DASAR KEPEMIMPINAN DALAM KOMUNITAS GEREJA

I. Pendahuluan

“Receive the Gospel of Christ, whose herald you have become. Believe what you read; Teach what you believe; Practice what you teach.” atau “Terimalah buku Injil Kristus, yang mana kamu telah menjadi pengabarnya. Percayalah apa yang engkau baca; Ajarilah yang engkau percayai; Laksanakan apa yang engkau ajarkan” adalah kalimat yang diberikan pada waktu pentahbisan diakon. Walaupun tidak semua orang ditahbiskan menjadi diakon atau imam, namun kalimat indah ini dapat diterapkan pada kita semua, yang juga menerima perutusan sebagai murid Kristus pada saat kita menerima pembaptisan. Melalui Pembaptisan kita menerima mandat dari Kristus untuk menjadi imam, nabi dan raja.

Kata-kata di atas juga dapat diterapkan sebagai dasar kepemimpinan dalam komunitas Gereja. Komunitas-komunitas di dalam Gereja harus mempunyai dasar kepemimpinan yang berdasarkan Injil Kristus, karena Injil Kristus adalah sumber, pegangan, rujukan, sehingga seseorang dapat menjadi pemimpin kristiani yang baik. Dengan demikian pesan Injil Kristus yang utama – yaitu kasih – harus kita pelajari, kita percayai, kita beritakan dan terutama harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, untuk menjadi pemimpin yang baik, maka seseorang harus terlebih dahulu dapat memimpin dan mengatur dirinya sendiri. Dan tidak ada cara yang lebih efektif untuk memimpin dan mengatur diri sendiri selain menyesuaikan hidup kita dengan ajaran Injil Kristus. Dalam konteks Gereja, maka setiap komunitas yang tergabung dalam Gereja Katolik haruslah menjaga persatuan dengan Gereja, sehingga masing-masing komunitas dapat membangun Gereja dari dalam.

II. Terimalah buku Injil Kristus, yang mana kamu telah menjadi pengabarnya

Pada waktu kita mengatakan bahwa kita menerima Injil Kristus, maka kita juga harus mengerti apa yang sebenarnya kita terima. Dengan mengerti pesan dalam Injil Kristus, maka kita dapat menyadari prinsip-prinsip kepemimpinan yang diinginkan oleh Kristus. Berikut ini adalah dasar-dasar kepemimpinan Kristiani yang dapat kita refleksikan, yaitu kepemimpinan berdasarkan: kasih, kerendahan hati, ketekunan, kebijaksanaan, dan persatuan.

1. Kasih adalah dasar dari semua karya kerasulan dan kepemimpinan kristiani.

“29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Mk 12:29-31)

Kalau kasih kepada Tuhan dan sesama adalah perintah yang utama dan tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum tersebut, maka hal ini juga berlaku sebagai dasar kepemimpinan dalam komunitas Gereja. Bahkan kalau kita membaca semua pesan dan perintah di Alkitab, maka kita menyadari bahwa semua perintah tersebut mempunyai dasar kasih, sehingga rasul Paulus mengatakan bahwa kalau seseorang dapat berbicara dengan semua bahasa manusia dan malaikat, dapat bernubuat, memiliki seluruh pengetahuan, memiliki iman, membagi-bagikan harta maupun menyerahkan diri untuk dibakar, namun tanpa kasih, maka semuanya menjadi tidak berguna (lih. 1 Kor 13:1-13). Jadi, kita dapat melihat supremasi kasih yang mengatasi segalanya. Demikian pentingnya posisi kasih, sehingga St. Agustinus mengatakan jika seseorang memiliki kasih, maka orang tersebut dapat berbuat apapun. Hal ini disebabkan karena kasih yang dibicarakan oleh St. Agustinus adalah kasih yang supernatural (ilahi), kasih yang menempatkan kasih kepada Tuhan lebih dari segalanya. Kasih seperti inilah yang menjadi dasar spiritualitas dari setiap pemimpin Kristiani.

