tetapi tidak memahami.

Yesus mempergunakan perumpamaan untuk menjangkau hati para pendengar melalui imajinasi mereka. Perumpamaan menantang pikiran manusia untuk memahami seperti apakah Allah itu dan menggerakkan hati untuk menyampaikan tanggapan terhadap kasih dan kebenaran Allah. Secara teram-pil Yesus merangkai kata-kata sederhana untuk memberikan cerita-cerita yang menggugah. Ia mempergunakan hal-hal yang dialami dan dijumpai dalam kehidupan sehari-hari untuk mengajarkan sesuatu yang tersembunyi, sehingga tampak bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar. Ia memberikan cerita-cerita yang hidup yang dapat menguasai imajinasi para pendengar secara lebih kuat daripada yang dapat dilakukan dengan artikel, makalah, atau uraian teroretis.

Dengan perumpamaan Yesus membuat kehidupan sehari-hari berbicara mengenai kebenaran iman. Dengan cara demikian orang diingatkan bahwa setiap hal memiliki kaitan dengan Allah dan kerajaan-Nya. Ketika melihat menaburkan benih di ladang, orang bisa teringat pada perumpaman mengenai pena-bur. Ketika meliha orang menebarkan jala di danau, orang akan teringat bahwa kerajaan surga itu seperti pukat yang dila-buhkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan.

Bagaimana hal-hal dalam kehidupan sehari-hari (seperti mutia-ra, ragi, dan sebagainya) dapat dipergunakan untuk menyam-paikan kebenaran yang abadi?

1. Yesus mengajar dengan mempergunakan perbandingan. Kerajaan atau pemerintahan Allah itu seperti apa yang terjadi dalam cerita Yesus. Perbandingan itu berkaitan dengan keseluruhan proses dan tidak semata-mata dengan satu benda atau pribadi tunggal.

2. Dalam perumpamaan Yesus sering mempergunakan per-tentangan. Dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis (Mat. 25:1-13) Yesus mempertentangkan lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana. Prinsip pertentangan yang sama dapat ditemukan dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk. 10:25-37), dua orang anak (Mat. 21:28-32), orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-14), dan sebagainya.

3. Selain itu Yesus seringkali juga mempergunakan pertanya-an retoris (pertanyaan yang tidak menuntut jawaban kare-na jawabannya sudah jelas bagi para pendengar). Dalam perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk. 15:4) Yesus mengajukan pertanyaan kepada para pendengar, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan di padang dan mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” Contoh lain dari penggunaan pertanyaan retoris dapat di-temukan dalam perumpamaan tentang penggarap-pengga-rap kebun anggur (Mat. 21:40), perumpamaan tentang dir-ham yang hilang (Luk. 15:8), dan sebagainya.

Perumpamaan tidak memaksa orang menerima kebenaran yang disampaikan tetapi mengantar pendengar pada pilihan yang harus mereka tentukan berdasarkan pengalaman hidup mereka sendiri. Yesus tidak memberikan jawaban tetapi justru mengajukan persoalan untuk mengajak para pendengarnya berpikir dan menemukan jawaban sendiri. “Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri…” (Mat. 7:16; Mrk. 2:19; Luk. 5:34). Dari kehidupan nyata, jelas jawabannya ada-lah “tidak dapat.” Dalam perumpamaan tentang orang Sama-ria yang baik hati, Yesus mengajukan pertanyaan, “Menurut pendapatmu, siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (Luk. 10:36). Melalui pertanyaan ini Yesus mengantar para pende-ngar untuk menentukan pilihan yang jelas: sesama adalah yang menunjukkan belas kasih kepada yang sedang mengalami penderitaan. Maksud utama penggunaan perumpamaan adalah untuk menghasilkan perubahan hati untuk mengambil sikap dan tindakan sesuai dengan pesan yang disampaikan di dalamnya.

 

Kerajaan Allah dalam Perumpamaan Yesus

Dalam pemberitaan-Nya mengenai Kerajaan Allah, Yesus ba-nyak mempergunakan perumpamaan yang kadang-kadang ha-nya berupa pepatah saja (Mat. 5:13, 14; 15:14; 10:16). Dengan perumpamaan-perumpamaan-Nya Yesus terutama memberi-takan kerajaan Allah dan mengilustrasikan ciri-cirinya.

Kerajaan atau pemerintahan Allah itu diberikan oleh Allah sebagai karunia (Luk. 12:32), sesuatu yang tanpa jasa manusia diwariskan (Luk. 22:29). Dengan kata lain, Pemerintahan Allah tidak ditegakkan atau diwujudkan oleh daya upaya manusia. Hal ini diilustrasikan dengan perumpamaan tentang benih yang dengan sendirinya dan secara rahasia tumbuh (Mrk. 4:26-29), tentang ragi (Mat. 13:33 dst), tentang biji sesawi (Mat. 13:31-32), dan tentang seorang penabur Mrk. 4:1-9).

