AIR BAH NUH : KE MANA AIR ITU PERGI??? (dan masalah yang terkait)

Berbicara mengenai perubahan dunia saat masa Banjir pada zarnan Nuh, Alkitab memberikan banyak informasi tentang ke mana air datang dan ke mana air pergi.

Sumber air utarna adalah mata air pada kedalaman yang besar, yang dulu dikatakan sebagai “tingkap-tingkap langit” dalarn Kejadian 7:11. Mereka beroperasi selama 150 hari selama air bah, dimana hujan berlangsung hanya 40 hari 40 malam, ada jumlah air yang terbatas di atas atmosfer (tingkap-tingkap langit). 

Sumber mata air ini terbukti merupakan perrnulaan diciptakannya air di bumi. Kita diberitahu dalam Kejadian 2:5,6 bahwa belum diturunkan hujan pada mulanya, tetapi sebaliknya ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu. Kata lbrani untuk kabut bukan hanya mengarah pada kabut atau embun seperti proses yang kita kenai saat ini, tetapi sumber air sebenarnya, seperti geiser atau sumber mata air. Setelah itu, ada empat sungai yang mengalir dari Taman Eden, dan jika tidak ada hujan, sumber mata air inilah yang menjadi sumber air yang mengalir ke empat jurusan sebagai sungai di Taman. Pentingnya sumber ini pada permulaan penciptaan ditekankan lagi dalam Wahyu 14:7, yang mengatakan bahwa malaikat memberitakan lnjil yang kekal dengan kata-kata ” … sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”

Jika sumber mata air ini merupakan sumber air utama, beroperasi selama 150 hari pertama pada tahun Banjir, pasti ada sumber air yang sangat besar. Beberapa orang memberikan pendapat bahwa ketika Allah menciptakan daratan muncul dari perairan pada hari ketiga penciptaan, sebagian air yang meliputi bumi terjebak di bawah dan tersimpan dalarn daratan. Dalarn beberapa hal, kita diberitahu sehubungan dengan ledakan sumber mata air ini pad a hari mulainya air bah, bahwa pada hari itu “terbelah” segala mata air, yang dengan jelas menunjukkan belahan yang besar pada tanah, Air yang tersimpan dengan tekanan besar di dalam bumi meledak keluar yang timbul sebagai bencana alam. Dengan dernikian sangat menarik diperhatikan bahwa lebih dari 90 persen dari apa yang keluar dari gunung berapi saat ini merupakan air, seringkali dalam bentuk uap. Karena ada banyak batu vulkanis tersebar di antara lapisan fosil dalarn catatan batuan lapisan yang dengan jelas tersimpan selama Bajir Nuh jadi cukup pantas jika dikatakan bahwa sumber mata air dari kedalaman ini membuat ledakan gunung berapi dengan jumlah air yang sangat besar meletus melewati tanah.

TINGKAP-TINGKAP LANGIT
Kita diberitahu bahwa sumber mata air lain Banjir Nuh adalah terbukanya tingkap-tingkap langit. Lalu dikatakan hujan turun 40 hari 40 malam secara terus-menerus , menunjukkan bahwa terbukanya tingkap-tingkap langit ini berarti merupakan hujan turun untuk yang pertama kalinya. Kita perhatikan dalam Kejadian 2:5 dikatakan tidak ada hujan pada rnasa terdahulu. Petunjuk dari Kejadian adalah tidak ada hujan sampai masa Banjir ketika tingkap-tingkap langit terbuka dan hujan pun turun. lni juga menjelaskan mengapa Nuh berkhotbah begitu lama (120 tahun), dengan sedikit orang yang percaya kepadanya, bahwa akan terjadi hujan. Mereka tidak pemah mengalami hujan atau banjir lokal ketika Nuh berkhotbah, dan mereka mencemooh peringatannya.