Orang sering salah melangkah dengan mencoba aktif dalam kegiatan-kegiatan tanpa landasan spiritualitas yang baik. Atau dengan kata lain, orang sering mencoba untuk mengasihi sesama dengan cara aktif dalam kegiatan Gereja tanpa landasan kasih kepada Allah. Tanpa berlandaskan kasih Allah, seseorang yang mencoba aktif dalam evangelisasi tidak akan bertahan lama, karena tinggal menunggu waktu, maka akan terjadi keributan, ketidakcocokan dengan teman, dan akhirnya akan tercerai berai. Hal ini sama seperti membangun rumah di atas pasir (lih.Mt 7:26), yang tidak akan bertahan pada waktu badai menerpa. Jadi, untuk dapat melakukan evangelisasi maupun kepemimpinan, maka seseorang harus mengasihi Tuhan terlebih dahulu. Dengan demikian, semua kegiatan Gereja dan kegiatan evangelisasi adalah merupakan buah dari kasih kita kepada Allah. Yang terberkati bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan:

“The fruit of silence is prayer, the fruit of prayer is faith, the fruit of faith is love, the fruit of love is service, the fruit of service is peace” atau “Buah dari keheningan adalah doa, buah dari doa adalah iman, buah dari iman adalah kasih, buah dari kasih adalah pelayanan, buah dari pelayanan adalah kedamaian.“

      2. Kerendahan hati menjadi dasar dari kepemimpinan, sehingga dapat melakukan hal-hal besar.

“12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:12-15).

Dapat dikatakan bahwa kerendahan hati adalah merupakan pondasi dari kehidupan spiritual seseorang. Tanpa kerendahan hati, tidak mungkin seseorang bertumbuh secara spiritual dan tidak mungkin seseorang dapat menjadi seorang pemimpin yang sesuai dengan prinsip-prinsip kristiani. Karena tanpa kerendahan hati, seseorang tidak dapat mengasihi. Kerendahan hati yang artinya adalah memahami bahwa diri sendiri bukan apa-apa dan Tuhan adalah segalanya, membuat seorang pemimpin dapat mengerti kondisi orang yang dipimpinnya tanpa kehilangan visi dan keberanian untuk mengerjakan hal-hal besar, karena menyadari bahwa Tuhan dapat memberikan dirinya kemampuan untuk melakukan hal-hal besar.

        a. Kerendahan hati ini membuat seorang pemimpin mempunyai kehormatan.

Kitab Amsal mengatakan “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” (Ams 18:12) Ada banyak pemimpin yang bersikap tinggi hati, karena ingin mendapatkan kehormatan dari bawahannya. Namun kitab Amsal justru mengatakan bahwa tinggi hati dapat membawa kehancuran. Dan kerendahan hati justru membawa kehormatan. Kita dapat belajar kerendahan hati dari Yesus, yang telah merendahkan diri-Nya untuk menjadi manusia dan memberikan Diri-Nya untuk mati di kayu salib (lih. Fil 2:8), sehingga mendatangkan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

        b. Kerendahan hati membuat pemimpin dapat melakukan hal-hal besar.

Mungkin ada yang mempertanyakan bagaimana dengan kerendahan hati seseorang dapat melakukan hal-hal besar. Kerendahan hati yang sejati justru menyadari akan kuasa Tuhan yang begitu besar. Dengan bersandar pada kekuatan Tuhan, maka pemimpin yang baik dapat melakukan hal-hal besar. Para kudus telah membuktikan hal ini sepanjang sejarah Gereja. Bunda Teresa, seorang suster dari Albania, yang bekerja di India sebagai seorang guru, dapat menjadi pendiri ordo Cinta Kasih, karena mengikuti panggilan Allah dan senantiasa bersandar pada rencana Allah.

