Kristus Sungguh Telah Bangkit

Salah satu misteri iman Kristen yang terbesar, yang sulit sekali dijelaskan adalah misteri kebangkitan Kristus. Kesulitan ini muncul terutama karena tidak ada saksi mata. Memang, ada bukti-bukti tidak langsung yang mendukung, seperti kubur kosong dan saksi-saksi penampakan Kristus setelah bangkit. Akan tetapi, peristiwa kebangkitan Kristus itu sendiri terjadi tanpa disaksikan oleh satu manusia pun. Selain itu, penampakan-penampakan Kristus hanya dialami orang-orang tertentu yang notabene sebagian besar adalah murid-murid-Nya sendiri, yang telah mengikuti-Nya sebelum Ia wafat di salib. Hal ini mau tidak mau akan memberikan dampak psikologis bagi orang-orang di luar kalangan mereka yang mendengar kesaksian mereka. Kemungkinan kesaksian mereka untuk dipercaya kecil. 

Di luar segala kesulitan untuk mengerti itu, satu sikap aman yang patut kita ambil adalah percaya. Tuhan Yesus berkata kepada para murid yang mengalami penampakan setelah kebangkitan-Nya, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Percaya akan kebangkitan Kristus menjadi sangat penting karena arti dan nilai kebangkitan itu sendiri. Dalam Katekismus Gereja Katolik (no. 651-655), dengan indah Gereja menguraikan arti dan nilai kebangkitan Kristus sebagai berikut:

  1. Dengan kebangkitan-Nya, Kristus mensahkan segala sesuatu yang diajarkan-Nya (bdk. 1Kor 15:17).
  2. Kebangkitan Kristus berarti janji-janji-Nya sekaligus janji-janji Perjanjian Lama digenapi (bdk. Mat 28:6; Mrk 16:7; Luk 24:6-7; Luk 24:26-27.44-48).
  3. Kebangkitan Kristus menegaskan ke-Allahan-Nya (bdk. Yoh 8:28).
  4. Melalui kematian-Nya, kita dibebaskan dari dosa, dan melalui kebangkitan-Nya, pintu masuk menuju kehidupan baru dibukakan-Nya untuk kita. Hidup baru ini adalah pembenaran yang menempatkan kita kembali dalam rahmat Allah (bdk. Rm 4:25) serta pengangkatan menjadi anak-anak Allah, saudara-saudari Kristus (Yoh 20:17; Mat 28:10).
  5. Akhirnya, kebangkitan Kristus—Kristus yang telah bangkit itu sendiri—adalah sebab dan dasar utama kebangkitan kita yang akan datang (bdk. 1Kor 15:20-22).

Demikianlah, memang iman sangat penting, bahkan paling penting mengingat kaitannya dengan pembenaran kita. Akan tetapi, selain menekankan keluhuran iman, Gereja ternyata juga memberikan perhatian besar pada bukti-bukti kebangkitan Kristus. Gereja berupaya menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus benar-benar terjadi (“Misteri kebangkitan Kristus adalah satu kejadian yang sesungguhnya, yang menurut kesaksian Perjanjian Baru menyatakan diri secara historis”—Katekismus Gereja Katolik no. 639). Dalam hal ini, Gereja mengerti bahwa manusia tidak bisa mengesampingkan begitu saja akal budinya, sebab kadang-kadang Allah membiarkan manusia mengenal pribadi dan juga misteri-misteri-Nya melalui refleksi akal budi, walaupun pada akhirnya akal budi tersebut harus ditanggalkan untuk memahami semakin mendalam misteri-misteri Allah. Demikian juga, walaupun misteri kebangkitan Kristus hanya bisa dipahami seutuhnya dalam iman, bukti-bukti yang dikumpulkan berdasarkan refleksi akal budi pasti berguna, sedikitnya untuk meneguhkan atau mempertanggungjawabkan iman kita. Lagipula, berkenaan dengan pertanggungjawaban iman, bukti-bukti akan kebangkitan Kristus sebenarnya lebih ditujukan kepada mereka yang belum percaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka seputar tema ini. Semoga semua ini bisa membantu mereka untuk lebih mengerti iman kita.