NUH BERKHOTBAH

Lalu apakah tingkap-tingkap langit ini, dan mengapa tidak hujan untuk waktu yang begitu lama di bumi pada hari-hari pertama sebelum Banjir? Dalam Kejadian pasal 1 dikatakan bahwa pada hari kedua penciptaan Allah memisahkan air yang ada di bumi dengan air yang Dia tempatkan di atas bumi ketika dia menciptakan cakrawala, atau atmosfer, di antara kedua air tersebut. Di atmosfer itulah Dia tempatkan burung-burung, sehingga kita tahu bahwa ini menunjuk kepada atmosfer di mana kita bemapas.

Ini berarti ada air di atas atmosfer yang secara jelas tidak ada di sini saat ini. Ini bukan menunjuk kepada awan, karena mereka ada di dalam atmosfer dan menghasilkan hujan, Juga tidak ada pelangi. Dlberitahukan dalarn Kejadian 9:8-17 bahwa Allah berjanji kepada Nuh bahwa Dia tidak akan pernah lagi mengirim air bah seperti yang pernah Dia kirimkan, dan Dia meletakkan pelangi di langit sebagai tanda akan janji tersebut. Secara khusus, Allah berkata (ayat 13), “Busur-Ku Kutaruh di awan” suatu petunjuk akan sebuah kenyataan bahwaseseorang memerlukan awan untuk menghasilkan pelangi. Awan terbuat dari tetesan air. Karena matahari bersinar melewati tetesan air tersebut, mereka menjadi prisrna kaca, sehingga cahaya terpencar menjadi komponen warna wami dan kita melihat pelangi. Tujuan sepenuhnya dari perjanjian ini bahwa sesuatu yang baru yang Allah lakukan, jadi ini adalah pertama kalinya pelangi dilihat,

Lalu air macam apa yang di atas atmosfer sebelum air bah? Banyak cendekiawan menganggapnya sebagai air dalarn bentuk uap yang dihalangi oleh atmosfer. Biasanya istllah yang digunakan adalah “tirai uap air” yang menunjukkan suatu selimut uap air menyelimuti seluruh bumi. Sulit dibayangkan bagaimana zat cair menggantung di atas atmosfer, tetapi uap air tentunya lebih ringan dari zat cair.

BENCANA AIR BAH

TIRAI UAP AIR
Dr. Joseph Dillow telah menghitung berapa banyak uap air yang secara fisik memungkinkan untuk menggantung di atas atmosfer sebagai selimut bumi. Dia berpendapat bahwa uap air yang ada memiliki ketebalan sama sekitar 12 meter (40 kaki) ketebalan zat cair. Dia memperhitungkan bahwa jumlah air seperti ini cukup untuk membuat hujan turun selama 40 hari 40 malam terus-menerus; di mana jika air di atas menjadi awan, lalu mengalami kelembaban di atmosfer, jika dengan cepat turun ke bumi sebagai hujan, akan sama dengan kurang dari lima sentimeter (dua inci) ketebalan zat cair – hampir tidak cukup menahan 40 hari 40 malam hujan pada masa Banjir.

Itu sebabnya, tampak jelas bahwa referensi dalam Kejadian 7:11 mengenai “tingkap-tingkap langit terbuka” merupakan jatuhnya tirai uap air ini, yang menjadi tidak stabil dan jatuh sebagai hujan-saksi mata menerangkan kejadian ini sebagai “tingkap-tingkap langit terbuka”. Beberapa orang mengemukakan bahwa ketika sumber mata air terbelah, diduga sebagai letusan gunung berapi, debu yang dikeluarkan oleh letusan ini tersebar ke dalam kanopi uap air, menyebabkan uap air bereaksi dengan partikel debu dan membentuk tetes air yang kemudian jatuh sebagai hujan.

Ada bukti lain secara tak langsung yang cocok dengan keberadaan tirai uap air ini sebelum Banjir. Tirai semacam ini bisa berarti iklim yang sangat menyenangkan di sekeliling bumi . pada saat itu, karena bumi menjadi terpagari oleh tirai semacam ini — menjadi sama seperti sebuah rumah kaca — dimana panas dari energi matahari terjebak dalam sarung uap air. Dengan demikian, para cendekiawan berbicara mengenai efek rumah kaca sebelum Banjir dengan temperatur iklim sub-tropis yang menyenangkan di sekitar bumi, bahkan di kutub utara yang saat ini terdapat es. Ini berarti sayuran bertumbuh dengan subur di seluruh permukaan bumi. Bukti bahwa hal ini terjadi di masa lampau adalah diketemukannya lapisan batu bara di Antartika mengandung sayuran yang sekarang tidak ditemukan lagi tumbuh di daerah kutub, tetapi yang jelas tumbuh pada kondisi alam yang lebih hangat.