      3. Ketekunan menjadi syarat mutlak untuk menjadi pemimpin yang baik.

“4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rm 5:4-5)

Ada begitu banyak pemimpin-pemimpin yang terlihat baik dan cakap dalam komunitas-komunitas Gereja. Namun, kecakapan ini mengalami ujian dalam kondisi-kondisi yang sulit, seperti: anggota komunitas yang berkurang, perpecahan di dalam komunitas, ketidakpuasan akan kepemimpinan dan juga arah dari komunitas. Dalam kondisi seperti ini, maka diperlukan suatu ketekunan, ketekunan untuk setia terhadap panggilan. Kita dapat belajar dari rasul Paulus, yang terus setia dalam panggilannya, walaupun mengalami hukuman cambuk, dipenjara, diasingkan, beberapa kali akan terbunuh, sampai akhirnya dia dibunuh di Roma. Inilah sebabnya Rasul Paulus mengatakan “Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1Kor 9:24). Rasul Paulus menekankan bahwa kita harus bertekun, sehingga kita dapat sampai pada tempat tujuan.

      4. Hati yang tulus disertai dengan kebijaksanaan menjadikan seseorang pemimpin yang efektif.

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mt 10:16)

Kerendahan hati dan ketekunan tidaklah cukup untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan efektif. Untuk itu diperlukan kombinasi ketulusan dan kecerdikan, atau mungkin lebih tepatnya kebijaksanaan (prudence). Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan kebijaksanaan sebagai berikut:

KGK, 1806. “Kebijaksanaan adalah kebajikan yang membuat budi praktis rela, supaya dalam tiap situasi mengerti kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk mencapainya. “Orang yang bijak memperhatikan langkahnya” (Ams 14:15). “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Ptr 4:7). “Kebijaksanaan ialah akal budi benar sebagai dasar untuk bertindak”, demikian santo Tomas menulis (s.th. 2-2,47,2,sc) mengikuti Aristoteles. Ia tidak mempunyai hubungan dengan rasa malu atau rasa takut, dengan lidah bercabang atau berpura-pura. Orang menamakan dia “auriga virtutum” [pengemudi kebajikan]; ia mengemudikan kebajikan lain, karena ia memberi kepada mereka peraturan dan ukuran. Kebijaksanaan langsung mengatur keputusan hati nurani. Manusia bijak menentukan dan mengatur tingkah lakunya sesuai dengan keputusan ini. Berkat kebajikan ini kita menerapkan prinsip-prinsip moral tanpa keliru atas situasi tertentu dan mengatasi keragu-raguan tentang yang baik yang harus dilakukan dan yang buruk yang harus dielakkan.“

Pemimpin dapat saja mempunyai kasih, namun dia dapat salah menerapkan kasih. Dia dapat saja mempunyai kerendahan hati, ketekunan, maupun ketulusan, namun dapat saja tidak mempunyai kebijaksanaan, sehingga sulit untuk menjadi pemimpin yang efektif. Kebijaksanaan membuat seseorang tahu bagaimana harus bertindak, bukan berdasarkan kepentingan diri, namun berdasarkan kebenaran; bukan berdasarkan cari muka, namun ketulusan hati; tidak bermegah dan tidak tinggi hati, namun mampu mengerjakan hal-hal besar maupun kecil dijiwai dengan kasih yang besar.

       5. Menjaga persatuan dalam Gereja menjadi tanda pemimpin yang dewasa.

“Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yoh 17:11).

Seorang pemimpin di dalam komunitas Gereja tidak dapat memisahkan diri dari Gereja. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang baik akan senantiasa menjaga persatuan dan senantiasa membangun Gereja dari dalam. Pemimpin yang mencoba memisahkan diri dari Gereja bertentangan dengan sikap kerendahan hati dan kasih. Memisahkan diri adalah cermin dari kesombongan, yang mengutamakan pendapat dan sentimen pribadi dengan mengorbankan kebaikan bersama (common good). Dan karena kebaikan bersama dikorbankan, maka intensi dari kasih juga dipertanyakan. Terutama, jika kita mengingat bahwa dalam perpecahan yang dilakukan oleh seorang pemimpin, maka ada banyak orang atau pengikutnya yang turut bergabung/ terlibat dalam perpecahan tersebut.

