Kemampuan Paranormal dalam Terang Iman Kristen

1.      KEMAMPUAN PARANORMAL PADA UMUMNYA

1.1.   Fakta-fakta tentang kemampuan paranormal

Dewasa ini kita semakin disadarkan akan adanya gejala-gejala dan kemampuan-kemampuan paranormal yang begitu merebak dalam dunia dewasa ini, khususnya berkat media massa yang canggih. Gejala-gejala seperti ESP (Extra Sensorial Perception), di mana orang dapat tahu atau mengenal objek-objek lepas dari pancaindera biasa, sehingga orang dapat tahu adanya objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar jangkauan biasa, semakin dikenal orang. Meraga sukma (out of body experience), di mana orang merasa rohnya keluar dari tubuhnya dan dapat melihat serta mengadakan perjalanan tanpa terhambat oleh ruang, juga merupakan kenyataan yang sema-kin diketahui orang. Di samping itu dengan berkembangnya New Age, Reiki, dll, hal-hal seperti itu semakin menggejala dan banyak orang Kristen yang juga ikut terlibat di dalamnya.

Selain itu, kekuatan-kekuatan paranormal pun semakin banyak dicari orang, khususnya di Indonesia. Dengan latihan-latihan tertentu, orang dapat menghasilkan suatu kekuatan atau kemampuan “paranormal”, artinya di luar apa yang disebut normal, yang banyak dipakai untuk pelbagai macam tujuan. Kelompok-kelompok bela diri banyak yang mencari tenaga dalam untuk tujuan bela diri, yang lain lagi mencari kekuatan tersebut untuk pengobatan, untuk dapat menjadi sakti. Kenyataannya memang banyak sekali orang yang bertapa supaya memperoleh kesaktian. Dalam dunia pewayangan Jawa pun, seorang ksatria sering digambarkan se-bagai seorang yang sakti.

Dalam tradisi yoga, kemampuan paranormal yang mereka sebut dengan istilah sidhi itu, memungkinkan orang melakukan hal-hal yang luar biasa, seperti misalnya kekuatan-kekuatan yang dilakukan para fakir, tidur di atas paku, menghilang, penyembuhan, clairvoyanceclair-audience, tenaga-tenaga gaib, kekuatan-kekuatan besar, dll. Juga dalam Budhisme Zen orang mengenal kekuatan atau tenaga tersebut.

1.2.   Kemampuan paranormal: bantuan atau kendala?

Kiranya fakta akan adanya kemampuan atau kekuatan para-normal tidak dapat diragukan lagi. Namun sekarang pertanyaannya: bagaimana sikap kita menghadapi realitas tersebut? Pertanyaan tersebut tentu menghasilkan jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang-nya. Tradisi yoga dan zen mengenal pula kemampuan-kemampuan tersebut, tetapi dengan tegas mereka menolak semuanya itu.

Dalam aliran-aliran tersebut, seperti yoga dan zen, yang mengarah kepada pengalaman rohani yang paling dalam, yang membahagiakan dan mengubah hidup manusia, dengan tegas orang mengesampingkan kemampuan-kemampuan tersebut. Walaupun orang mengalaminya, ia tidak boleh berhenti di situ, melainkan harus mengabaikannya, atau tidak memperhatikannya. Baik dalam yoga maupun dalam zen, sikap orang tegas sekali: mengabaikannya atau tidak memperhatikannya, karena kalau orang berhenti di situ, orang akan terhambat perjalanannya menuju ke puncak.

Dalam yoga kemampuan paranormal itu dipandang sebagai suatu godaan dan orang harus melepaskan diri daripadanya. Melepaskan diri dari kemampuan tersebut memiliki nilai positif, seperti diungkapkan oleh Mircea Eliade dalam buku-nya “Le Yoga“:

“Sebab segera bila seorang yogin mempergunakan kemampuan magik (paranormal) yang diperolehnya lewat latihan-latihannya, segera pula kemungkinan untuk memperoleh kemampuan baru lenyaplah… Orang yang jatuh dalam godaan untuk memakai kemampuan magik itu akhirnya hanya menjadi ‘tukang sihir’ saja, yang tidak mampu lagi mengatasi dirinya sendiri. Hanya suatu penyangkalan baru dan perjuangan yang jaya terhadap godaan magi, akan membawa sertanya suatu ‘perkayaan’ rohani baru bagi si yogin. Menurut Patanyali dan menurut seluruh tradisi yoga klasik, apalagi tradisi metafisik vedantine yang meremehkan semua kemampuan itu, seorang yogin harus memakai pelbagai macam kemampuan itu semata-mata untuk memperoleh kebebasan tertinggi, yakni asam-prajnata samadhi.”

Demikian pula seorang swami kontemporer, Swami Sivananda Sarasvati, dengan tegas menolak penggunaan kemampuan-kemampuan tersebut. Mencari kemampuan itu berarti hambatan besar untuk meditasi atau samadi. Orang biasanya membedakan adanya 9 kekuatan besar yang disebut ridhi, 8 kekuatan penting atau sidhi dan 18 kekuatan minor. Namun kemampuan-kemampuan supranormal itu merupakan hambatan yang amat besar bila orang mengejar atau mencarinya. Semuanya itu, termasuk clairvoyance dan clair-audience, menurut Swami Sivananda tidak layak untuk dicari, sebab tanpa semuanya itu orang akan dapat mencapai iluminasi dan kedamaian yang lebih besar. Sebaliknya bila orang mengejarnya, berarti sekurang-kurangnya ia akan terhambat dan bahkan bisa tersesat.