Masuk ke dalam kerajaan itu merupakan jalan kasih karunia. Hal ini dikemukakan dalam perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur (Mat. 20:1-16). Tampaknya tidak adil jika mereka yang telah bekerja sepanjang hari di bawah terik matahari dan telah menyelesaikan sebagian besar dari pekerjaan berat itu dibayar tidak lebih daripada mereka yang hanya bekerja satu jam saja pada sore hari yang dingin. Namun Yesus ingin menjelaskan dengan cara yang menyolok tentang kebenaran besar bahwa manusia memperoleh kesela-matan bukan karena kerja kerasnya. Allah menyelamatkan ma-nusia bukan karena jasa manusia, melainkan karena Ia menga-sihinya.

Karena merupakan karunia dan ditegakkan hanya oleh Allah sendiri, manusia tidak dapat mempercepat atau memperlambat perwujudan Kerajaan Allah. Hal ini bertentangan dengan pandangan umum orang Yahudi mengenai Kerajaan Allah. Sebaliknya, manusia hanya dapat menerima dan menyambut Kerajaan Allah sebagai seorang anak. Kerajaan itu milik anak-anak dan orang yang seperti anak-anak (Mrk. 10:14-15). Hanya orang yang menyambut kerajaan itu seperti seorang anak kecillah yang akan masuk ke dalamnya; sifat anak-anak yang dipakai sebagai perbandingan adalah sifat tidak berdaya dan tidak berarti, mungkin juga sifat percaya secara mutlak dan sifat sederhana. Anak kecil benar-benar tidak berdaya dan pada zaman dahulu anak kecil dianggap tidak berarti. Anak kecil percaya dengan sepenuh hatinya. Begitu jugalah seharus-nya orang-orang yang menyerahkan diri kepada kerajaan Allah. Sulit bagi seorang kaya untuk masuk kerajaan itu (Mrk. 10:23-25), bukan hanya karena kemiskinan itu mengandung kebajikan, melainkan terlebih lagi karena kekayaan itu selalu menggoda orang ke arah materialisme dan sifat bersandar pada diri sendiri. Orang yang bersandar pada kekuatannya sendiri tidak akan pernah benar-benar percaya kepada Allah.

Kerajaan Allah memang berupa karunia, tetapi memiliki nilai yang paling tinggi. Karena itu, pantaslah bila manusia dengan gembira hati mengorbankan segala sesuatunya untuk mena-klukkan diri padanya. Hal ini diilustrasikan dengan perumpa-maan tentang harta yang terpendam dan mutiara yang ber-harga (Mat. 13:44-46).

 

Bagaimana Membaca Perumpamaan?

Ketika membaca perumpamaan penting bahwa kita jangan sampai terjebak untuk mencari penjelasan rinci mengenai ceritanya. Kita perlu konsentrasi pada hal pokok yang hendak disampaikan. Kadang detil cerita cukup jelas, tetapi kadang kabur. Misalnya, mengapa orang kaya itu sampai membiarkan hamba yang tidak jujur itu mengurusi harta miliknya (Luk. 16:1-8). Seorang pencerita tidak harus memberikan setiap detil secara sempurna. Setiap perumpamaan memberikan satu pe-san pokok. Carilah pesan pokok itu dan jangan mengurusi detilnya. Seringkali dalam perumpamaan Yesus memberikan hal-hal yang mengejutkan dan tak terduga. Hal ini menantang para pendengar dan mengundang kita untuk berefleksi. De-ngan perumpamaan Yesus mau menuntut tanggapan. Jika orang mendengarkannya dengan iman dan kerendahan hati, ia akan dapat memahami apa yang hendak disampaikan oleh Yesus kepada hatinya.

Perumpamaan-perumpamaan Yesus memiliki makna ganda. Pertama, makna literal yang dapat dimengerti oleh setiap orang yang pernah mengalami subjek yang disampaikan. Tetapi dibalik makna literal ini, terdapat makna kedua, makna yang lebih mendalam, yang menyangkut ajaran mengenai kebenaran Allah dan kerajaan-Nya. Misalnya, perumpamaan tentang ragi (lihat Mat. 13:33) melukiskan perubahan yang terjadi dari adonan menjadi roti karena adanya ragi yang dicampurkan. Dengan cara yang sama, orang diubah oleh kerajaan Allah jika ia membiarkan Firman dan Roh-Nya untuk berkarya di dalam hatinya. Sebaliknya, ia pun dipanggil men-jadi ragi untuk mengubah masyarakat tempat ia hidup.

[2] B.M.F. Van Iersel, Yesus Itu Kristus. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 152.

[3] Yang dimaksudkan dengan para apokaliptisi adalah para penulis yang menampilkan diri sebagai orang-orang yang mendapatkan wahyu tentang akhir zaman.

[4] C. Groenen, Peristiwa Yesus. Yogyakarta: Kanisius, Nusa Indah, 1979, 94.

[5] C. Groenen, Peristiwa Yesus, 96.

 

(Referensi: Lembaga Biblika Indonesia, Seri Kursus Kitab Suci : INJIL, Jakarta, 2007, hal 22-34)

Tinggalkan komentar

Filed under Seri Kitab Suci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s