III. Percayalah apa yang engkau baca

Setelah kita mengenal prinsip-prinsip kepemimpinan seperti yang dituliskan di dalam Injil Kristus, maka kemudian kita harus mempercayainya, kita harus mengimaninya. Mengapa kita percaya? Kita percaya karena martabat dari yang memberi saksi, dalam hal ini adalah Kristus, Allah Putera. Kita percaya akan apa yang tertulis dalam Alkitab, karena apa yang tertulis adalah merupakan wahyu dari Allah. Dan karena Allah tidak mungkin berbohong, maka kita mempercayai apa yang dituliskan-Nya. Dan ini adalah esensi dari iman, yaitu suatu persetujuan dari akal budi yang kokoh pada suatu kebenaran, berdasarkan pemberitaan dari saksi.

Ada perbedaan prinsip antara mempercayai dengan mengetahui. Perbedaannya terletak pada “kepastian” dari akal budi kita untuk menyerahkan diri kepada kebenaran tersebut. Kepercayaan akan suatu kebenaran, membuat seseorang menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi, baik pendapat sendiri maupun keberadaannya. Kepastian ini membuat seseorang mempunyai pengharapan yang kuat akan apa yang dijanjikan dalam kebenaran tersebut.

Seorang tukang akrobat berjalan dari atap rumah ke atap rumah yang lain hanya dengan menggunakan tali. Banyak orang menguatirkan keselamatan tukang akrobat ini. Namun dengan kepiawaiannya, dia dapat berjalan di atas tali dari atap rumah satu ke atap rumah lain tanpa terjatuh. Orang-orang bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Kemudian tukang akrobat itu bertanya kepada para penonton “Apakah anda percaya bahwa saya dapat berjalan di atas tali ke atap rumah di seberang sana?” Para penonton dengan gemuruh menyerukan bahwa mereka percaya, setelah mereka melihat bahwa tukang akrobat tersebut telah membuktikan trik tersebut berkali-kali. Dan memang benar, akhirnya tukang akrobat tersebut sampai ke atap rumah yang lain dengan selamat. Tukang akrobat tersebut bertanya kembali “Apakah anda semua percaya bahwa saya dapat berjalan di atas tali ke atap rumah di seberang sana?” Para penonton dengan gemuruh dan penuh antusiasme menyerukan bahwa mereka percaya. Kemudian tukang akrobat tersebut bertanya kembali “Kalau anda percaya, apakah ada dari antara anda yang mau saya gendong, sambil saya berjalan di atas tali ke atap rumah itu?” Tiba-tiba suasana dicekam oleh keheningan yang dalam, karena semua penonton membisu. Keheningan tersebut kemudian dipecahkan oleh suara anak kecil, yang berteriak “Saya percaya bahwa anda mampu berjalan di atas tali, dan oleh karena itu, saya mau digendong untuk sampai ke atap yang lain.” Dan dengan hati berdebar-debar semua orang menyaksikan pemandangan tersebut, sampai pada akhirnya semuanya bertepuk tangan ketika tukang akrobat dan anak tersebut sampai ke atap rumah yang lain dengan selamat. Setelah pertunjukan tersebut, ada orang yang bertanya kepada anak tersebut “Mengapa kamu percaya sekali kepada tukang akrobat tadi?” Dan dengan tersenyum anak tersebut menjawab “Karena tukang akrobat itu adalah ayahku.”

Inilah perbedaan antara tahu dan percaya. Penonton di atas tahu bahwa tukang akrobat dapat berjalan di atas tali, namun hanya anak tersebut yang benar-benar percaya bahwa tukang akrobat tersebut dapat melakukannya. Kunci dari kepercayaan ini adalah anak tersebut mempunyai hubungan yang baik dengan tukang akrobat, yang adalah ayahnya sendiri. Anak tersebut percaya bahwa ayahnya tidak mungkin berbohong dan bahwa ayahnya tidak akan mungkin mencelakannya.