Tradisi zen pun tidak kalah radikalnya dalam hal ini. Bila seorang berlatih dalam samadi dengan tekun, cepat atau lambat, mereka akan mengalami timbulnya gejala-gejala paranormal. Hal itulah apa yang mula-mula mereka sebut dengan istilah makyo, yang secara harafiah berarti dunia iblis. Dewasa ini, dalam zen orang menerangkan, bahwa itulah perubahan-perubahan fisiologis yang dialami oleh mereka yang dengan tekun melakukan meditasi zen. Dari satu pihak itu bisa menjadi tanda kemajuan, tetapi sebenarnya orang masih jauh sekali dari tujuan. Pengalaman yang bisa diperoleh orang dalam perjalanan itu macam-macam sekali, namun dengan tegas orang harus membuang semua itu. Dari satu pihak, orang tidak usah takut bila mengalami gejala-gejala tersebut, namun dari pihak lain jangan memperhatikan, bahkan harus membuangnya. Dalam hal itu, tradisi zen sangat radikal dan tidak mengenal kompromi, seperti juga dalam yoga.

Di samping makyo, dunia zen juga mengenal apa yang mereka sebut dengan istilah yoriki, yaitu suatu kekuatan atau kemampuan yang besar, yang biasanya dialami orang bila ia semakin berkembang. Dalam zen orang memang mengakui adanya kekuatan itu, tetapi ia memakainya hanya untuk mengarahkan seluruh tenaga dan kekuatan pada pencapaian kensho, dan bukan untuk suatu tujuan lain, yang dipandangnya sebagai hambatan menuju perjalanan tersebut.

2.      Fakta-fakta Paranormal dan Pandangan Kristen

2.1.   Pengenalan supranatural

Dalam sejarah Gereja sepanjang masa kita jumpai banyak orang Kristen yang dengan serius memperkembangkan hidup rohaninya, serta cepat atau lambat mereka mengalami pelbagai gejala paranormal atau supranatural. Orang bisa memperoleh pelbagai pengenalan supranatural lewat pancaindra, baik indra lahir maupun indra batin dan lewat budi. Sebagai ganti istilah pengenalan paranormal, kami lebih suka memakai istilah pengenalan supranatural, artinya melampaui kekuatan kodrati biasa, yang dapat berasal dari Allah atau pun dari sumber lain, misalnya dari roh jahat; dan bukan supernatural, adikodrati, yang dalam pengertian Kristen biasanya dipakai untuk segala sesuatu yang berasal dari Allah.

2.2.   Pengenalan supranatural lewat pancaindra

Yang dimaksud di sini bukanlah pengenalan kodrati biasa, melainkan pengenalan supranatural lewat pancaindra, tanpa ada sumber kodratinya.

Lewat pelihat: orang mungkin melihat orang kudus, malaikat, setan, cahaya cemerlang, peristiwa yang terjadi di tempat lain. Dalam kelompok ini dapat digolongkan apa yang biasanya disebut dengan istilah “clairvoyance”.

Lewat pendengaran: orang mungkin mendengar kata-kata yang luar biasa, kadang-kadang dari pribadi yang menampakkan diri, kadang-kadang tanpa melihat orangnya. Orang juga bisa mendengar suara orang menangis, mengetuk pintu, orang berjalan, atau mendengar namanya dipanggil tanpa ada orangnya yang memanggil, orang dapat mendengar musik yang merdu sekali. Di sini dapat dimasukkan apa yang disebut dengan istilah “clairaudience”.

Lewat pencium: orang dapat mencium bau yang harum atau bau busuk atau bau lain-nya tanpa ada sumber kodratinya.

Lewat perasa: orang dapat merasakan suatu rasa manis atau rasa yang nikmat sekali tanpa ada sumber kodratinya.

Lewat peraba: orang mengalami rasa senang yang besar, kadang-kadang begitu hebatnya, sehingga seluruh tubuh digenangi olehnya. Rasa senang ini biasanya disebut urapan rohani, karena dalam jiwa yang murni hal itu meluap dari roh ke pancaindra. Hal itu sering dialami manusia rohani dan hal itu sesungguhnya merupakan luapan dari roh ke bagian yang lebih rendah.

2.3.   Pengenalan supranatural lewat indra batin

Pengenalan ini mencakup semua yang dapat dimasukkan ke dalam kategori imaginasi dan fantasi: segala macam gambaran, bentuk, rupa. Dalam hal ini orang dapat mengalami penampakan orang kudus, Bunda Maria, atau pun Tuhan Yesus. Semuanya itu dapat disebut dengan istilah visiun imaginer. Bila ia melihat seorang kudus, maka orang kudus itu dilihatnya dalam suatu rupa tertentu, dengan bentuk tubuh, wajah, pakaian, dll. Di samping melihat para kudus, ia juga dapat melihat tempat-tempat tertentu, atau kejadian-kejadian tertentu; bentuknya dapat macam-macam.

2.4.   Pengenalan supranatural lewat budi

Orang juga dapat menerima visiun-visiun secara langsung lewat budi tanpa adanya bantuan pancaindra, baik indra lahir maupun indra batin. Cara penangkapan ini dapat disebut visiun semuanya, sebab apa yang ditangkap budi, seolah-olah dilihatnya. Dalam hal ini dapat kita bedakan 4 macam visiun intelektual:

Visiun dalam arti sesungguhnya: inilah yang diterima budi dan yang menyerupai penglihatan, karena budi dapat “melihat” objek secara rohani, seperti mata melihat secara jasmani.