 

Bukti-bukti Kebangkitan Kristus

a.  Kubur Kosong

“Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Bukti pertama yang secara tidak langsung menyiratkan kebangkitan Kristus adalah kubur Yesus yang kosong. Ada tiga hal menarik yang bisa kita lihat dalam peristiwa kubur Kristus yang kosong. Pertama, adanya para penjaga yang menjaga kubur Yesus. Kedua, mereka bukan hanya menjaga saja, tetapi juga memeterai kubur itu. Lalu yang ketiga, kabar yang disebarkan kemudian bahwa para murid Yesuslah yang mencuri jenazah-Nya.

Ketika Yesus telah wafat dan dimakamkan, para imam kepada dan orang-orang Farisi meminta Pilatus mengutus beberapa orang untuk menjaga kubur Yesus. Mereka pernah mendengar kata-kata Yesus sendiri bahwa Ia akan bangkit kembali pada hari ketiga sehingga mereka khawatir jangan-jangan para murid-Nya akan berusaha untuk mengosongkan kubur. Jika kubur ditemukan kosong pada hari ketiga, bisa-bisa banyak orang akan percaya bahwa memang Kristus telah bangkit. Akibat yang timbul akan sangat besar. Oleh karena itu, mereka berusaha agar tidak seorang pun dari murid Yesus mendekati kubur itu sebelum hari ketiga, yakni dengan menempatkan para penjaga di sekelilingnya.

Hal kedua yang menarik adalah batu penutup kubur yang dimeterai dam tidak bergeser dari tempatnya sejak pemakaman Yesus sampai pagi hari itu. Kuburan tempat Yesus dibaringkan adalah suatu gua batu hasil penggalian dengan lubang gua sebagai satu-satunya pintu masuk. Lubang masuk itu ditutupi oleh sebuah batu besar yang tidak mungkin bisa digulingkan atau digeser oleh satu orang saja. Perlu beberapa orang untuk melakukan pekerjaan itu. Batu seberat itu tentunya juga akan menimbulkan keributan besar saat digeser. Dan yang mengejutkan adalah: Yesus tidak ada lagi di dalam kubur-Nya!

Di manakah jenazah Yesus? Kubur yang tetap tertutup rapat sampai akhirnya dibuka oleh malaikat Tuhan pada pagi pertama minggu itu menunjukkan bukti bahwa tidak ada seorang pun yang pernah masuk ataupun keluar sejak penutupannya pada saat pemakaman Yesus. Lalu, bagaimana caranya jenazah Yesus bisa hilang begitu saja tanpa diketahui oleh para penjaga?

Ketika para imam kepala dan orang-orang Farisi mendapat laporan dari para penjaga itu, mereka serta-merta mengambil keputusan untuk menyogok para penjaga itu. Para imam dan orang-orang Farisi pada saat itu meminta mereka untuk menyebarkan kabar bohong bahwa jenazah Yesus telah dicuri oleh para murid-Nya pada saat para penjaga tersebut sedang tidur.

Pertanyaannya sekarang, “Apakah mungkin para murid bisa mencuri jenazah Yesus tanpa membangunkan para penjaga? Bagaimana dengan batu besar penutup gua itu?” suara besar yang ditimbulkan mustahil tidak membangunkan para penjaga itu meskipun mereka tertidur lelap sekali.

Para murid Kristus sendiri sebagian besar adalah orang-orang sederhana, seperti Petrus dan Yohanes yang merupakan nelayan-nelayan Galilea. Jikapun mereka bisa menyusun plot pencurian mayat Yesus, tidak mungkin dari sekian banyaknya mereka ini tidak ada yang akhirnya mengakui persekongkolan itu, bila ada, dalam waktu yang sekian lama (seumur hidup mereka).

Satu hal lagi yang menunjukkan ketidakmungkinan adanya plot pencurian jenazah Yesus ini adalah keadaan batin para murid-Nya saat itu. Mereka semua sangat terpukul atas penyaliban Yesus. Dunia telah menjadi gelap bagi mereka. Yesus, yang mereka anggap sebagai Penyelamat yang akan datang, akhirnya mati dengan cara yang sangat mengenaskan. Iman mereka pada saat itu boleh dikatakan nol. Bagaimana mereka bisa ingat akan nubuat Yesus tentang kebangkitan-Nya di saat ketakutan dan kesedihan besar menyelimuti batin mereka? Baru setelah malaikat dan Yesus sendiri setelah kebangkitan-Nya mengingatkan hal itu kembali, mereka menjadi dapat mengerti dan percaya (bdk. Luk 24:6-8.26).