Perbedaan temperatur yang menyolok seperti ini antara kutub utara dan katulistiwa bisa menimbulkan gerakan angin seperti yang terjadi pada dunia saat ini. Kita kemudian akan melihat bahwa gunung-gunung tidak setinggi sebelum air bah. Dalam dunia saat ini, angin dan ketinggian gunung merupakan bagian paling penting dari siklus yang menimbulkan hujan di daratan. Bagaimanapun, sebelum Banjir kedua hal ini tidak diperlukan, karena adanya cara yang berbeda di mana bumi dipenuhi air.

Kalau kita membaca permulaan pasal Kejadian, kita juga menemukan bahwa setiap kepala keluarga hidup dengan usia panjang — rata-rata, lebih dari 900 tahun. Banyak orang tidak percaya akan hal ini, karena saat ini kita hidup rata-rata hanya sampai 70 tahun. Tetapi dengan adanya tirai uap air memberikan perlindungan terhadap penduduk yang tinggal di bawahnya terhadap datangnya radiasi kosmis merugikan yang datang, yang berarti tirai tersebut bertanggung jawab terhadap proses masa hidup. Yang lain berpendapat bahwa tekanan oksigen yang lebih besar di bawah tirai semaeam ini bisa membuat masa hidup lebih lama bagi manusia dan hewan. Gelembung udara terjebak dalam fosil pohon damar berwarna sawo matang telah menunjukkan adanya konsentrasi oksiqcn 50 persen lebih tinggi daripada yang ada saat ini. Dengan demikian, kenyataan bahwa para leluhur yang hidup pada masa pra-Banjir, hidup dengan usia panjang dan ini merupakan bukti nyata akan adanya tirai uap air.

Dengan jatuhnya tirai uap air pada masa air bah (“tingkap-tingkap langit” terbuka), tidaklah mengejutkan melihat masa hidup manusia secara drastis berkurang pada tahun-tahun sesudah kejadian itu. Keturunan Nuh berikutnya secara berturut-turut hidup kurang dari 900 tahun dan pada beberapa generasi saja, masa hidup rnanusia berkurang rata-rata hingga 70 tahun saja, seperti yang dialami sekarang.

Ada petunjuk lain yang mengejutkan akan adanya tirai uap air sebelum air bah, dan bukti akan hal ini juga rnerupakan bukti nyata akan keberadaannya. Mereka yang berminat mempelajari masalah ini bisa berkonsultasi lebih lanjut dengan buku Dr. Joseph Dillow.

KEMANA AIR PERGI???
Jadi seluruh muka bumi diliputi oleh air bah, dan dunia yang ada dihancurkan dcngan air, dunia yang pada mulanya muncul atas perintah Allah (Kejadian 1 :9; II Petrus 3:5-6). Tetapi ke mana air itu pergi kemudian?

Ada sejumlah pesan dalam Alkitab yang mengarahkan bahwa air bah adalah air laut yang ada saat ini (Amos 9:6 & Ayub 38:8-11, perhatikan “gelombang”). Bila air masih di sini, bagaimana gunung yang paling tinggi tidak lagi diliputi air, seperti pada zarnan Nuh? Mazmur 104 memberikan jawabannya. Setelah air meliputi pegunungan (ayat 6), Allah menghardik air itu dan air itu melarikan diri (ayat 7); naik gunung, turun lembah (ayat 8) dan Allah memberikan batas sehingga mereka tidak akan pernah lagi meliputi bumi (ayat 9). Itu semua air yang sama!