Wahyu: merupakan kebenaran baru yang diterima budi, seolah-olah seperti orang yang belajar dan menerima pengertian baru.

Sabda: apa yang diterima budi itu serupa dengan apa yang didengar telinga. Orang dapat memperoleh pula pernyataan tentang keadaan seseorang, seperti yang kita jumpai pada orang-orang kudus tertentu, misalnya seperti yang kita lihat dalam hidup pastor Maria Vianney dari Ars.

Rasa rohani: inilah yang diterima orang dengan cara yang serupa dengan indra-indra lain, misalnya bau harum rohani, rasa enak, kesenangan.

Budi menerima pengenalan dari semuanya ini tanpa bantuan pancaindra, tanpa bentuk, tanpa gambaran, tanpa rupa yang berasal dari imaginasi. Cara penangkapan ini bersifat lebih luhur, lebih aman dan lebih menguntungkan serta diberikan secara lebih murni dan halus pada jiwa.

2.5.   Ekstase, bilokasi, levitasi, stigmata

Dalam kehidupan orang Kristen, khususnya pada tokoh-tokoh tertentu, kita jumpai adanya pelbagai macam gejala paranormal. Sejarah spiritualitas Kristiani penuh dengan cerita-cerita tentang hal tersebut.

Ekstase: berasal dari kata ex-stare, keluar dari diri sendiri. Kalau otentik, hal itu pertama-tama merupakan suatu pengalaman rohani yang disebabkan oleh suatu sentuhan rahmat Allah yang besar, sehingga jiwa keluar dari dirinya sendiri. Hal itu terjadi pada kedalaman lubuk jiwanya, namun dapat meluap ke bagian yang lebih luar. Secara fisik badan dapat menjadi kaku, tidak sadar akan keadaan sekitarnya. Gejala-gejala seperti itu kita jumpai umpamanya dalam hidup Santa Teresa Avila, Santo Yohanes Salib dan banyak orang kudus lainnya. Hal yang sama juga kita jumpai dalam hidup Santa Bernadette Soubirous sewaktu mendapat penampakan Bunda Maria, demikian pula dalam hidup para visiuner dari Fatima dan dewasa ini para visiuner dari Medjugorje. Kalau memang otentik hal itu bisa disebabkan, dari satu pihak, oleh kelimpahan rahmat Allah yang diterima si subyek dalam rohnya, tetapi dari pihak lain bisa juga menyatakan kelemahan kodrat manusia yang tidak mampu menerima rahmat tersebut secara normal. Kemudian hari bila ia telah dimurnikan dan dikuatkan serta telah mencapai tingkat persatuan yang lebih tinggi, ia dapat menerima komunikasi Allah tanpa terganggu. Karenanya para kudus, seperti halnya Bunda Maria dan Tuhan Yesus sendiri, pada akhir hidup mereka, setelah mencapai persatuan yang lebih mendalam, tidak lagi mengalami gejala-gejala ekstase, walaupun mereka menerima komunikasi Allah secara lebih melimpah. Namun demikian gejala-gejala lahiriah dalam ekstase ternyata juga dapat ditimbulkan oleh sebab-sebab lain yang bukan dari Allah.

Bilokasi: berada di dua tempat atau lebih pada waktu yang bersamaan. Hal-hal seperti itu kita jumpai dalam kehidupan beberapa orang kudus.

Levitasi: badan terangkat dari atas lantai tanpa sebab kodrati. Pada orang-orang tertentu, seperti halnya dengan ekstase, hal itu disebabkan oleh komunikasi ilahi yang terlalu kuat, sehingga tidak dapat ditanggung oleh badannya yang masih belum dikuatkan secara adikodrati.

Stigmata: orang-orang kudus tertentu, seperti misalnya Santo Fransiskus Assisi dan dewasa ini juga Padre Pio, menerima luka-luka pada tubuhnya serupa dengan luka-luka Kristus sendiri. Pada mereka hal itu disebabkan oleh pengalaman batin yang mendalam, yaitu hati yang telah dilukai oleh cintakasih Kristus dan yang meluap keluar ke dalam tubuhnya.

2.6.   Karismata

Dewasa ini dalam Gereja, khususnya lewat Pembaharuan Karismatik, berkembang apa yang disebut dengan istilah karismata atau karunia-karunia Roh Kudus. Karismata ini, walaupun tidak pernah absen dalam Gereja, dewasa ini secara istimewa berkembang lagi seperti yang terjadi pada abad-abad pertama dan yang belum pernah terjadi lagi sesudah itu dalam sejarah Gereja. Bila pada waktu yang lampau karismata itu hanya kita jumpai pada tokoh-tokoh tertentu, dewasa ini karismata tersebut telah merakyat dalam Gereja, artinya dialami dan diberikan kepada banyak orang Kristen yang “biasa” saja. Karismata itu merupakan anugerah Allah yang tidak tetap, yang diberikan untuk kepentingan bersama. Dalam tradisi Gereja Katolik karismata itu disebut dengan istilah gratia gratis data, yang dibedakan dari gratia sanctificans, rahmat pengudus. Karismata yang dewasa ini muncul dan banyak dialami orang ialah seperti yang disebut-kan dalam 1Kor 12:7-11, yaitu:

Sabda kebijaksanaan: karunia untuk mengerti situasi dengan tepat dan dapat bertindak dengan bijaksana atau memberikan nasihat yang bijaksana.

