Pemimpin

Seorang pemimpin dilahirkan. Sejak masa mudanya, ia sudah memberikan beberapa gejala yang menjanjikan untuk kelak menjadi seorang pemimpin. Tetapi, ia dan kebanyakan pemimpin lain pada umumnya belum menentukan di bidang apa ia hendak berkiprah. Orang seperti misalnya, Romo Paul Janssen CM, tidak sejak masa mudanya sudah merencanakan bahwa suatu saat ia akan mendirikan dan memimpin sebuah karya besar untuk anak-anak difabel (cacat).

Sejak awal, calon pemimpin tampil sebagai figur yang kritis dan tidak mudah begitu saja tunduk pada otoritas. Sikap ini tidak usah selalu ditafsirkan sebagai perilaku negatif. Pribadi semacam ini memang pengambil risiko yang tidak mudah gentar dengan segala bahaya dan kemapanan. Maka, sejak muda ia cenderung keluar dari zona nyaman, meninggalkan kampung halaman, mencoba dan mengalami pengalaman baru. Bahkan, ia akan segera menciptakan atau setidaknya membentuk lembaga atau karya baru. Dia berpikir, apa yang sudah ada dianggapnya keliru, tidak memuaskan, kurang radikal, sehingga perlu ada pembaruan.

Seorang pemimpin ditandai dalam hal kecermatan membaca pikiran audiens. Ia mampu menjawab dengan cermat apa yang menjadi pertanyaan dan persoalan paling mendasar orang yang hendak menjadi pengikutnya. Tanpa menyentuh kegelisahan paling fundamental ini, ia ibarat hendak membangun rumah tanpa pondasi, dan orang-orang yang hendak digerakkan menuju titik sasaran akan mudah tercerai berai. Pemimpin yang berbakat memang dianugerahi untuk menjelaskan banyak hal dengan mudah yang justru selama ini menggelisahkan banyak orang. Ia menguraikannya dengan menggunakan kata-kata yang tepat dan kena. Lebih dari sekadar katakata, penjelasan terhadap pertanyaan eksistensial dari orang lain itu memang dihayati oleh sang pemimpin sebagai bagian dari hidupnya sendiri.

Pemimpin tidak pernah berlanjut dengan sendirinya. Tidak ada kepemimpinan yang ajeg seakan kebenaran hari ini akan berlaku untuk seterusnya. Untuk itulah semua pemimpin berisiko jatuh dan gagal. Setidaknya, kita menyaksikan bagaimana pemimpin berhasil, kemudian gagal, kembali ke posisi-nya, memperbaiki diri, dan seterusnya. Semua pemimpin dituntut untuk memperbarui diri terus-menerus.

Jika ada seorang berumur 90 tahun masih terus memperlihatkan kepemimpinan yang solid, ia pasti sudah melalui seluruh pergumulan di atas, bahkan lebih dari itu. Dan, orang-orang pun bertanya, apa kunci untuk menerangkan di balik itu semua?

Sebenarnya tidak ada ’kunci’, selain jawaban sederhana ini: ia bisa dipercaya. Hal yang sederhana ini ternyata merupakan hal yang sangat mahal untuk zaman sekarang ini. Banyak orang pandai berorasi, banyak ahli manajemen juga pandai mengajar, tetapi tidak mudah menemukan ’orang yang bisa dipercaya’. Orang seperti Romo Paul Janssen mungkin memiliki kelemahan dan kekurangan – pemimpin memang tidak dituntut sempurna – tetapi ia pasti ’bisa dipercaya’.

 

Sumber  :  http://www.hidupkatolik.com

Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s