Yesaya memberikan pernyataan yang sama bahwa air bah pad a zaman Nuh tidak akan pernah lagi meliputi bumi (Yesaya 54:9).

Yesaya 54:9
Keadaan ini bagi-Ku seperti pada zaman Nuh: seperti Aku telah bersumpah kepadanya bahwa air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikianlah Aku telah bersumpah bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau dan tidak akan menghardik engkau lagi.

Dengan jelas apa yang dikatakan Alkitab kepada kita adalah bahwa Allah bertindak mengubah topografi bumi. Daratan baru melahirkan rangkaian pegunungan baru dari lapisan batuan diangkat dari bawah oleh air yang meliputi bumi dan telah mengikis dan meratakan topografi sebelum air bah, sementara lautan yang besar dan dalam dibentuk untuk menampung dan menyimpan air banjir tersebutyang kemudian air dari daratan tersebut dialirkan ke dalamnya.

Itu sebabnya lautan begitu dalam, dan mengapa ada barisan gunung-gunung. Sesungguhnya, jika seluruh permukaan bumi diratakan dengan cara meratakan topografi permukaan tanah dan permukaan batuan pada dasar lautan, maka air lautan akan meliputi permukaan bumi dengan kedalaman lebih dari tiga kilometer (dua mil). Cukup jelas sekarang, air bah pada zaman Nuh adalah lautan yang ada sekarang ini. Kita perlu ingat bahwa hampir 70 persen dari bagian bumi adalah terdiri dari air.

SUATU MEKANISME???
Jika pad a akhir air bah pegunungan muncul sementara lembah tenggelam, gerakan bumi semacam ini pasti memberi arah vertikal, ciri ini bertentangan dengan gerak horisontal seperti yang dikemukakan oleh teori lintasan benua , dan lempeng tektonis yang banyak dikemukakan oleh para ilmuwan saat ini. Kenyataannya ada mekanisme untuk gerakan vertikal bumi, salah satunya kita memiliki bukti yang sangat bagus baik langsung maupun tidak langsung (lihat Lampiran I).

DAPATKAH AIR MENUTUPI GUNUNG EVEREST???

GUNUNG EVEREST
Tidak ada gunung setinggi gunung ini (8 kilometer lebih)

Telah dikemukakan bahwa tinggi maksimum dari air bah menurut teori bumi adalah sekitar tiga kilometer (dua mil). Tetapi gunung Everest contohnya, merniliki ketinggian lebih dari delapan kilometer (lima mil). Lalu bagaimana air bah meliputi semua bukit tinggi di seluruh bumi? Bagaimanapun, kita telah memperhatikan bahwa gunung yang sangat tinggi tidaklah diperlukan untuk hujan turun sebelum air bah, dan gunung-gunung yang ada sekarang dibentuk setelah air bah yaitu dengan desakan mekanisme ini. Mendukung hal ini, seseorang bisa meneliti bahwa lapisan paling atas dari gunung Everest terdiri dari fosil, lapisan air.

Proses pengangkatan daratan dari bawah air ini berarti bahwa kalau gunung timbul dan lembah tenggelam, air dengan cepat akan mengalir ke permukaan tanah yang baru muncul. Gerakan air dalam jumlah banyak dengan cepat semacam ini akan menyebabkan pengikisan, dan dengan demikian sulit membayangkan timbulnya pahatan/ukiran dari macam-macam bentuk daratan seperti yang kita lihat sekarang ini, termasuk contohnya, tempat seperti Grand Canyon di Amerika. dan Ayers Rock di Australia. (Bentuk monolitis yang ada sekaranq ini adalah hasil dari erosi dan pengangkatan tanah horisontal yang sebelumnya.)

Itu sebabnya mengapa kita mclihat juga. dalam beberapa hal, saat ini sungai yang ada di lembali yang jauh lebih besar dari yang seharusnya dihasilkan oleh sungai, kecil bila dibandingkan dengan yang ada pada mereka sekarang. Dengan kata lain, air yang mengalir mengukir lembah sungai semacam ini pasti lebih besar daripada volume aliran air pada sungai masa kini Ini sesuai dengan konsep jumlah air bah yang mengalir pada permukaan tanah pada akhir air bah pada zarnan Nuh, dan berakhir pada tempat yang cekung, baru disiapkan, lautan yang dalam.