Kepercayaan yang sama dituntut oleh semua umat beriman, yang telah menjadi anak-anak Allah – karena telah menerima rahmat pembaptisan – dan dapat memanggil Allah dengan sebutan Abba, Bapa (lih. Gal 4:6). Dengan demikian, kalau kita percaya akan Allah yang mengasihi kita, maka sudah seharusnya kita melaksanakan semua yang diperintahkannya (lih. 1Yoh 5:3), karena rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, sehingga rancangan-Nya adalah rancangan yang memberikan hari depan yang penuh harapan (lih. Yer 29:11).

IV. Ajarilah yang engkau percaya dan laksanakan apa yang engkau ajarkan.

1. Kita semua telah diutus

Setelah kita mengerti akan pesan Kristus dan mempercayainya, maka tugas selanjutnya adalah mengemban tugas perutusan dari Kristus. Dikatakan bahwa Kristus mengutus para murid berdua-dua, untuk menyerukan pertobatan, memberikan kesembuhan bagi orang-orang yang sakit, mengusir setan, dan memberitakan Kerajaan Allah (lih. Mk 6:7-13; Lk 10:1-11). Perutusan ini dipertegas dalam amanat agung, di mana Kristus mengatakan “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20)

Kristus mengutus kita untuk menyebarkan kabar gembira kepada semua orang dengan mengutus para murid berdua-dua. Berdua-dua, karena memang Kristus menghendaki kita untuk melayani bersama-sama dalam satu komunitas. Kalau kasih mensyaratkan memberikan diri – yang artinya harus lebih dari satu – maka berdua-dua mengindikasikan bahwa dalam pelayanan, kasih menjadi syarat yang utama. Hanya dengan pelayanan kasih inilah, maka pemimpin dapat melayani umat dengan baik.

2. Kita semua telah dilengkapi Roh Kristus untuk menjadi pewarta

Yesus tidak akan memberikan perintah yang tidak mungkin. Kalau Dia mengatakan bahwa para murid harus mewartakan kabar gembira ke seluruh dunia, maka Dia juga memberikan kepada murid-murid-Nya kemampuan untuk melakukan amanat agung ini. Yesus telah memampukan kita untuk melakukan tugas pewartaan, karena Dia Sendiri telah memberikan Roh Kudus kepada para murid, sehingga para murid mampu untuk mewartakan kabar gembira dengan penuh keberanian dan sukacita, mampu untuk menghadapi penderitaan dengan tabah dan menghadapi segala yang terjadi di dalam hidupnya dengan sukacita, kedamaian, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, pengendalian diri, karena apapun yang dilakukannya senantiasa berdasarkan kasih. Dengan kata lain, pemimpin dalam komunitas Gereja harus menampakkan buah-buah Roh (lih. Gal 5:22-23).

V. Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka dasar kepemimpinan dalam komunitas Gereja adalah kepemimpinan yang menerapkan pesan-pesan Injil Kristus. Dan seseorang harus mempercayai prinsip-prinsip yang tertulis di dalam Injil, sehingga dia juga dapat mewartakannya dengan penuh keyakinan. Dan mewartakan Injil Kristus bukanlah suatu pilihan, namun suatu keharusan, suatu perintah agung yang diberikan oleh Kristus sendiri (lih. Mt 28:19-20). Perintah ini bukanlah perintah yang mustahil, karena Kristus sendiri telah memberikan Roh-Nya, Roh Kudus, yang memampukan seluruh umat beriman untuk menjadi pewarta.

Catatan: artikel di atas ditulis sebagai bahan retret mudika tanggal 25 – 26 September 2010 di Jakarta.

Ditulis oleh Stefanus Tay pada 24 09 10

 

Sumber  :  www.katolisitas.org

Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s