Sabda pengetahuan: karunia untuk mengerti apa yang saat itu sedang dikerjakan Tuhan dan menyatakannya dengan tepat.

Iman: suatu karunia sesaat yang memberikan keyakinan yang pasti akan suatu hal. Inilah iman yang memindahkan gunung; karunia ini berbeda dengan kebajikan iman.

Penyembuhan: karunia untuk menyembuhkan orang lain lewat iman, bukan dengan kekuatan sendiri atau dengan tenaga dalam, melainkan semata-mata lewat iman.

Mukjizat: karunia mukjizat dapat berupa penyembuhan yang luar biasa, yang tidak dapat diterangkan secara kodrati, namun juga dapat be-rupa hal lain, seperti misalnya perbanyakan roti, berjalan di atas air.

Nubuat: karunia untuk menangkap dan mengerti kehendak Allah, serta menyampaikannya kepada jemaat atau kelompok tertentu.

Membeda-bedakan roh: karunia untuk secara intuitif mengerti roh apa yang menjiwai seseorang. Karunia ini khususnya diperlukan untuk menguji nubuat dan diperlukan pula dalam pelayanan doa, untuk mengerti dengan tepat kebutuhan seseorang.

Bahasa roh: karunia untuk berdoa dan berbicara dalam se-macam bahasa tertentu. Berdoa dalam bahasa roh merupakan suatu bentuk doa yang “ineffable” (tidak dapat dimengerti oleh pikiran), semacam kontemplasi awal.

Karunia tafsiran: karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu bagi jemaat yang berkumpul.

Santo Paulus menegaskan, bahwa karismata-karismata tersebut bukanlah tujuan yang harus dikejar, melainkan harus dipandang sebagai sarana pelayanan. Kita harus berusaha memperoleh karunia-karunia itu demi pelayanan Kristiani kita, supaya dapat melayani umat Allah dengan lebih baik dan lebih efektif. Karismata juga bukan tanda kesucian seseorang, dan karena itu harus dipergunakan dengan rendah hati dalam cintakasih.

2.7.   Istirahat dalam Roh (Resting in the Spirit)

Suatu gejala baru yang timbul akhir-akhir ini bersama dengan Pembaharuan Karismatik, ialah apa yang disebut dengan istilah resting in the Spirit, atau istirahat dalam Roh. Gejala-gejala ini timbul dan dialami, baik dalam kalangan Gereja Katolik maupun orang-orang Protestan. Di kalangan orang Protestan biasanya disebut dengan istilah slain in the Spirit, coming under the power. Dewasa ini hal itu merupakan suatu gejala yang agak umum dan dialami di mana-mana, walaupun sudah ada presedennya dalam sejarah.

Gejala istirahat dalam Roh itu biasanya terjadi pada waktu orang didoakan oleh orang lain dengan penumpangan tangan. Kadang-kadang gejala tersebut bisa pula terjadi dalam suatu pertemuan doa tanpa ada penumpangan tangan oleh orang lain, namun ada suasana doa yang khusuk. Bila seseorang didoakan oleh orang-orang tertentu atau dalam suasana tertentu, seringkali terjadi, bahwa orang yang didoakan itu merasa badannya lemas atau tak berdaya dan akhirnya jatuh serta mengalami gejala seperti orang pingsan, namun orang itu tetap sadar. Dalam keadaan seperti itu ia tetap sadar—mendengar segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, namun ketika ia mau bangun, sepertinya ia tidak lagi bertenaga. Orang dapat berada dalam keadaan seperti itu selama beberapa menit sampai beberapa jam, walaupun yang terakhir ini jarang terjadi, sesuai dengan keadaan masing-masing. Ada macam-macam faktor yang menyebabkannya, namun bila otentik, hal itu dapat merupakan suatu bentuk karya Roh Kudus. Dalam keadaan seperti itu Roh Kudus melaksanakan penyembuhan-penyembuhan dan pembaharuan fisik, batin dan rohani. Sesudah bangun kembali, orang biasanya mengalami sukacita dan damai yang mendalam dan orang yang baru pertama kali mengalami hal itu, biasanya akan mengalami perubahan hidup yang menyolok. Tidak jarang kita melihat adanya pertobatan-pertobatan besar yang terjadi lewat peristiwa tersebut, walaupun banyak juga pertobatan yang terjadi tanpa gejala itu. Rupanya gejala itu merupakan salah satu bentuk intervensi Roh Kudus untuk zaman ini, walaupun kita harus senantiasa waspada, sebab gejala itu dapat disebabkan oleh banyak faktor lain. Karena itu selalu dibutuhkan sikap yang terbuka, namun tetap waspada, dibutuhkan discernment yang sungguh-sungguh.