Lalu, jika memang kejadian pencurian Yesus itu tidak mungkin, apa sebenarnya yang terjadi? Satu-satunya jawaban yang mungkin hanyalah bahwa Yesus telah bangkit! Ia telah bangkit dengan tubuh yang dimuliakan, yang tidak terikat lagi oleh waktu dan tempat, sehingga Ia dengan bebas dapat keluar dari kubur-Nya tanpa menggulingkan batu penutup kubur-Nya.

 

b. Saksi-saksi Awali

Berita tentang kebangkitan Kristus hanya akan menjadi bahan tertawaan saja bagi orang yang mendengarnya, jika pemberitaan itu tidak didasari oleh keyakinan dari seorang saksi mata. Sebaliknya, jika pemberitaan itu sungguh-sungguh dijiwai oleh iman yang hidup, paling sedikit ia akan membuat orang memikirkan kemungkinannya. Di sinilah terletak rahasia perkembangan iman.

Unsur kesaksian utama para saksi mata terletak pada pengalaman berjumpa dengan Kristus, yang menampakkan diri kepada mereka setelah kebangkitan-Nya. Jumlah mereka yang mengalami penampakan ini cukup besar. Menurut Santo Paulus, jumlah mereka lebih dari 500 orang (lih. 1Kor 15:5-8). Mereka inilah, yang sebagian besar adalah orang-orang sederhana, yang akhirnya berhasil meyakinkan banyak orang (termasuk kaum terpelajar) akan kebangkitan Kristus, sehingga bertambah banyaklah jumlah orang yang diselamatkan (bdk. Kis 4:4).

Jumlah mereka tidak berhenti bertambah sebab kesaksian para saksi awali ini kemudian diteruskan sampai dewasa ini secara lisan maupun tertulis melalui bimbingan dan kebijaksanaan Roh Kudus sendiri. Kesaksian ini yang hadir secara nyata dalam Tradisi Gereja patut selalu kita syukuri. Melalui penerusan dan perkembangan Tradisi, khususnya melalui sakramen-sakramen, Kristus hadir dan memenuhi janji-Nya untuk selalu menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman.

 

c.   Saksi-saksi Penerus

Saya ingin mengutip kata-kata seorang mistikus besar Gereja Timur: Simon, Teolog Baru. Simeon adalah salah satu dari tiga orang mistikus yang diakui Gereja Timur sebagai teolog (dua orang lagi adalah Santo Yohanes Penginjil dan Santo Gregorius dari Nazianze). Arti kata “teolog” bagi Gereja Timur sangat luhur, berbeda dengan arti kata itu di Barat dan yang pada umumnya. Jika seseorang sampai digelarkan “teolog”, itu berarti bahwa orang itu diakui oleh Gereja Timur sebagai mistikus besar, yang mengalami secara mendalam kehadiran Allah dan yang sekaligus mampu mengungkapkan pengalamannya itu dalam tulisan-tulisan yang sangat mendalam. Ia mengungkapkan dengan indah sekali misteri kebangkitan Kristus yang terjadi di dalam diri kita: “Kebangkitan Kristus, oleh karenanya, adalah kebangkitan kita, kita yang hidup di dunia ini. Ia, yang tidak pernah jatuh ke dalam dosa (Ibr 4:15, 7:26), seperti ada tertulis, yang juga tidak kehilangan sedikit pun kemuliaan-Nya sendiri, bagaimana Ia bisa ditinggikan atau dimuliakan, sedangkan Ia selalu mulia mengatasi segalanya dan tetap demikian, ‘jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa (Ef 1:21)?’ Seperti telah diwartakan, kebangkitan Kristus dan kemuliaan-Nya adalah kemuliaan kita juga” (Simeon, Teolog Baru, The Discourses XII; β 3).

Kita memiliki kebangkitan dan kemuliaan Tuhan di dalam diri kita! Ini terjadi bukanlah karena jasa kita, melainkan semata-mata hadiah dari Kristus sendiri. Sebagai akibatnya, kita menjadi satu dengan-Nya dalam kemuliaan-Nya, masing-masing menurut takarannya.