LAMPIRAN 1
Isostasi
Ketika pengukuran dilakukan pada kekuatan sentrifugal dan ketinggian, berat burni kebanyakan sama pada tempat yang berbeda. T etapi, dengan pengukur gravitasi yang sangat peka yang berkernbang akhir-akhir ini, bumi dapat ditirnbang dengan sangat tepat. Hasilnya, diketernukan bahwa berat burni temyata berbeda dari satu ternpat ke ternpat yang lain, yaitu gravitasinya sedikit berbeda. Perbedaan ini tampaknya disebabkan oleh perbedaan kepadatan batuan di bawah benda, karena kita tahu bahwa bumi sepenuhnya hanya memiliki satu berat. Itu sebabnya, perbedaan yang ada pasti disebabkan oleh tarikan gravitasi yang berbeda dari batuan pada bagian kerak bumi yang berbeda.

Untuk keadaan ideal dari persamaan gravitasi yang mengatur ketinggian daratan dan dasar lautan, menurut kepadatan batuan dasar, istilah “isostasi” (bahasa Yunani untuk “berdiri sejajar”) dikernukakan oleh Dutton, seorang ahli geologi Amerika tahun 1889.
Ide ini timbul dari pemikiran terhadap serangkaian balok kayu dengan tinggi yang berbeda mengapung di air (lihat diagram). Balok muncul dari air dengan jumlah yang sebanding dengan ketinggian mereka; mereka dikatakan dalarn keadaan seimbang hidrostatis. Isostasi sesuai dengan keadaan seimbang antara bidang luas lapisan bumi yang timbul dengan tingkat yang berbeda dan muncul pada permukaan sebagai barisan pegunungan, dataran tinggi, dataran rendah, atau dasar lautan.

Balok kayu dengan ketinggian berbeda terapung di air (ditunjukkan di depan sebagai bagian yang melewati tangki). untuk menggambarkan konsep keseimbangan isostatik antara kolom yang berdekatan dari kerak bumi.

Dengan demikian relief bumi dlkatakan diimbangi oleh kepadatan batuan dasar yang berbeda. Secara alamiah, puncak dan lembah secara terpisah tidak seimbang, karena ciri relief minor ini dengan mudah dipertahankan oleh kekuatan kerak batuan. Meskipun demikian, istilah isostasi mengungkapkan ide bahwa dua tempat yang sama pada lapisan bumi, tinggi atau rendah, memiliki berat yang sama. Jadi kalau lapisan tipis, materi batuan akan lebih padat, dan kalau lapisan tebal, materi batuan akan kurang padat.

Konsep ini telah diteguhkan oleh bermacam-macam bukti. Contohnya, survei gravitasi yang dilakukan di lautan memberikan hasil yang sama dengan yang dilakukan di daratan. Penjelasan satu-satunya akan hal ini adalah, berdasarkan isostasi, batuan di dasar lautan lebih padat daripada batuan yang di daratan, karena air laut kurang padat daripada batuan. Dengan teknik penarikan contoh yang ada dan bahkan pengeboran batuan di dasar laut, klta diyakinkan bahwa batuan di sana lebih padat daripada kepadatan rata-rata batuan daratan.

Penelitian ilmu gempa, yang secara jelas memampukan kita untuk rnenyinar – X interior bumi, telah menjelaskan bahwa lapisan di dasar lautan itu tipis dan padat, sedangkan Iapisan pada daratan itu lebih tebal, dan kepadatan batuannya kurang. Dan sekarang, pengeboran yang dalam terhadap lapisan pada daratan rnemastikan ketebalan dan kepadatan lapisan daratan seperti yang ditunjukkan oleh bukti yang tidak langsung. ltu sebabnya muncul bahwa lapisan bumi mencapai keseimbangan isostik

Bila materi dipindahkan dari daratan oleh pengikisan, daratan menjadi lebih ringan beratnya dan cenderung melayang (seperti sebuah perahu terangkat dari air ketika muatan diambil). Sama halnya, erosi membawa endapan ke lautan, sehingga tempat dengan endapan yang berat seperti delta menjadi lebih berat, dan cenderung tenggelam.