3.      KEMAMPUAN SUPRANATURAL

3.1.   Realitas kemampuan supranatural

Dengan berkembangnya karismata-karismata, tumbuh dan berkembang pula kemampuan-kemampuan supranatural, suatu kemampuan yang tumbuh dari iman, seperti umpamanya kemampuan untuk mengusir setan, mematahkan ikatan-ikatan tertentu, guna-guna, dll. Suatu kesaksian yang menarik diberikan oleh seorang mantan suhu yang dahulunya Katolik dan yang punya kekuatan-kekuatan paranormal. Suatu ketika ia menghadiri suatu upacara penyembuhan di suatu tempat. Menurut kebiasaannya bila menghadiri pertemuan semacam itu, ia mencoba kekuatan si penginjil yang mendoakan penyembuhan. Coba punya coba ia merasa, bahwa kekuatannya mental di hadapan kuasa yang dimiliki si penginjil tadi. Pada saat itulah ia menyadari, bahwa kuasa si penginjil tadi jauh lebih besar dari segala kekuatan paranormalnya. Maka tersentuh oleh rahmat, akhirnya ia bertobat dan membuang segala kekuatan paranormalnya untuk membuka diri bagi kuasa Allah sendiri.

Suatu pengalaman lain juga cukup menarik. Suatu ketika ada seorang ibu yang tekun melakukan Doa Yesus secara teratur tiap hari. Dia mempunyai seorang putra yang belajar bela diri dan mengembangkan tenaga dalam. Suatu ketika guru anak itu berkunjung ke rumahnya dan ketika bertemu dengan ibu tadi kemudian mengatakan kepada anaknya, bahwa ibunya punya tenaga dalam yang besar. Anak tadi yang ingin membuktikan kebenaran kata-kata gurunya, mengajak ibunya untuk adu kekuatan. Karena terus-menerus didesak oleh anaknya, akhirnya ibu itu menyetujui usul anaknya. Ia disuruh oleh anaknya duduk sila seperti kebiasaannya kalau melakukan Doa Yesus dan anak itu akan menyerang dia dengan tenaga dalamnya. Kemudian pada waktu diserang ia harus merentangkan tangan ke depan dengan tapak tangan terbuka ke depan seperti menolak sesuatu. Ketika diserang ibu itu merentangkan tangannya ke depan dan ternyata anak itu terpelanting sendiri tanpa ada kontak fisik. Hal itu terjadi sampai tiga kali dan setiap kali anak itu memang terpelanting jatuh, sehingga akhirnya ia mengakui kelebihan ibunya.

Kesaksian lain diberikan oleh seorang frater kami yang biasa membimbing Doa Yesus. Suatu ketika ia diundang untuk mengajar tentang doa Yesus pada sekelompok muda-mudi yang belajar bela diri. Waktu itu mereka mengadakan semacam pertemuan dan rencananya malam hari dan keesokan harinya mereka akan diajar Doa Yesus. Sore harinya ada demonstrasi dari gurunya tentang kekuatan tenaga dalam yang dapat mematahkan kikir baja. Dengan sekali hantam kikir baja itu patah. Tiba-tiba dalam hati frater tersebut timbul suatu reaksi dan tanda tanya, “Tuhan kekuatan apakah itu? Kalau bukan daripada-Mu, hindarkanlah itu.” Ketika guru itu mau memberikan demonstrasi untuk kedua kalinya, sambil konsentrasi dan memandang pertunjukan tersebut frater kami itu menyerukan nama Yesus dalam hati: “Yesus, Yesus.” Ketika guru itu menghantam kikir tersebut, ternyata dia gagal dua kali berturut-turut. Melihat hal itu frater tersebut sadar, bahwa ia telah mengganggu pertunjukan tersebut dan membuat malu guru tadi. Maka ia menghentikan doanya dan setelah itu, ketika untuk ketiga kalinya guru itu menghantam kikir tersebut, patahlah kikir tersebut.

Hal yang menarik ialah pengalaman seorang gadis yang baru saja mengikuti Retret Awal di Cikanyere. Suatu hari gadis tersebut bersama dengan seorang teman lain yang juga sudah ikut Retret Awal di Cikanyere, diminta menghantarkan temannya pergi ke seorang dokter yang juga melakukan pengobatan dengan kekuatan paranormal. Ketika temannya berada dalam ruang praktek dokter itu, gadis tadi menanti di luar. Sambil melihat-lihat gambar yang ada di ruang tunggu, ia berdoa dengan menyerukan nama Yesus perlahan-lahan dan dengan suara halus. Tiba-tiba dokternya keluar dari kamar sambil marah-marah terhadap gadis tersebut, karena merasa terganggu olehnya, padahal gadis tadi hanya menyerukan nama Yesus dan itupun hanya dengan suara perlahan-lahan, tanpa maksud mengganggu sama sekali. Mengapa dokter itu harus merasa terganggu?

Kecuali itu para suster di Ngadireso dan para frater di Cikanyere seringkali diminta orang untuk melakukan doa pembebasan bagi orang-orang yang diganggu roh jahat atau yang kena guna-guna dan semuanya menjadi bebas setelah didoakan dalam nama Yesus. Kuasa jimat-jimat pun dihancurkan dalam nama Yesus Kristus.