Jika dikatakan menurut takarannya, jelas ada perbedaan di antara para pengikut Kristus, yang dilihat dari tingkat persatuannya dengan Allah. Ada orang-orang tertentu yang dipanggil secara khusus, sehingga mereka ini, sudah di dunia ini, secara sempurna bersatu di dalam kemuliaan Kristus. Mereka inilah, yang menurut para pembimbing rohani, jiwa-jiwa yang budi, kehendak, dan ingatannya telah menjadi satu dengan budi, kehendak, dan ingatan Tuhan sendiri. Apapun yang mereka katakan, lakukan, dan pikirkan, sungguh-sungguh keluar dari persatuan jiwa mereka dengan Allah. Mereka inilah, yang sebagian masih hidup, merupakan saksi-saksi penerus kebangkitan Kristus yang utama. Satu hal yang menarik pula: di antara mereka ini tidak sedikit yang terpelajar. Siapa yang dapat meragukan kecerdasan Santo Agustinus atau Santo Thomas Aquinas? Ini membuktikan bahwa kebangkitan Kristus sebenarnya bukanlah suatu peristiwa yang omong kosong.

Demi memberi kesaksian, orang-orang yang khusus ini, atau selanjutnya kita sebut para kudus, rela untuk menyerahkan seluruh diri mereka untuk mengasihi Allah dan menjadikan Dia dikasihi. Mereka tidak akan segan-segan untuk menyerahkan nyawa mereka demi itu. Bagi mereka, Kristus telah bangkit, dan tetap hidup sekarang ini dalam kejelasan yang tidak diragukan.

Selain para kudus tersebut, kita juga dipanggil untuk menjadi saksi-saksi kebangkitan Kristus. Kita pun memiliki kebangkitan dan kemuliaan Kristus, hanya kemuliaan Kristus kurang terpancar ke luar dari diri kita. Bagaimana orang lain dapat juga melihat cahaya kebangkitan dan kemuliaan Kristus terpancar dari dalam diri kita? Kita bisa belajar banyak dari para saksi awali dan para kudus.

 

d. Saksi-saksi yang Hidup Dari Kebangkitan Kristus

Apa yang membuat kesaksian para saksi awali dan juga para kudus menarik dan meyakinkan? Salah satunya adalah keberanian mereka. Dengan memberikan kesaksian, risiko yang harus ditanggung mereka sangat besar. Tidak jarang terjadi, ada di antara mereka yang harus menyerahkan nyawanya untuk tetap berpegang pada iman mereka. Hal kedua yang sangat menarik adalah kesederhanaan kesaksian mereka yang tidak mencari keuntungan diri sendiri. Prinsip mereka dalam bersaksi bisa diringkas dalam kata-kata Santo Paulus ini, “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah” (1Kor 9:18). Ketiga, seperti yang telah disinggung di atas, iman mereka. Keempat, karena apa yang mereka bagikan adalah hidup itu sendiri, suatu kabar gembira akan kebangkitan. Kelima, yang paling penting, semuanya dilandasi dan dijaga oleh bimbingan dan kekuatan Roh Kudus sendiri.

Jelaslah bahwa semuanya memang tergantung dari Roh Kudus. Hanya Dialah sumber kekuatan kita untuk percaya. Berkaitan dengan ini, saya kutip sekali lagi di sini kata-kata Simeon, Teolog Baru, “Melalui Roh Kuduslah terjadi kebangkitan universal. Maksudku bukanlah kebangkitan badan pada akhir zaman (Ibr 9:26), saat malaikat meniup nafiri dan orang-orang yang mati bangkit kembali (1Kor 15:52), melainkan maksudku adalah kelahiran dan kebangkitan kembali secara rohani dari jiwa yang telah mati, yang terjadi setiap hari secara batiniah. Kebangkitan ini datang dari Kristus yang pernah mati satu kali (untuk selama-lamanya) dan yang telah dibangkitkan kembali (Rm 6:9-10). Kepada semua orang yang mati bersama Dia dalam kerelaan dan iman, Ia memberikan kebangkitan. Ini dianugerahkan melalui Roh Kudus-Nya, yang bahkan hingga saat ini, dilimpahkan atas mereka dalam Kerajaan Surga” (Simeon, Teolog Baru, The Discourses VI; β 10).

Akhir kata, tanpa Roh Kudus, kita tidak mungkin mampu untuk percaya. Segala bukti yang ada, sejelas apapun itu adanya, tidak akan bisa membuat kita percaya, jika Roh Kudus tidak ada dalam diri kita. Oleh Roh itulah kita berseru, “Abba, ya Bapa!” dan “Yesus adalah Tuhan!” Ia sungguh telah bangkit, alleluia! (bdk. Rm 8:15; 10:9; Yeh 37:12-14).

 

Written by Georgius Paulus CSE

Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s