Proses semacam ini sangat mungkin terjadi selama masa air bah. Air meliputi “segala gunung tinggi di seluruh kolong langit,” sehingga erosi telah merusak geografi sebelum air bah. Lapisan bumi mungkin terbelah untuk rnelepaskan sumber mata air, tidak diragukan lagi, disertai dengan ledakan gunung berapi dan campuran batuan beku. Setelah semuanya itu, keseimbangan isostatis dari lapisan pra-Banjir secara total dihancurkan, jadi dengan berakhimya dan penarikan kembali Banjir, keseimbangan isostatis yang baru menjadi mantap. Mungkin inilah satu mekanisme yang terjadi oleh gerakan vertikal bumi untuk membentuk topografi yang sekarang ini dan timbulnya ketinggian selama tahap-tahap akhir Banjir, seperti yang dijelaskan dalam Mazmur 104.

Mazmur 104 Kebesaran TUHAN dalam segala ciptaan-Nya
104:1 Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak,
104:2 yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda,
104:3 yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraan-Mu, yang bergerak di atas sayap angin,
104:4 yang membuat angin sebagai suruhan-suruhan-Mu, dan api yang menyala sebagai pelayan-pelayan-Mu,
104:5 yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya.
104:6 Dengan samudera raya Engkau telah menyelubunginya; air telah naik melampaui gunung-gunung.
104:7 Terhadap hardik-Mu air itu melarikan diri, lari kebingungan terhadap suara guntur-Mu,
104:8 naik gunung, turun lembah ke tempat yang Kautetapkan bagi mereka.
104:9 Batas Kautentukan, takkan mereka lewati, takkan kembali mereka menyelubungi bumi.
104:10 Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung,
104:11 memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus keledai-keledai hutan;
104:12 di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan.
104:13 Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu.
104:14 Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah
104:15 dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia.
104:16 Kenyang pohon-pohon TUHAN, pohon-pohon aras di Libanon yang ditanam-Nya,
104:17 di mana burung-burung bersarang, burung ranggung yang rumahnya di pohon-pohon sanobar;
104:18 gunung-gunung tinggi adalah bagi kambing-kambing hutan, bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk.
104:19 Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu, matahari yang tahu akan saat terbenamnya.
104:20 Apabila Engkau mendatangkan gelap, maka hari pun malamlah; ketika itulah bergerak segala binatang hutan.
104:21 Singa-singa muda mengaum-aum akan mangsa, dan menuntut makanannya dari Allah.
104:22 Apabila matahari terbit, berkumpullah semuanya dan berbaring di tempat perteduhannya;
104:23 manusia pun keluarlah ke pekerjaannya, dan ke usahanya sampai petang.
104:24 Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.
104:25 Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar.
104:26 Di situ kapal-kapal berlayar dan Lewiatan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya.
104:27 Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya.
104:28 Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tangan-Mu, mereka kenyang oleh kebaikan.
104:29 Apabila Engkau menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu.
104:30 Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.
104:31 Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!
104:32 Dia yang memandang bumi sehingga bergentar, yang menyentuh gunung-gunung sehingga berasap.
104:33 Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.
104:34 Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya! Aku hendak bersukacita karena TUHAN.
104:35 Biarlah habis orang-orang berdosa dari bumi, dan biarlah orang-orang fasik tidak ada lagi! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Haleluya!

Sumber :
– Ken Ham, Andrew Snelling, Carl Wieland, 1990, Jawaban Pasti atas 12 Hal yang Paling Banyak Dipertanyakan tentang Evolusi dan Penciptaan, Andi, Yogyakarta.
– J. Dillow, 1981. The Waters Above, Moody Press, Chicago

 

Dicuplik dari http://seputartentangalkitab.blogspot.com

Tinggalkan komentar

Filed under Seri Kitab Suci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s