Dari semua fakta tersebut kiranya dapat disimpulkan, bahwa kuasa Tuhan yang diberikan kepada orang beriman sebagai karunia bebas dari Allah, jauh lebih besar daripada kekuatan-kekuatan lain yang diperoleh lewat jalan lain. Kuasa itu jauh lebih besar daripada yang dimiliki para ahli sihir yang punya kekuatan luar biasa, seperti yang kita lihat dalam Kitab Keluaran, di mana kuasa Musa mengalahkan kuasa para ahli sihir (Kel 7:10-12). Hal yang sama kita jumpai pula di Samaria, di mana ada se-orang ahli sihir yang mempesona umat waktu itu. Tetapi setelah mereka melihat kuasa Tuhan lewat Filipus yang ternyata lebih besar daripada kuasa Simon itu, mereka meninggalkan segala kesia-siaan tersebut dan berpaling kepada Tuhan. Bahkan Simon sendiri terkagum-kagum oleh kuasa Tuhan yang dinyatakan lewat Filipus (Kis 8: 6-13). Karunia itu diberikan semata-mata karena iman, bukan karena latihan-latihan tertentu. Karena itu amatlah menyesatkan, bila orang mengatakan, bahwa tenaga dalam itu adalah karunia Roh Kudus, seperti yang kadang-kadang kita dengar dinyatakan dalam ke-lompok tertentu.

3.2.   Kemampuan untuk menyembuhkan

Yang banyak berkembang dewasa ini ialah adanya penyembuhan-penyembuhan, baik di kalangan orang Kristen, maupun non-Kristen. Dalam hal itu dapat dibedakan dua jenis penyembuhan: yang satu dengan kekuatan paranormal dan yang lain dengan kuasa iman akan Yesus Kristus yang merupakan salah satu karisma Roh Kudus. Rupanya dua jenis penyembuhan itu mempunyai perbedaan yang amat besar dalam sumber dan caranya maupun dalam efeknya. Literatur tentang penyembuhan itu sudah banyak sekali. Untuk maksud dan tujuan kita, saya hanya akan memberikan ringkasan tentang sumber dan efek penyembuhan Kristiani.

3.2.1. Sumber dan cara penyembuhan Kristiani

Kuasa penyembuhan itu berasal dari iman semata-mata dan disadari sebagai karunia Roh Kudus.

Untuk memperoleh karunia tersebut orang tidak usah melatih diri dalam tenaga dalam dan karenanya dapat diterima oleh orang yang tidak memiliki tenaga dalam.

Bila orang berdoa untuk penyembuhan dalam iman, orang sadar, bahwa yang menyembuhkan bukanlah dia, melainkan Tuhan sendiri.

Sebelum orang berdoa untuk penyembuhan, orang tidak memiliki kepastian, apakah orang yang didoakan akan sembuh atau tidak, walaupun penyakitnya hanya ringan saja. Orang tidak dapat berkata, karena penyakitnya hanya ringan saja, pasti sembuh atau sebaliknya karena penyakitnya parah, tidak dapat sembuh. Kepastian baru diperoleh dalam doa itu sendiri, entah itu penyakit yang ringan atau pun berat.

Bagi orang yang beriman ada keyakinan, bahwa tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya. Karena itu penyakit apa pun dapat disembuhkan lewat iman.

Dalam perayaan penyembuhan komuniter seringkali penyembuhan terjadi tanpa penumpangan tangan atau sentuhan fisik lainnya. Seringkali bahkan penyembuhan terjadi sewaktu orang memuji dan memuliakan Tuhan.

3.2.2. Efek penyembuhan Kristiani

Penyembuhan Kristiani tidak hanya terbatas pada penyembuhan fisik belaka, melainkan juga menjangkau penyembuhan batin dan rohani.

Penyembuhan Kristiani merupakan tanda keterlibatan Allah dalam hidup orang yang menderita, merupakan tanda cintakasih Allah yang konkrit.

Bila seorang mengalami penyembuhan seperti itu, entah itu lewat seseorang, atau lewat suatu tim pendoa, atau lewat suatu perayaan penyembuhan komuniter, orang sadar, bahwa Tuhanlah yang menyembuhkan dan karena itu biasanya orang memuji dan memuliakan Tuhan untuk penyembuhan tersebut. Orang itu tidak akan berkata: “Wah, orang itu hebat”, melainkan akan bersyukur dan memuji Tuhan yang telah menyembuhkan dia dan yang berkenan memakai pendoa itu.

Penyembuhan seperti itu menyadarkan orang, bahwa Allah sungguh hidup dan terlibat dengan kita, sehingga biasanya membawa pertobatan dan perubahan hidup yang mendalam. Bagi banyak orang penyembuhan seperti itu merupakan perjumpaan konkrit yang pertama dengan Allah yang hidup, yang selanjutnya mempengaruhi hidupnya.

Karena itu karunia penyembuhan merupakan sarana evangelisasi yang efektif, karena mewartakan kehadiran Allah yang Mahakasih dan yang memperbarui hidup manusia.

Suatu hal yang menarik dalam penyembuhan Kristiani ialah, bahwa orang yang mendoakan penyembuhan tidak merasa tenaganya terkuras. Orang dapat berdoa berjam-jam lamanya tanpa tenaganya terkuras. Di samping itu, kuasa iman sungguh tidak terbatas dan dapat menyembuhkan penyakit apa saja. Bila orang mempergunakan karunia penyembuhan itu dengan baik, hubungannya dengan Tuhan justru akan semakin berkembang dan semakin hari ia akan semakin berkembang dalam iman, harapan dan cintakasih.

