Penyalahgunaan Hari Valentine

Membaca judul di atas kemungkinan besar atau kalau tidak mau dikatakan pasti banyak yang senyum-senyum menahan tawa. Itu kalau bagi yang murah senyum, sedang bagi yang serius akan mengkerutk dahinya.

Apa sebab? Seiring berjalannya waktu. Hari Valentine menjadi identik dengan kasih sayang bagi anak-anak remaja ataupun anak yang baru tumbuh dewasa.

Bagi sebagian besar remaja, Hari Valentine dianggap adalah saat yang tepat mengungkapkan kasih sayang kepada pasangannya.

Dengan berbagai cara yang sebenarnya sudah melenceng dari makna kasih sayang itu sendiri.

Apakah sebatang coklat dengan bentuk hati sudah bisa mewakili yang namanya kasih sayang?

Apakah sebuah ciuman dan pelukan yang berselimut nafsu dapat dikatakan ungkapan kasih sayang?

Apakah kasih sayang itu bisa diwujudkan dengan persetubuhan dua insan yang belum terikat pernikahan?

Itulah umumnya yang terjadi selama ini dalam merayakan Hari Valentine. Tak heran bila kemudian ada lembaga keagamaan mengharamkan untuk merayakan Hari Valentine.

Dimana sebenarnya adalah ungkapan keprihatinan terhadap cara merayakan kasih sayang yang sudah menyimpang dengan menebeng Hari Valentine.

Kita tentu tidak bisa serta merta menyalahkan budaya merayakan Valentine. Tetapi cara mengaplikasikan kasih sayang dalam merayakan Hari Valentine itulah yang kurang tepat.

Bila dibilang itu namanya penyalahgunaan Hari Valentine.

Seperti kita tahu. Semua agama pada hakekatnya mengajarkan untuk saling mengasihi antara sesama. Sebenarnya agama itulah yang semestinya kita identikkan dengan kasih sayang.

Dengan kata lain, bahwa setiap umat yang mengaku beragama, salah satu kewajibannya adalah mengasihi sesama. Bukankah itu jelas-jelas adalah perintah Tuhan?

Kalau sekadar meminjam Hari Valentine untuk mengingatkan diri kita tentang pentingnya untuk saling mengasihi sesama sebagaimana kita mengasihi Tuhan, menurut saya tidaklah haram.

Bila merayakan Hari Valentine sambil mabuk-mabukan dan berpesta seks dengan bukan pasangan resminya. Nah, itu baru namanya … Apa tadi?  Ya, itu deh!

 

Tinggalkan komentar

Filed under Keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s