3.3.   Bahaya kuasa kegelapan

Dalam menggeluti kemampuan paranormal itu mau tidak mau kita akan berjumpa dan berhadapan dengan kuasa kegelapan dalam segala bentuknya. Di Eropa dan Amerika Serikat pemujaan setan yang dahulu dilakukan secara tersembunyi, kini dilakukan dengan terang-terangan, tanpa hambatan lagi. Munculnya pemujaan setan yang dilakukan dalam The Church of Satan sudah menggejala. Karena itu dewasa ini kebutuhan akan pelayanan doa pembebasan dari kuasa kegelapan semakin terasa, sudah merupakan suatu fenomena global. Sungguh menarik, bahwa sebuah buku tentang Sakramen Tobat yang ditulis oleh seorang teolog Perancis kontemporer, memberikan tempat yang luas tentang doa pembebasan dari gangguan roh jahat. Doa pembebasan dari gangguan roh jahat mendapat perhatian yang luas, baik di Amerika Serikat maupun di Eropa. Diterbitkannya sebuah buku oleh seorang eksorsis resmi dari kota Roma yang menceriterakan pengalamannya sebagai eksorsis, cukup menarik perhatian. Teolog Perancis terkenal Rene Laurentin juga menulis sebuah buku yang membahas realitas roh jahat serta doa pembebasannya secara panjang lebar. Selanjutnya masih banyak sekali literatur yang ditulis tentang realitas roh jahat dan doa pembebasan, karena fakta tentang orang yang dirasuki roh sungguh sudah menggejala.

Kalau gejala kerasukan dan terganggu roh jahat sudah menggejala di Eropa dan Amerika Serikat, demikian pula halnya di Indonesia. Dalam pelayanan kami gejala-gejala seperti itu sering kali kami jumpai, baik dalam diri orang-orang dewasa maupun anak-anak muda. Seringkali kami harus melayani orang yang diganggu oleh roh jahat atau kuasa kegelapan dalam pelbagai tingkatannya. Dalam pelayanan itu kami juga sering berjumpa dengan kasus gangguan roh jahat karena yang bersangkutan bermain-main dengan kuasa kegelapan, entah lewat bentuk-bentuk perdukunan, penyembuhan paranormal, atau pun lewat kelompok bela diri tertentu karena mencari kesaktian. Cukup sering kami jumpai anak-anak muda yang diganggu roh jahat karena mereka itu ikut kelompok bela diri tertentu, rupanya karena mereka diisi oleh gurunya.

Umumnya mereka itu terpikat oleh daya tarik tenaga dalam yang memberikan kesaktian kepada mereka. Untuk menjadi unggul dalam pencak silat, mereka ingin memperoleh kekuatan yang lebih besar dan tidak jarang mereka justru jatuh dalam cengkeraman kuasa kegelapan. Suatu saat kami mengadakan retret karismatik yang diikuti anak-anak muda. Ketika diadakan doa-doa selama retret itu, gejala-gejala kerasukan itu muncul dalam diri beberapa anak muda dan setelah ditangani ternyata, bahwa mere-ka itu semuanya berasal dari suatu perguruan yang sama. Juga tidak jarang, bahwa kami harus mengadakan doa pembebasan untuk orang-orang yang telah pergi ke tokoh-tokoh paranormal untuk penyembuhan.

3.4.   Jalan kelepasan, tuntutan cintakasih

Setelah mengadakan survey dalam pelbagai macam bidang yang ada hubungannya dengan gejala paranormal, kiranya haruslah dikatakan, bahwa kemampuan paranormal itu dari satu pihak merupakan gejala yang umum sekali, namun dari pihak lain juga amat terbatas dan mengandung bahaya yang amat nyata. Kemampuan paranormal yang bukan berasal langsung dari Tuhan, mengandung banyak risiko. Memang orang dapat memperkembangkannya secara natural, secara alami lewat latihan-latihan tertentu, namun kemampuan paranormal yang alami itu sangat terbatas dan juga mengandung godaan yang besar sekali, sehingga hampir-hampir tidak ada orang yang mengembangkan kemampuan tersebut tanpa jatuh ke dalam godaan kuasa kegelapan. Karena banyak orang yang memakai kekuatan itu untuk pelbagai macam tujuan, maka tidak jarang terjadi benturan di antara para pemakainya. Misalnya seorang yang melepaskan orang lain dari gangguan guna-guna dengan kemampuan paranormal, akan berhadapan dengan orang yang mengirim guna-guna tersebut. Karena itu ia mudah sekali tergoda untuk mencari perlindungan dalam kekuatan yang lebih besar, yang biasanya bermuara dalam kuasa kegelapan. Kecuali itu godaan kesombongan yang menghambat kehidupan Kristiani kita juga sangat nyata dan besar sekali. Sebaliknya bila guna-guna itu dilepaskan dan dipatahkan oleh kuasa iman dalam nama Yesus Kristus, kuasa itu akan hancur.

Kuasa penyembuhan yang berasal dari karunia Roh Kudus jauh lebih besar daripada yang berasal dari kemampuan paranormal semata-mata. Kecuali itu juga lebih aman, karena kuasa itu untuk dapat berkembang, justru menuntut kerendahan hati dan tidak mengaburkan tujuan hidup Kristiani kita yang luhur sekali. Karena itu sebagai seorang Kristen kita harus kembali kepada tujuan pokok kita, yaitu persatuan dengan Tuhan. Apakah gunanya bagi manusia bila ia memiliki seluruh dunia, tetapi kehilangan jiwanya? Apakah guna-nya bagi manusia bila ia memiliki kekuatan paranormal yang besar, tetapi terpisah dari Tuhan? (bdk. Mat 16:26) Menyadari tujuan hidup kita yang luhur dan mengejar-nya dengan segenap hati adalah jauh lebih bermanfaat bagi kita dan bagi mereka yang harus kita layani. Kita harus melihat segala gejala dan kemampuan paranormal dalam perspektif tujuan akhir kita. Dalam hal ini kita harus kembali berpaling kepada Santo Yohanes dari Salib yang menunjukkan kepada kita cita-cita yang amat luhur dan jalan yang aman. Cita-cita hidup kita yang luhur dan mahaindah itu tak pernah boleh lepas dari pandangan mata kita.

Menghadapi keindahan dan kemuliaan puncak gunung yang demikian besarnya, Santo Yohanes ingin mengajak kita untuk mendakinya tanpa ayal. Ia adalah seorang pembimbing yang telah sampai di puncak dan ia ingin membawa kita ke sana, di mana telah disediakan begitu banyak karunia yang luar biasa bagi kita oleh Allah sendiri, karunia yang begitu indah dan yang memberikan kebahagiaan yang tidak terperikan. Di hadapan semuanya itu segala sesuatu yang lain tampak pudar, demikian pula segala kuasa dan pengalaman paranormal.

Dalam sketsa Mendaki Gunung Karmel kita lihat gambaran tentang tiga jalan yang menuju ke puncak. Yang pertama ialah yang ingin menikmati kesenangan-kesenangan dan barang-barang duniawi yang akhirnya menuju jalan buntu. Jalan yang kedua ialah yang ingin menikmati dan memakai perkara-perkara rohani, termasuk kekuatan paranormal, yang akhirnya juga sampai pada jalan buntu pula. Jalan yang ketiga ialah jalan kekosongan: nada, nada, nada (kosong, kosong, kosong). Jalan ini ialah jalan kelepasan yang menuju ke puncak. Hanya lewat jalan inilah orang akan sampai ke puncak.

Secara radikal sekali Santo Yohanes menuntut kelepasan. Segala sesuatu harus dilepaskan demi cinta kepada Allah. Untuk dapat sampai kepada kesatuan cintakasih dengan Allah yang luhur itu, orang harus melepaskan segala sesuatu dan memasuki apa yang disebutnya dengan istilah malam gelap, yang bukan lain daripada pengosongan diri dalam segala bidang. Bagi Santo Yohanes Salib, kekuatan-kekuatan paranormal termasuk salah satu bidang yang juga harus ditinggalkan, bila orang ingin sampai ke puncak. Di sini harus segera dikatakan, bahwa pengosongan itu tidak mungkin, bila orang tidak lebih dahulu ditarik oleh suatu tarikan yang lebih kuat, yaitu tarikan cinta kepada Allah yang mulai membakar hatinya. Hanya cinta inilah yang memberikan kekuatan kepadanya untuk melepaskan segala sesuatu demi Allah, termasuk macam-macam visiun, apalagi kemampuan paranormal.

Mengapa kita harus melepaskan semuanya itu? Tujuannya ialah agar kita tidak terhambat dan tetap terbuka untuk menerima karunia yang lebih besar dan lebih luhur. Bukanlah maksud Santo Yohanes Salib supaya kita dengan takut atau tegang membuang semuanya itu, tetapi agar kita tidak memperhatikannya, tidak lekat padanya. Jadi sikap yang tepat ialah sikap lepas bebas, tidak terikat olehnya. Itu semua berlaku untuk segala bentuk visiun, wahyu, pernyataan, sabda, kecuali beberapa hal yang sudah termasuk dalam persatuan itu sendiri, seperti umpamanya sabda substansial. Alasannya ialah:

Allah menghasilkan efeknya di dalam jiwa pada saat pernyataan itu diberikan, tanpa dapat dirintangi oleh manusia.

Dengan bersikap demikian, kita menghindari bahaya tipuan si iblis, dan tidak usah berjerih payah membedakan mana yang dari Allah, mana yang bukan. Seringkali hal itu sukar dilakukan dan juga banyak membuang tenaga, waktu serta menimbulkan banyak kerugian lainnya.

Dengan sikap ini kita sama sekali tidak menghina Allah. Justru sebaliknya, karena bagi Allah yang penting ialah buahnya. Maka dengan sikap ini orang hanya mengambil dari pernyataan-pernyataan terse-but apa yang dikehendaki Tuhan, yaitu semangat devosi, iman dan cintakasih, sebab justru untuk itulah pernyataan-pernyataan tadi diberikan.

Namun jalan pengosongan itu bukanlah jalan yang negatif, melainkan meninggalkan sesuatu yang kurang berharga untuk memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga. Dalam hal ini pun berlaku sabda Tuhan Yesus, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya dan segala yang lain akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:34). Karena itu pula kita mau seperti pedagang yang mencari mutiara berharga. Setelah menemukannya, dengan gembira dia menjual segala miliknya untuk membeli mutiara tersebut, karena dia tahu, bahwa nilai mutiara itu jauh lebih besar daripada semua yang dimilikinya. Seperti digambarkan oleh Santo Yohanes Salib, juga dalam sketsanya tentang Mendaki Gunung Karmel: Karena aku tidak menginginkannya, semuanya itu diberikan kepadaku tanpa keinginan (maksudnya tanpa kelekatan) dan karenanya tidak mengganggu hubungan kita dengan Allah.

Written by Rm. Yohanes Indrakusuma O.Carm

Tinggalkan komentar

Filed under Oase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s